Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Gubernur Jawa Barat mengirim anak “nakal” ke barak militer menajamkanpertarungan nilai: ketika bonus demografi—194 juta jiwa produktif pada 2025—membuka peluang emas, kita dihadapkan pada pilihan krusial: menegakkan kedisiplinan keras di barak, atau menumbuhkan jiwa di panggung budaya; apalagi wacana nasionalisasi program ini kini mengemuka.
Wacana Pendidikan ala Militer: Cepat tapi Berisiko?
Usulan untuk menempatkan remaja bermasalah di barak militer dipandang sebagai cara cepat meredam kenakalan. Angka kenakalan remaja memang mengalami kenaikan tiap tahunnya sebesar 10,7% (2019-2020). Namun di balik janji ketegasan, muncul kekhawatiran bahwa pendekatan ini bisa membatasi ruang ekspresi anak, mengikis kepercayaan diri, dan meninggalkan jejak psikologis—terutama jika tidak dirancang dan dikaji secara komprehensif.
Advertisement
Bonus Demografi: Jendela Emas tanpa Jiwa?
Indonesia menapaki “jendela emas” demografi: rasio ketergantungan merosot ke 44,3 % pada 2020; 194 juta usia produktif menanti pada 2025 (Litbang Kompas). Setelah 2040, angka nonproduktif kembali naik, menutup peluang. Tanpa investasi pada cultural capital—modal sosial berupa keterampilan, nilai, dan simbol warisan leluhur—gelombang produktif bisa menjadi massa tanpa identitas: pengangguran, kesenjangan, dan kemunduran budaya. Bourdieu menegaskan cultural capital adalah denyut nadi kreativitas; melepasnya sama mencabut akar daya saing bangsa.
Pendidikan Budaya: Mesin Ekonomi dan Sosial
Pendidikan budaya bukan sekadar memindahkan anak–anak ke ruang seni; ia menyalakan mesin ekonomi dan merekatkan tali sosial. Ketika tarian tradisional, anyaman batik, atau denting gamelan menjadi bagian inti kurikulum, tiap langkah dan nada menanamkan empati, kreativitas, dan kebanggaan identitas. UNESCO menegaskan bahwa pelajaran seni mengasah kecerdasan emosional sekaligus memupuk rasa memiliki terhadap warisan bersama—modal sosial yang tak ternilai harganya. Di ranah ekonomi, industri kreatif menyumbang 7,8 % PDB dan ekspor USD 17,4 miliar pada kuartal III 2023.
Banyak kisah menunjukkan bagaimana generasi muda Indonesia sukses dengan menggabungkan kreativitas, inovasi, dan pelestarian budaya. Mereka tidak hanya menciptakan produk yang bernilai ekonomi tetapi juga menjaga dan mempromosikan warisan budaya bangsa. Tanpa pendidikan budaya yang sistematis, potensi ini tergerus arus. Saatnya membangun peta jalan: sinergi pemerintah, seniman, budayawan, komunitas, industri, dan akademisi, untuk menjadikan budaya mesin ekonomi berkelanjutan.
Dengan demikian, budaya bukan hanya pusaka yang dipajang, tapi dialirkan—menjadi sumber penghidupan, perekat komunitas, dan mercusuar kebanggaan nasional.
Alternatif Berbasis Kesadaran Budaya
Daripada dentang komando militer, marilah kita memilih denting gamelan dan alunan musyawarah adat—anak–anak berkumpul melingkar, khusyuk mendengar sesepuh menabur benih hormat dan kebersamaan. Di Selandia Baru, praktik Family Group Conferencing—diatur dalam Children, Young Persons, and Their Families Act 1989—mengubah cara sistem peradilan anak bekerja: residivisme terjun hampir separuhnya karena fokusnya adalah memulihkan hubungan, bukan menghukum tubuh muda dengan hukuman fisik.
Kaum Inuit di Kanada menenun, memancing, dan mendongeng di api unggun—ritual yang menumbuhkan kebanggaan identitas dan solidaritas. Terapi seni dan ritual Ruwatan di Jawa membuka ruang penyembuhan batin: anak menuangkan duka dalam puisi, melukis bayang kesedihan, lalu menari dalam prosesi simbolik yang menghapus trauma. Psikolog, pekerja sosial, dan praktisi budaya bergandeng tangan mencipta ruang aman—air mata mengalir, harapan tumbuh kembali.
MTN Seni Budaya: Infrastruktur Jiwa, Investasi Bangsa
Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya bukan sekadar program, melainkan strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang tangguh dalam karakter, kaya dalam ekspresi,dan kokoh dalam jati diri budaya. Di sekolah, seni tak hanya menjadi selingan, tapi nadi pembelajaran: anak-anak menari, melukis, membatik, dan berdendang sebagai bagian dari pembentukan empati, daya cipta, dan kebanggaan identitas.
Peraturan Presiden No. 108 Tahun 2024 mendorong pendirian MTN Lab di 34 provinsi, yang berfungsi sebagai inkubator dan pusat pelatihan budaya, tempat maestro dan murid bertemu dalam lokakarya lintas generasi. Di sinilah keterampilan diasah, inovasi lahir, dan warisan budaya ditransformasi menjadi kreasi masa depan. Cultural scouts ke seluruh penjuru nusantara untuk menjangkau bakat-bakat muda, membangkitkan sanggar redup, memantik kembali percik kreativitas anak-anak pelosok. Pendampingan berlanjut dengan pelatihan. Sementara itu, sistem jaminan sosial dan fiskal turut menopang pekerja seni, serta insentif pajak mendorong industri kreatif menggaji talenta lokal.
Dana Indonesiana—endowment budaya senilai Rp 465 miliar tahun 2025—mengalir membiayai album musik tradisi-modern, pameran rupa eksperimental, dan teater rakyat kontemporer. Karya-karya itu dipertemukan dunia melalui marketplace budaya: investor, galeri, penerbit, dan platform digital global. Sistem Informasi Manajemen Talenta merekam perjalanan ribuan kreator, memonitor portofolio, dan membuka kolaborasi lintas disiplin. Konsorsium Festival merajut kalender budaya agar setiap talenta mendapatkan panggung dengan keterlibatan luas komunitas budaya. MTN International Hub membuka pintu residensi dan keterlibatan di ajang global.
Kesimpulan: Memilih Jiwa Anak
Inilah panggung budaya sejati: daripada barisan di lapangan pasir, melainkan tarian lepas di atas anyaman makna. Di persimpangan bonus demografi, kita memilih: anak-anak dididik oleh deru militer, atau oleh bisikan leluhur dan denting instrumen tradisi? Pendidikan budaya adalah nafas masa depan—melalui seni, tradisi, dan kearifan lokal, kita memerdekakan jiwa mereka. Saat anak menari, ia merayakan kebebasan; saat ia menenun, ia memahami keterikatan; saat ia menembang, ia merasakan getar hati kolektif. Pendidikan sejati membebaskan, menguatkan, dan menumbuhkan harapan. Barak militer mungkin menambah disiplin, tetapi hanya panggung budaya yang menumbuhkan jiwa.