Kapan Harus Jual Saham? Perhatikan Hal Ini

Berikut ini beberapa tips kapan waktu yang tepat untuk menjual saham, berdasarkan pandangan para ahli dan sumber terpercaya.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 05 Mei 2025, 06:00 WIB
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Menjual saham adalah keputusan penting yang bisa menentukan keberhasilan investasi. Tidak seperti membeli saham yang umumnya didasarkan pada analisis potensi pertumbuhan perusahaan, keputusan menjual seringkali lebih kompleks karena melibatkan emosi, target keuangan, dan kondisi pasar.

Dikutip dari CNBC, Senin (5/5/2025), berikut ini beberapa tips kapan waktu yang tepat untuk menjual saham, berdasarkan pandangan para ahli dan sumber terpercaya.

1. Tujuan Investasi Telah Tercapai

Jika saham yang dimiliki sudah memberikan imbal hasil sesuai dengan target keuangan Anda, ini bisa menjadi sinyal untuk menjual. Misalnya, jika Anda menargetkan keuntungan 30% dalam setahun dan saham tersebut telah mencapainya lebih cepat, pertimbangkan untuk merealisasikan keuntungan. Menurut Investopedia, menjual saham setelah mencapai target keuntungan adalah strategi pengendalian risiko yang bijak.

2. Fundamental Perusahaan Memburuk

Perubahan negatif pada laporan keuangan, manajemen, atau prospek bisnis perusahaan bisa menjadi alasan kuat untuk jual saham. Jika perusahaan mulai merugi secara konsisten atau kehilangan pangsa pasar, sebaiknya investor mempertimbangkan untuk keluar sebelum harga saham anjlok. CNBC menyarankan investor untuk secara rutin meninjau kinerja fundamental dan tidak hanya bergantung pada tren pasar.

 

3. Terdapat Kesempatan Investasi yang Lebih Baik

Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menjual saham juga bisa dipertimbangkan jika ada peluang investasi lain yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi dengan risiko yang sama atau lebih rendah. Ini dikenal dengan strategi opportunity cost. Seperti dikutip dari The Motley Fool, alokasi ulang portofolio penting agar modal tetap bekerja secara efisien (The Motley Fool, 2022).

4. Kebutuhan Dana Mendesak

Dalam situasi darurat seperti biaya kesehatan, pendidikan, atau kehilangan pekerjaan, menjual saham bisa menjadi solusi. Namun, pastikan keputusan ini tidak mengorbankan rencana investasi jangka panjang.

 

5. Kondisi Pasar dan Valuasi yang Tidak Rasional

Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jika harga saham sudah jauh melebihi nilai wajarnya (overvalued) dan tidak lagi didukung oleh kinerja riil perusahaan, sebaiknya dijual. Warren Buffett sendiri dikenal menjual saham ketika pasar "berperilaku irasional" dan valuasi menjadi terlalu tinggi (Berkshire Hathaway Shareholder Letter, 2021).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya