4 Tim yang Pernah Mengalahkan Pep Guardiola di Partai Final: Real Madrid hingga Crystal Palace

Pep Guardiola dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang masa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Guardiola sering kalah di partai final.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 19 Mei 2025, 12:45 WIB
Reaksi pelatih Manchester City, Pep Guardiola saat laga babak 16 besar Liga Champions 2022/2023 antara Manchester City melawan RB Leipzig di Stadion Etihad, Manchester pada 14 Maret 2023. Total pengeluarannya sebagai seorang pelatih mencapai angka 1,44 miliar euro untuk membeli pemain di bursa transfer. Jack Grealish menjadi pembelian termahal Guardiola setelah dibeli seharga 117,5 juta euro dari Aston Villa. (AFP/Oli Scarff)

Liputan6.com, Jakarta Pep Guardiola dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang masa. Ia sukses besar bersama Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Guardiola sering kalah di partai final. Catatan kemenangannya menurun drastis sejak awal kariernya.

Dalam 13 tahun pertama, Guardiola hanya kalah satu kali di final. Tapi dalam empat tahun terakhir, kekalahan di final mayor datang tiga kali.

Terdapat empat tim yang pernah mengalahkan Guardiola di final penting. Mereka adalah lawan-lawannya yang menorehkan sejarah berbeda.

Berikut ini adalah empat tim yang sukses mengalahkan Pep Guardiola di final mayor dalam sepanjang kariernya seperti dilansir Planet Football.

 


1. Real Madrid

Jude Bellingham (kanan) merayakan gol kedua Real Madrid ke gawang Sevilla dalam lanjutan Liga Spanyol 2024/2025 di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Senin (19/5/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Jose Breton)

Real Madrid menggagalkan ambisi treble kedua Guardiola dalam tiga tahun. Mereka menang di final Copa del Rey 2011 yang panas di tengah rangkaian empat El Clasico dalam 18 hari.

Barcelona tetap menjadi juara La Liga dan Liga Champions musim itu. Namun, sundulan Cristiano Ronaldo di babak tambahan memberi Madrid gelar Copa del Rey.

Meski Barca meraih dua trofi utama, kemenangan Madrid jadi penegasan kekuatan mereka. Guardiola dan Jose Mourinho pun terlibat perang komentar usai laga karena keputusan offside yang kontroversial.


2. Chelsea

Pemain Chelsea merayakan kemenangan mereka usai mengalahkan Manchester City dalam pertandingan final Liga Champions di Porto pada 29 Mei 2021. (AFP/Pool/Susana Vera)

Chelsea mengalahkan Manchester City 1-0 di final Liga Champions 2021. Kekalahan ini jadi yang pertama bagi Guardiola dalam 10 tahun setelah selalu menang di final besar.

Sebelumnya, Guardiola sukses di berbagai ajang bersama Barcelona, Bayern, dan City. Namun, keputusannya tidak menurunkan Rodri atau Fernandinho jadi sorotan utama.

Gol tunggal Kai Havertz membawa Chelsea meraih kemenangan bersejarah di Porto. Keputusan taktik Guardiola masih dipertanyakan hingga kini.


3. Manchester United

Tim putri Manchester United mengangkat trofi juara Women's FA Cup, setelah mengalahkan Tottenham Hotspur dalam laga final di Wembley, 12 Mei 2024. (Adrian DENNIS / AFP)

Manchester City tampil dominan di Premier League 2023/2024 dan meraih gelar keempat beruntun. Arsenal harus puas jadi penonton saat rivalnya menang sembilan laga terakhir.

Namun, fokus City mulai goyah di ajang lain. Manchester United datang ke final Piala FA dengan semangat besar setelah menyingkirkan Liverpool dan Coventry.

Setahun setelah kalah dari City di final yang sama, United tampil lebih siap. Gol dari Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo memastikan kemenangan, meski City sempat membalas lewat Jeremy Doku.


4. Crystal Palace

Kiper Crystal Palace, Dean Henderson merayakan kemenangan timnya atas Manchester City dalam laga final Piala FA 2024/2025 di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (17/05/2025) waktu setempat. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Crystal Palace membuat kejutan terbesar sejauh ini dengan menjuarai Piala FA 2025. Mereka mengalahkan Manchester City yang sebelumnya hanya pernah kalah di final dari tim-tim besar seperti Real Madrid, Chelsea, dan Manchester United.

Pasukan Oliver Glasner tampil luar biasa dengan pertahanan kokoh dan gol tunggal dari Eberechi Eze. Mereka juga dibantu keberuntungan, termasuk penyelamatan penalti dan keputusan wasit yang menguntungkan Dean Henderson.

Guardiola mengambil keputusan aneh dengan memainkan Claudio Echeverri di laga sepenting ini. Usai pertandingan, ia mengucapkan selamat kepada Palace dan menyebut kekalahan ini sebagai bagian dari sejarah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya