Liputan6.com, Jakarta Pekan ini, sejumlah film Indonesia anyar menyapa bioskop. Salah satu yang patut diantisipasi Pembantaian Dukun Santet dengan bintang Kevin Ardilova dan aktor peraih Piala Citra Rifnu Wikana.
Selain keduanya, ada Aurora Ribero hingga Ariyo Wahab. Pembantaian Dukun Santet karya sineas Azhar Kinoi Lubis diproduksi MD Pictures. Film ini akan menghantui bioskop seluruh Indonesia mulai 8 Mei 2025.
Advertisement
Rifnu Wikana dan Ariyo Wahab menyampaikan sejumlah catatan dari lokasi syuting film Pembantaian Dukun Santet seraya menyinggung praktik ilmu hitam hingga salah satu fase kelam di Indonesia.
Laporan khas Showbiz Liputan6.com kali ini menghimpun 6 catatan Rifnu Wikana dan Ariyo Wahab yang memerankan ustaz di sebuah pesantren dalam Pembantaian Dukun Santet. Siapkan nyali untuk nonton!
1. Ustaz Ridwan Dan Tanggung Jawabnya
Dalam wawancara tertulis dengan Showbiz Liputan6.com, Selasa (6/5/2025), Rifnu Wikana menjelaskan, perannya sebagai Ustaz Ridwan yang bertanggung jawab menjaga situasi pesantren agar terkendali dan karakter para santri tidak rusak.
Nyaris tak ada kesulitan saat berakting. “Menguasai Bahasa Arab, segala macam sudah dipelajari. Jadi ketika ada Bahasa Arab, ayat-ayat, itu masih gampang... karena dari kecil sudah belajar, pernah di madrasah, ngaji,” ujar bintang film Night Bus.
2. Syuting di Cirebon, Bikin Pesantren Benaran
Rifnu Wikana menjelaskan, syuting film Pembantaian Dukun Santet hampir sebulan. Lokasinya di Cirebon, Jawa Barat. Karena mengisahkan daerah terpencil, maka penata artistik Frans Paat membangun set pesantren benaran untuk meyakinkan penonton.
“Dan menariknya, ini pesantren dibangun dari nol oleh Frans Paat. Didesain, dibangun, seperti pesantren. Full set. Keren banget. Lokasi set di Cirebon dan cerita ini diangkat dari kejadian di Jawa Timur,” Rifnu Wikana membeberkan.
3. Mengenang 1998 dan Fase Kelamnya
Tipis-tipis Rifnu Wikana menjelaskan latar cerita Pembantaian Dukun Santet adalah dekade 1990-an tepatnya pada 1998. Situasi politik di Indonesia saat itu diwarnai demo mahasiswa menuntut reformasi, lengsernya Soeharto, hingga konflik horizontal soal dukun santet.
“Jadi film ini mengingatkan kita ke tahun 1998 di mana orang-orang yang (diduga) menggunakan santet dibantai semuanya. Suasana politik saat itu juga lagi kelam banget di Indonesia. Di satu daerah terjadi pembantaian juga,” beri tahu Rifnu Wikana.