Liputan6.com, Jakarta Harga minyak dunia melemah pada Rabu (waktu setempat) di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang disoroti oleh Federal Reserve (The Fed). Sentimen harga minyak lainnya, menanti pertemuan dagang antara Amerika Serikat dan China akhir pekan ini.
Dikutip dari CNBC, Kamis (8/5/2025), Harga minyak Brent turun sebesar USD 1,03 atau 1,66% ke level USD 61,12 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah USD 1,02 atau 1,73% menjadi USD 58,07 per barel.
Advertisement
The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, namun menyatakan bahwa ketidakpastian terhadap prospek ekonomi telah meningkat. Dalam pernyataannya, The Fed juga menilai risiko inflasi dan pengangguran lebih tinggi kini makin nyata.
Sentimen negatif juga diperburuk oleh keputusan OPEC+ untuk mempercepat peningkatan produksi minyak, yang memicu kekhawatiran akan kelebihan pasokan global di tengah tekanan permintaan akibat tarif AS yang semakin membebani ekonomi global.
Pertemuan Dagang AS-China Dinanti, Namun Ekspektasi Tetap Rendah
Pertemuan antara AS dan China yang dijadwalkan berlangsung di Swiss menjadi fokus investor. Ini dianggap sebagai langkah awal untuk meredakan perang dagang yang telah mengganggu perekonomian dunia. Namun, analis menilai peluang tercapainya terobosan signifikan masih rendah.
"Meski pertemuan ini bisa menjadi tanda mencairnya hubungan, ekspektasi untuk hasil konkret tetap tipis," ujar Thiago Duarte, analis pasar dari Axi.
Menurutnya, tanpa konsesi besar dari China, kecil kemungkinan akan terjadi deeskalasi lebih lanjut. Investor juga menantikan arah kebijakan The Fed selanjutnya, dengan ekspektasi suku bunga tetap di kisaran 4,25%–4,50% hingga pertemuan berikutnya pada 29-30 Juli.
Stok Minyak AS Turun
Stok Minyak AS Turun, Namun Permintaan Bensin DipertanyakanData dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun 2 juta barel menjadi 438,4 juta barel pekan lalu.
Angka ini lebih besar dari perkiraan analis sebesar penurunan 833.000 barel. Namun, stok bensin justru meningkat, menimbulkan kekhawatiran akan lemahnya permintaan menjelang liburan berkendara di akhir bulan.
“Ini laporan yang buruk untuk bensin setelah beberapa pekan cukup stabil,” kata Bob Yawger dari Mizuho.
Meski demikian, beberapa produsen AS telah memberi sinyal untuk mengurangi belanja, yang bisa menandakan bahwa produksi minyak domestik mungkin telah mencapai puncaknya.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Israel dan kelompok Houthi, turut menambah faktor risiko yang mendorong volatilitas pasar.