Deretan Kasus Keracunan MBG Sejak Diluncurkan pada Januari 2025

Penyebab pertama keracunan MBG karena adanya kontaminasi awal bahan pangan. Menurutnya, ada sumber kontaminasi pada bahan mentah atau saat pengolahan.

oleh Nila Chrisna YulikaDiperbarui 16 Mei 2025, 17:45 WIB
Diduga mengalami keracunan, puluhan pelajar kelas 7 dan 8 ini langsung dilarikan ke Rumah Sakit Sentosa oleh pihak sekolah lantaran mengeluh pusing, mual dan muntah. (Foto:Liputan6/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengungkap kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 6 Januari hingga 12 Mei 2025, tercatat 17 kejadian luar biasa yang tersebar di 10 provinsi.

“Menurut data yang kami miliki, ada 17 kejadian luar biasa keracunan pangan terkait dengan program MBG di 10 provinsi yang telah teridentifikasi,” ungkap Taruna Ikrar saat rapat bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (15/5/2025).

Ikrar menjelaskan, penyebab pertama keracunan MBG karena adanya kontaminasi awal bahan pangan. Menurutnya, ada sumber kontaminasi pada bahan mentah atau saat pengolahan.

Penyebab kedua yaitu pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Kondisi ini dipengaruhi dari suhu, kondisi makanan, dan proses pengolahan.

Penyebab selanjutnya karena kegagalan pengendalian keamanan pangan yang berhubungan dengan higienitas dan sanitasi.

Berikut deretan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG):

Bogor: Korban Mencapai 214 Siswa

Jumlah keracunan diduga akibat mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG) di Kota Bogor, Jawa Barat, mencapai 214 orang. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengungkapkan penambahan kasus keracunan ini setelah Pemerintah Kota Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 8 Mei 2025.

Status ini sebagai langkah cepat penanganan dan jaminan pembiayaan medis korban di rumah sakit ditanggung APBD dari sumber anggaran biaya tidak terduga (BTT).

"Jadi memang sebelumnya ada keraguan (korban), karena ada yang tidak punya BPJS dan asuransi, jika dibawa ke rumah sakit siapa yang membiayai. Makanya ditetapkan KLB supaya siapa pun yang terdampak, terindikasi keracunan, berobat ke rumah sakit," kata Dedie.

Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat 12 siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit. Namun demikian, kondisinya sudah berangsur pulih.

"Terakhir saya nengok hari Sabtu kondisinya sudah membaik. Sebagian keluhannya sama, badan masih lemas, mual, dan pusing," imbuhnya.

Cianjur: Korban Mencapai 176 Orang

Salah satu kejadian terparah terjadi di Kabupaten Cianjur, di mana 176 orang, termasuk 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur serta 98 warga lainnya, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG dan sebuah hajatan. 

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur bahkan menetapkan kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Gejala yang dialami para korban beragam, mulai dari pusing, mual, hingga muntah.

Kepala Dinkes Cianjur, Yusman Faisal, menyatakan bahwa pihaknya telah memaksimalkan penanganan terhadap korban dan melakukan pendataan menyeluruh.

Bandung: Korban Mencapai 324 Siswa

Di Kota Bandung, 342 siswa SMP Negeri 35 juga mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG pada 29 April 2024.

Kepala Dinkes Kota Bandung, Anhar Hadian, menyatakan bahwa pihaknya langsung melakukan investigasi dan pengambilan sampel makanan untuk mengetahui penyebab keracunan.

 

Tasikmalaya: Korban Mencapai 400 Orang

Sebanyak 400 pelajar di Tasikmalaya, Jawa Barat, keracunan makanan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah tersebut berdasarkan data yang diperoleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya.

Pelajar yang terdampak merupakan siswa TK, SD, madrasah ibtidaiyah (MI) dan SMP.

Meski demikian, mayoritas siswa tidak mengalami gejala berat, sehingga tidak mendapatkan penanganan medis. Bahkan banyak siswa yang sudah beraktivitas sekolah lagi.

 

 

Bombana, Sulawesi Tenggara: Korban Mencapai 10 Siswa

Sebanyak sepuluh siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami gejala mual dan muntah-muntah usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kapolres Bombana AKBP Wisnu Hadi menyampaikan bahwa pihaknya telah mengamankan puluhan paket makanan yang diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi.

"Total sekitar 53 paket makanan diduga basi sudah kita ambil sampelnya dan akan diuji laboratorium oleh Dinas Kesehatan Bombana," ujar AKBP Wisnu Hadi.

Sebanyak 1.026 paket makanan MBG dibagikan kepada tiga sekolah di wilayah Kecamatan Rumbia, yaitu SD Negeri 33 Kasipute, SD Negeri 08 Kasipute, SD Negeri 27 Doule.

Lokasi temuan makanan diduga basi berada di SD Negeri 33 Kasipute, tempat para siswa yang mengalami keracunan belajar.

 

Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur: 29 Siswa Jadi Korban

Sebanyak 29 siswa SD Katolik Andaluri, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan mengalami gejala keracunan ringan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 18 Februari 2025.

Menurut laporan awal, para siswa mulai menunjukkan gejala seperti mual, sakit perut, dan muntah-muntah tak lama setelah waktu makan siang. Meski gejalanya tergolong ringan, pihak sekolah segera bertindak cepat dengan membawa siswa yang terdampak ke puskesmas terdekat untuk mendapat penanganan medis.

“Tindakan cepat sangat membantu. Semua siswa sudah dalam kondisi stabil dan pulih,” ujar seorang tenaga kesehatan yang menangani para korban.

Sukoharjo: 10 Siswa Keracunan

Sebanyak sepuluh siswa SDN Dukuh 03, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengalami mual dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 16 Januari 2025.

Beruntung, insiden tersebut tidak sampai menimbulkan kondisi serius dan dapat segera ditangani oleh Puskesmas setempat.

Usai menunjukkan gejala, seluruh siswa langsung mendapatkan pertolongan medis. “Tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit,".

Infografis Program Makan Bergizi Gratis Dimulai 6 Januari 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya