Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komdigi (Komunikasi dan Digital) resmi membekukan sementara TDPSE (Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik) atas layanan Worldcoin dan WorldID. Hal ini dilakukan menyusul laporan masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan yang melibatkan perusahaan tersebut.
Menurut Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, langkah ini bersifat preventif untuk melindungi masyarakat dari potensi risiko dalam ruang digital.
Advertisement
"Pembekuan ini merupakan langkah preventif untuk mencegah potensi risiko terhadap masyarakat," ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima, Minggu (4/5/2025).
Lebih lanjut Alexander menuturkan, Komdigi juga akan segera memanggil PT. Terang Bulan Abadi dan PT. Sandina Abadi Nusantara guna memberikan penjelasan atas dugaan pelanggaran terhadap regulasi penyelenggaraan sistem elektronik.
Untuk diketahui, dua perusahaan itu terindikasi berhubungan dengan layanan Worldcoin. Hasil investigasi awal menujukkan PT. Terang Bulan Abadi belum terdaftar sebagai PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) dan tidak memiliki TDPSE sebagaimana diwajibkan oleh regulasi.
Sementara, layanan Worldcoin terdeteksi menggunakan TDPSE yang terdaftar atas nama badan hukum lain, yakni PT. Sandina Abadi Nusantara.
Langkah tegas Kementerian Komdigi ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, serta Peraturan Menteri Kominfo Nomor 10 Tahun 2021 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat.
Dalam aturan tersebut, setiap penyelenggara layanan digital wajib memiliki legalitas operasional yang sah dan bertanggung jawab secara langsung kepada publik.
"Ketidakpatuhan terhadap kewajiban pendaftaran dan penggunaan identitas badan hukum lain untuk menjalankan layanan digital merupakan pelanggaran serius," ujar Alexander lebih lanjut.
Alexander pun menekankan kalau pengawasan ruang digital dilakukan secara adil dan tegas demi menjaga keamanan ekosistem digital nasional. Ia juga mendorong masyarakat aktif berpartisipasi dalam menjaga integritas ruang digital.
Untuk diketahui, Worldcoin didirikan oleh Sam Altman, Alex Blania, dan Max Novendstern yang keluar dari dari proyek tersebut di Juli 2021. Sam Altman sendiri dikenal sebagai pendiri dan CEO OpenAI.
Brasil Hentikan Bisnis Bos OpenAI Gara-Gara Beli Data Iris 500.000 Warga
Selain Indonesia, otoritas perlindungan data Brasil menentang perusahaan milik Sam Altman, Tools for Humanity.
Otoritas perlindungan data ini meminta agar perusahaan besutan bos OpenAI itu berhenti membeli data biometrik berupa pemindaian iris milik orang-orang Brasil.
Pelarangan terhadap Tools for Humanity mulai berlaku pada awal 2025 dan merupakan bagian dari investigasi yang sudah dimulai sejak November 2024.
Mengutip Gizchina, Selasa (28/1/2025), Tools for Humanity menjalankan project World. Di mana, proyek ini menggunakan pemindai iris mata untuk membangun sistem identitas global.
Sistem tersebut memberikan identitas digital dan mata uang kripto sebagai imbalannya. Namun, otoritas perlindungan data Brasil tak senang dengan ini.
Brasil cemas, upaya perusahaan membayar orang untuk menyerahkan pindaian iris mereka mungkin akan memberi tekanan kepada mereka untuk membagikan data biometrik.
Otoritas ini juga meminta perusahaan untuk memberi penjelasan di websitenya tentang siapa yang nantinya akan menangani data-data yang dikumpulkan.
Hadapi Masalah Serupa di Spanyol dan Portugal
Tools for Humanity juga menghadapi masalah serupa di Spanyol dan Portugal. Kini, perusahaan bekerja sama dengan otoritas Brasil untuk memastikan warga Brasil bisa tetap menggunakan jaringan milik World.
Pihak proyek World pun mencatat adanya ketidakakuratan dalam laporan terbaru dan diskusi di media sosial. Hal ini menyebabkan adanya misinformasi yang diterima otoritas perlindungan data.
Sementara itu, proyek World sendiri menggunakan pindaian iris sebagai sidik jari digital untuk membedakan manusia dari robot. Proyek ini aktif mengumpulkan data di 18 kota di seluruh dunia.
Tentunya bagi warga Brasil, menjual hasil pindaian iris mata mereka merupakan cara baru mendapatkan uang. Namun, mulai 25 Januari lalu, otoritas Brasil menghentikan proyek ini.
Sepanjang operasionalnya, perusahaan Sam Altman ini sudah mengumpulkan sekitar 500.000 iris yang dipindai dari penduduk Brasil, yang mau bergabung dengan proyek ini.
Warga Brasil mendapatkan informasi ini berdasarkan berbagai kabar yang beredar di media sosial, termasuk TikTok.