Rumah Sakit Milik Keluarga Umar Wirahadikusumah Mau IPO, Catat Harga dan Waktunya!

Penggunaan dana IPO perseroan yakni sekitar Rp 40,76 miliar akan digunakan untuk pembangunan gedung baru di sekitar area rumah sakit DKH Cibadak.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 Mei 2025, 16:00 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kedatangan emiten baru dalam waktu dekat. Adalah PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) yang berencana untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada 8 Mei 2025.

Membanderol harga saham perdana di harga Rp 132 per saham, ini merupakan batas atas pada rentang harga yang ditawarkan dalam bookbuilding yakni Rp 100-132 per saham.

Total saham yang ditawarkan sebanyak 530 juta saham atau 20,78% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pasca IPO. Sehingga, total nilai emisi mencapai Rp 69,90 miliar.

Dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/5/2025), manajemen DKHH menyebutkan bahwa mayoritas dana IPO akan digunakan untuk ekspansi bisnis perseroan, khususnya untuk pengembangan salah satu rumah sakit milik DKHH yang ada di Sukabumi, yakni RS DKH Cibadak.

Untuk diketahui, PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) merupakan manajemen rumah sakit milik keluarga Umar Wirahadikusumah.

Selain RS DKH CIbadak, perseroan juga mengelola dua rumah sakit lainnya, yakni RS DKH Kedungwaringin dan DKH Sukatani yang sama-sama berlokasi di Kabupaten Bekasi.

Adapun, perincian dari penggunaan dana IPO perseroan yakni sekitar Rp 40,76 miliar akan digunakan untuk pembangunan gedung baru di sekitar area rumah sakit DKH Cibadak.

Perseroan akan membangun gedung lima lantai yang akan menyediakan sejumlah fasilitas, diataranya fasilitas poliklinik, rawat inap eksekutif serta penyediaan rawan inap KRIS atau Kelas Rawat Inap Standar yang merupakan sistem baru yang menyamaratakan pelayanan rawat inap tanpa membedakan kelas peserta BPJS.

Manajemen DKHH menyebutkan bahwa saat ini, tingkat utilisasi layanan poliklinik DKH CIbadak telah mencapai sekitar 80%, sedangkan layanan rawat inap eksekutif memiliki tingkat utilisasi sekitar 82%, yang mencerminkan tingginya kebutuhan akan perluasan fasilitas rawat jalan dan rawat inap.

 

Pembelian CT-Scan

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Jumat (22/9/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selanjutnya, perseroan juga akan menggunakan sekitar Rp 3,62 miliar dana IPO untuk belanja modal berupa pembelian CT-Scan serta alat medis dan non-medis yang akan digunakan RS DKH Cibadak. Kemudian, sekitar Rp612 juta dialokasikan untuk merenovasi RS DKH Cibadak yang ada saat ini.

Sisanya, akan dipakai untuk modal kerja termasuk namun tidak terbatas pada biaya pemasaran dalam rangka peningkatan branding Perseroan serta pembayaran vendor obat atau farmasi dengan mekanisme pembelian secara Purchase Order (PO).

Selain saham baru, perseroan juga akan menerbitkan 265 juta waran atau 13,12% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran dengan rasio 2:1. Artinya, setiap dua saham baru milik investor berhak memperoleh 1 waran dengan harga pelaksanaan Rp155 per waran.

Jika seluruh waran dieksekusi, maka perseroan berpotensi mendapatkan tambahan modal maksimal Rp 41,07 miliar. Periode penawaran umum dimulai hari ini, 2 Mei 2025 dan akan berakhir pada 6 Mei 2025. Adapun, pencatatan saham dan waran di Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan bisa dilakukan pada 8 Mei 2025.

 

Valuasi Menarik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menguat hampir lima persen lebih tinggi pada pembukaan 10 April 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Lebih lanjut, manamemen DKHH mengungkapkan, dengan menggunakan laba bersih periode 31 Oktober 2024, maka penetapan harga saham IPO DKHH mencerminkan price to earning ratio (PER) sebesar 34,02x dan nilai buku atau price to book value (PBV) sebesar 2,07x.

Jika dibandingkan dengan PER dan PBV rata-rata perusahaan publik tercatat di industri sejenis yang masing-masing mencapai 231,02x dan 2,22x pada periode yang sama, maka PER dan PBV DKHH lebih rendah, jadi, valuasi saham DKHH cukup menarik dibandingkan perusahaan sejenis yang listing di BEI.

Sepanjang Januari-Oktober 2024, perseroan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 15,68% menjadi Rp126,03 miliar seiring dengan bertambahnya jumlah fasilitas tempat tidur (bed) dan fasilitas kamar. Namun, dengan adanya ekspansi yang dilakukan, perseroan harus membayar bunga pinjaman lebih tinggi sehingga menyebabkan laba bersih tahun berjalan terkikis dari Rp5,33 miliar menjadi Rp2,17 miliar.

 

JKN dan Asuransi Swasta

DKHH akan terus melakukan ekspansi mengingat prospek usaha rumah sakit secara global dinilai sangat menjanjikan. Hal ini seiring terjadinya pertumbuhan populasi dan penuaan penduduk. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi dunia diperkirakan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050, dengan proporsi penduduk usia 65 tahun ke atas yang meningkat signifikan. Kondisi tersebut akan mendorong permintaan perawatan kesehatan.

Selain itu, upaya pemerintah yang terus memperluas cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan akan berdampak signifikan bagi emiten rumah sakit yang memiliki porsi pasien BPJS besar.

Belum lagi, penetrasi asuransi kesehatan swasta yang meningkat turut berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan emiten rumah sakit yang melayani pasien kelas menengah ke atas. Adapun, saat ini, DKHH Hospital Groups melayani kedua sistem pelayanan tersebut, yakni melalui BPJS Kesehatan dan juga asuransi.

 

 

Tentang Perusahaan PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH)

PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) atau DKH Hospital Groups merupakan rumah sakit milik keluarga Umar Wirahadikusumah, Wakil Presiden RI periode 1983-1988. DKH Hospital Groups mendirikan rumah sakit pertama tahun 2014 bernama RS Kartika Cibadak namun sudah beralih nama menjadi RS DKH Cibadak. RS DKH Cibadak merupakan rumah sakit tipe C.

Pada 2022, DKH Hospital Groups mengakuisisi PT As Shofwan Tunggal Mandiri pemilik RS As Shofwan, rumah sakit tipe D yang kemudian naik kelas menjadi rumah sakit tipe C setelah dikelola perseroan dan berubah nama menjadi RS DKH Kedungwaringin. Pada 2023, DKH Hospital Groups Kembali mengakuisisi pengelola rumah sakit tipe D RS Kasih Insani, yakni PT Mutiara Persada Abadi dan saat ini bernama RS DKH Sukatani.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya