Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada hari Rabu (14/5/2025) kemarin. Harga emas mencatat penurunan untuk kedua kalinya dalam tiga hari terakhir. Apa penyebabnya dan bagaimana gerak harga emas hari ini?
Analisis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, penurunan harga emas terutama dipicu oleh membaiknya sentimen risiko global, yang dipicu oleh kemajuan dalam hubungan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Advertisement
"Faktor ini mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset safe-haven, mendorong harga emas turun di bawah level USD 3.200 untuk pertama kalinya sejak 11 April," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (15/5/2025).
Sementara itu, pada sesi perdagangan Asia Kamis (15/5/2025) hari ini, harga emas sempat diperdagangkan sedikit menguat di sekitar USD 3.180. Namun demikian, potensi kenaikan diperkirakan terbatas karena sentimen pasar yang lebih optimis terhadap risiko dan hasil positif dari negosiasi perdagangan.
Dalam perkembangan terakhir, AS dan China sepakat untuk saling menurunkan tarif setelah pembicaraan dua hari di Jenewa. AS menurunkan tarif impor dari China dari 145% menjadi 30%, sementara China menurunkan tarif dari 125% menjadi 10% untuk barang-barang dari AS.
"Keputusan ini mengurangi ketegangan dalam perang dagang global, yang pada gilirannya menekan permintaan terhadap emas sebagai aset perlindungan," kata Andy.
Analisis Teknikal dan Proyeksi
Dari sisi teknikal, Andy Nugraha menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average saat ini menunjukkan kecenderungan tren bearish yang semakin menguat pada harga emas. Hal ini menjadi indikasi bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga emas.
Dalam proyeksinya hari ini, harga emas diperkirakan masih berpotensi melemah menuju level support di USD 3.151. Namun, jika terjadi pembalikan arah (rebound) dari area support tersebut, maka harga berpotensi kembali menguat menuju target terdekat di kisaran USD 3.238.
Faktor geopolitik juga turut memengaruhi sentimen pasar. Penasihat utama Iran, Ali Shamkhani, menyatakan kesiapan Iran untuk menandatangani kesepakatan nuklir baru dengan Presiden AS Donald Trump, asalkan sanksi ekonomi dicabut.
Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal positif yang menambah optimisme pasar, dan berkontribusi pada tekanan terhadap harga emas.
Risiko Geopolitik Global
Namun demikian, Andy mengingatkan bahwa ketidakpastian yang masih ada dalam kesepakatan dagang, serta risiko geopolitik global, tetap menjadi faktor penopang harga emas dalam jangka pendek.
Para pelaku pasar juga tengah menanti data ekonomi penting dari AS, yaitu Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (IHP) untuk bulan April yang dijadwalkan rilis hari Kamis.
Selain itu, pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, juga menjadi perhatian utama karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS yang naik pada hari Rabu menjadi tambahan tekanan bagi emas, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Bahkan, rumor bahwa pemerintahan Trump lebih menyukai dolar AS yang lebih lemah tidak mampu mengangkat harga emas secara signifikan, karena fokus pasar kini tertuju pada aset-aset berisiko yang dinilai lebih menarik.
Tekanan Bearish Mendominasi
Dengan latar belakang tersebut, prediksi Andy hari ini menunjukkan bahwa tekanan bearish masih dominan pada emas.
Meski terdapat potensi teknikal untuk rebound jangka pendek, arah dominan tetap cenderung melemah, terutama jika data ekonomi AS mendukung penguatan aset berisiko.