Di Ujung Jalan Panjang Liga Europa: Jika MU Tidak Juara, Apa yang Tersisa?

Bagi Ruben Amorim, final Liga Europa bukan hanya tentang trofi. Ini adalah momentum untuk mengubah cara pandang publik terhadap dirinya dan klub.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 20 Mei 2025, 14:46 WIB
Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, memberi isyarat di samping Mason Mount saat pertandingan semifinal leg kedua Liga Europa antara Manchester United dan Athletic Bilbao, Kamis, 8 Mei 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Liputan6.com, Jakarta Manchester United tiba di ujung jalan panjang di Liga Europa. Di San Mames, Kamis dini hari nanti, satu laga akan menentukan segalanya. Lawan mereka, Tottenham, juga tidak akan datang hanya untuk menjadi penonton.

Bagi Ruben Amorim, final ini bukan sekadar tentang trofi. Ini adalah momentum untuk mengubah cara pandang publik terhadap dirinya dan klub. “Para fans butuh kemenangan ini. Mereka akan melihat pelatih dengan cara yang berbeda karena ini berarti tiket ke Liga Champions,” tegasnya, seperti dilansir UEFA.com.

Laga ini bukan soal estetika atau gaya bermain semata. “Pertandingan seperti ini harus dimenangkan, dan jika tidak, tak ada yang tersisa selain kesedihan,” ujar Amorim. Kalimat itu seakan jadi mantra dalam duel penuh tekanan yang akan datang.


Amorim: Dari Penonton Liga Italia ke Panggung Eropa

Ruben Amorim menjadi pelatih The Red Devils kedua yang memenangkan derby Manchester Liga Inggris dalam jabatan pertamanya. Catatan pertama dipegang mantan manajer legendaris klub Sir Alex Ferguson. (Paul ELLIS/AFP)

Datang menggantikan Erik ten Hag di tengah musim, Ruben Amorim sempat terseok-seok mengenal kerasnya sepak bola Inggris. Namun, di Liga Europa, dia menunjukkan bahwa dirinya bisa mengangkat tim ini di momen yang tepat. Sekarang, dia tinggal selangkah lagi dari sejarah.

Inspirasi kepelatihannya datang dari banyak arah. “Saya banyak belajar dari menonton sepak bola. Jorge Jesus sangat memengaruhi saya, lalu Cruyff juga. Bermain dengan tiga bek berasal dari filosofi Cruyff, dikombinasikan dengan cara bertahan ala Italia,” katanya.

Amorim bahkan mengaku meniru langkah Jose Mourinho saat membentuk skuadnya di Sporting. “Saya tipe pelatih yang suka membangun ikatan. Mourinho membawa itu ke sepak bola – sebuah ikatan. Saya rasa semua pelatih banyak belajar dari dia,” ujarnya.


Amorim dan Hubungan Personal yang Membangun Kekuatan

Pelatih Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim (kanan), menyaksikan penyerang Manchester United asal Belanda #11, Joshua Zirkzee (kiri), meninggalkan lapangan setelah digantikan oleh gelandang Manchester United asal Inggris #37, Kobbie Mainoo, selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Manchester United dan Newcastle United di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, Selasa dini hari WIB (31-12-2024). (Darren Staples/AFP)

Amorim bukan tipe pelatih yang kaku dan penuh konfrontasi. “Saya mencoba berlaku adil dan tidak lari dari keputusan sulit. Saya belajar dari pelatih yang saya sukai saat masih bermain. Kejujuran itu penting,” tuturnya dengan lugas.

Baginya, kunci utama adalah membangun koneksi dengan para pemain. “Kalau tidak ada hubungan antar manusia, Anda tidak punya apa-apa. Saya bukan orang yang dingin. Saya bisa membantu mereka di luar lapangan, tapi ketika waktunya bekerja, saya berbeda,” jelasnya.

Lanjut Baca:

Amorim tahu kapan harus bertindak tegas. “Saya bisa menjadi teman mereka, tapi jika harus, saya akan mengambil keputusan sulit. Saya bisa mencoret pemain. Saya bisa melepas mereka,” tambahnya. Dia tegas, tapi tetap manusiawi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya