Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang mudah tersinggung? Orang yang mudah tersinggung seringkali menciptakan suasana yang tidak menyenangkan dalam interaksi sosial. Mereka cenderung bereaksi berlebihan terhadap perkataan atau tindakan yang sebenarnya tidak bermaksud menyinggung perasaan mereka.
Menurut kajian psikologi, orang yang mudah tersinggung memiliki pola pikir dan perilaku tertentu yang membuat mereka sensitif terhadap kritik. Penelitian dari jurnal Emotion menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi sangat penting untuk kesuksesan finansial dan kesejahteraan. Sayangnya, orang yang mudah tersinggung sering tidak mampu mengelola emosi dengan baik.
Advertisement
Para ahli psikologi telah mengidentifikasi beberapa ciri khas orang yang mudah tersinggung. Ciri-ciri ini tidak hanya memengaruhi hubungan mereka dengan orang lain, tetapi juga kesehatan mental dan fisik mereka sendiri.
Berikut ini, telah Liputan6.com rangkum sembilan ciri orang yang mudah tersinggung berdasarkan penelitian psikologi, pada Rabu (14/5).
1. Terlalu Sadar Diri
Orang yang tidak dapat menerima kekurangan dirinya cenderung mudah tersinggung. Mereka berpikir bahwa dengan menghindari kritik orang lain, kekurangan mereka akan lebih mudah disembunyikan. Padahal ini adalah strategi yang tidak efektif, karena sikap defensif tidak akan menghilangkan pikiran negatif mereka. Akibatnya, mereka justru menjadi semakin sensitif dan selalu merasa diperhatikan.
Penelitian dari Journal of Affective Disorders menemukan bahwa rasa tidak aman yang tinggi berdampak buruk pada kesejahteraan mental. Hubungan ini dipengaruhi oleh harapan dan kontrol diri. Bagi orang yang mudah tersinggung, mereka sulit mengendalikan pikiran negatif, sehingga cara mereka memandang diri sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka menjadi beban berat yang menyebabkan stres.
2. Merasa Dunia Berpusat pada Dirinya
Ciri lain dari orang yang mudah tersinggung adalah perasaan bahwa dunia berpusat pada dirinya. Karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, mereka tidak bisa menerima penolakan sebagai jawaban.
Ketika ditolak, mereka langsung gelisah, karena biasanya tidak ada yang berani menolak keinginan mereka. Sekarang mereka bingung harus bagaimana. Mereka bersikeras dan keras kepala hanya karena menginginkan apa yang tidak bisa mereka miliki. Orang-orang seperti ini tidak memahami bahwa kerja keras itu jauh lebih berharga dan membawa hasil yang lebih memuaskan daripada mendapatkan semuanya dengan mudah.
3. Senang Menyimpan Dendam
Orang yang mudah tersinggung suka menyimpan dendam untuk hal-hal sekecil apa pun. Entah ada teman yang meminjam pulpen saat SD dan tidak dikembalikan, atau rekan kerja yang membicarakan di belakang, mereka tidak akan melepaskan perasaan sakit hati itu. Ini menjadi semacam obsesi yang membuat orang yang mudah tersinggung selalu mengungkit-ungkit masa lalu.
Menurut psikoterapis Sean Grover LCSW, orang yang suka menyimpan dendam tidak tahu cara mengolah emosi mereka dengan baik, sehingga berperilaku kekanak-kanakan. Penelitian dari Journal of Health Psychology menunjukkan bahwa stres akibat dendam dapat menyebabkan tekanan darah naik, masalah jantung, dan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Jadi, kebiasaan menyimpan dendam ini bukan hanya mengganggu mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik.
4. Kurang Kesadaran Diri
Orang yang mudah tersinggung biasanya kurang peka terhadap keadaan sekitar. Artinya, mereka kurang matang dalam memahami dan mengenali perilaku mereka sendiri. Saat berbicara, mereka tidak mau mendengarkan, dan tidak memberikan kesempatan orang lain bicara. Mereka suka mengkritik orang lain, selalu terjebak di masa lalu, dan tidak pernah mau mengakui kesalahan.
Mereka sangat mudah tersinggung ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Segera menjadi defensif dan bersikeras bahwa mereka sudah mendengarkan dan penuh perhatian, padahal faktanya tidak demikian. Kurangnya kesadaran diri mereka ini sangat jelas terlihat, dan membuat orang-orang di sekitar mereka merasa diabaikan dan kesal.
5. Berpikir Hitam dan Putih
Salah satu ciri khas orang yang mudah tersinggung adalah pola pikir yang hanya mengenal hitam dan putih. Mereka tidak dapat melihat situasi dalam berbagai perspektif. Bagi mereka, semua hal itu hanya ada benar atau salah, baik atau buruk, sukses atau gagal. Tidak ada istilah tengah-tengah.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology, orang yang berpikiran terbuka cenderung lebih banyak belajar dengan mengevaluasi keyakinan, keputusan, dan kesalahan mereka. Keterbukaan juga baik untuk tim, karena mendorong orang lain untuk terlibat dalam diskusi yang jujur. Sayangnya, cara berpikir seperti ini tidak cocok dengan orang yang mudah tersinggung, yang sudah terlanjur bereaksi berlebihan sebelum melihat dari sudut pandang lain.
6. Senang Berperan Sebagai Korban
Orang suka berperan sebagai korban untuk melindungi harga diri atau citra mereka di depan umum. Mereka sangat pandai mencari cara untuk menyalahkan orang lain, meskipun itu kesalahan mereka sendiri. Mereka juga suka melebih-lebihkan emosi untuk mendapatkan simpati, biasanya untuk menghindari tanggung jawab.
Psikoterapis Erin Leonard, Ph.D. mengatakan bahwa berperan sebagai korban tidak hanya meningkatkan ego, tetapi juga memudahkan seseorang memanipulasi orang lain. Karena orang yang bersimpati merasa tidak enak, mereka akan melakukan apa saja agar orang itu tersenyum, sering kali sampai terlalu memaksakan diri. Bagi orang yang mudah tersinggung, jika ada yang tidak terpengaruh oleh akting mereka, mereka langsung marah besar.
7. Takut Ditolak
Ciri orang yang mudah tersinggung adalah ketakutan mereka akan penolakan. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi perasaan tidak nyaman yang datang bersamaan dengan ketakutan ini. Karena emosi mereka tidak matang, mereka menjadi seperti lumpuh, sering pergi sambil marah-marah.
Sebuah penelitian tahun 2022 menemukan bahwa beberapa emosi muncul ketika orang merasakan penolakan, baik nyata, dibayangkan, atau diingat-ingat. Merasa ditolak menimbulkan perasaan sakit hati, kesepian, malu, cemas dalam situasi sosial, dan rendah diri. Perasaan-perasaan ini muncul karena mereka merasa bahwa nilai mereka di mata orang lain rendah atau terancam.
8. Membutuhkan Validasi Terus-menerus
Membutuhkan validasi terus-menerus adalah ciri orang yang mudah tersinggung. Mereka sering mencari pengakuan tidak hanya dari orang-orang terdekat, tetapi juga dari orang yang baru dikenal. Ini menandakan mereka tidak percaya diri.
Orang-orang ini tidak percaya dengan kemampuan diri sendiri dan sering merasa rendah diri. Mereka banyak menghabiskan waktu memikirkan kekurangan dan ketidaksempurnaan mereka, membandingkan diri dengan orang lain, padahal seharusnya mereka fokus memperbaiki diri dan tidak mudah terpengaruh komentar orang. Jika ada yang tidak memberikan pujian yang mereka harapkan, mereka langsung marah dan menjauh.
9. Ingin Mengendalikan Segalanya
Tidak merasa aman dengan diri sendiri, orang yang mudah tersinggung selalu mencari cara untuk menguasai lingkungan mereka. Mereka mungkin mengatur pasangan, misalnya tidak boleh bermain dengan teman atau memaksa pasangan diet ketat. Menurut mereka, ini satu-satunya cara agar hidup mereka stabil.
Tetapi jika kendali itu dilepaskan, mereka langsung menjadi agresif dan marah. Mereka akan melawan dan menggunakan segala cara agar semua berjalan sesuai keinginan mereka. Sikap tersinggung ini hanya taktik mereka untuk lebih mengendalikan situasi dan memanipulasi semuanya demi keuntungan sendiri.