Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Jepang menyusut untuk pertama kalinya dalam setahun, terkontraksi lebih dari 0,2% pada periode awal 2025.
Mengutip CNBC International, Jumat (16/5/2025) kontraksi pada ekonomi Jepang kali ini didorong oleh penurunan ekspor yang cukup tajam hingga 0,6% secara kuartal atau 0,8 poin persentase dari PDB.
Advertisement
Penurunan tersebut disebabkan oleh kondisi ketidakpastian menyusul kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump memengaruhi ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada ekspor.
Pada basis tahunan, PDB Jepang terkontraksi 0,7% pada kuartal pertama 2025.
Namun, Jepang masih melihat titik terang dari permintaan domestik yang tumbuh 0,6% pada kuartal pertama 2025 dan menambahkan 0,7 poin persentase ke PDB.
Namun, pada basis tahun-ke-tahun, PDB Jepang meningkat 1,7%, ekspansi terbesar sejak kuartal pertama tahun 2023 dan menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan dengan pertumbuhan 1,3% yang terlihat pada kuartal keempat 2024.
Data PDB Jepang muncul saat negara tersebut sedang menjalankan negosiasi perdagangan dengan AS, di mana pembicaraan awal antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan yang konklusif.
Jesper Koll, direktur ahli di perusahaan jasa keuangan Monex Group, mengatakan lbahwa meskipun perusahaan-perusahaan Jepang sangat kuat di dalam negeri, yang mencerminkan peningkatan permintaan domestik, ekspor mungkin terus mengalami pelemahan.
Ia mencatat bahwa meskipun yen yang lemah telah memberikan keuntungan kompetitif bagi ekspor Jepang, keuntungan tersebut belum seimbang dengan ekspor mesin dan perkakas Tiongkok, yang memiliki purnajual yang lebih baik dibandingkan dengan Jepang dan berkualitas baik.
Pejabat Jepang: Kontraksi PDB Bukan Disebabkan Oleh Tarif AS
Sementara itu, negosiator perdagangan utama Jepang, Ryosei Akazawa, mengatakan bahwa tidak ada dampak siginifikan dari tarif impor AS terhadap PDB Jepang di kuartal pertama.
Sementara peningkatan lapangan kerja dan upah kemungkinan akan mendukung pemulihan ekonomi yang moderat, Akazawa mengatakan bahwa risiko tetap ada pada sentimen konsumen dan konsumsi dari kenaikan harga yang berkelanjutan.
Krishna Bhimavarapu, Ekonom Asia-Pasifik di State Street Global Advisors, mengatakan bahwa permintaan domestik Jepang masih sangat baik meski mencatat pertumbuhan PDB yang lesu.
Bhimavarapu mengaku optimis, kesepakatan dagang Jepang dengan AS dalam beberapa bulan mendatang akan mengurangi dampak tarif.
Bank of Japan Tahan Suku Bunga 0,5% pada Mei 2025
Bank of Japan mempertahankan suku bunga di 0,5% pada 1 Mei 2025 untuk pertemuan kedua berturut-turut.
BOJ juga baru-baru ini memperingatkan pada 13 Mei bahwa ekonomi negara itu kemungkinan akan melambat ke depannya, dengan mengatakan bahwa ini akan terjadi karena dampak kebijakan perdagangan di seluruh dunia.
“Guncangan permintaan negatif diperkirakan terjadi, termasuk dampak dari meningkatnya ketidakpastian pada investasi tetap bisnis dan konsumsi rumah tangga, penurunan volume ekspor ke Amerika Serikat, dan memburuknya profitabilitas ekspor Jepang,” tulis BOJ.