Liputan6.com, Palembang - Pelaporan ke polisi terkait aksi masak rendang 200 Kilogram (Kg) yang digelar konten kreator Willie Salim di bulan Ramadan 2025, pada Selasa (18/3/2025) lalu, belum juga ada titik terangnya.
Padahal warga Palembang sudah melaporkan Willie Salim ke Polda Sumsel pada Senin (24/3/2025) 2025 lalu, tetapi laporan tersebut akhirnya dilimpahkan ke Polrestabes Palembang.
Advertisement
Sultan Mahmud Badaruddin IV Fauwaz Diradja berkata, dirinya sempat berkomunikasi melalui video call dengan Ustaz Derry Sulaiman dan Willie Salim. Dalam percakapan tersebut, Willie Salim sempat meminta maaf dan berjanji akan ke Palembang untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
“Dia (Willie Salim) sudah meminta maaf, katanya mau datang ke Palembang. Tapi belum ada kabar sampai sekarang. Ustaz Derry Sulaiman juga meminta warga Palembang untuk cooling down, sembari menunggu (kedatangan Willie Salim),” ucapnya saat menggelar konferensi pers di Kafe Proklamasi Palembang, Jumat (2/5/2025).
Pada Rabu (30/4/2025) malam, Sultan SMB IV Palembang juga sudah mengundang para pelapor untuk duduk bersama dalam pertemuan silaturahmi di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam. Turut hadir dalam pertemuan itu pengacara Ryan Gumay, pelapor Verrel Amartya, Agung, dan Koalisi Masyarakat Palembang Gugat WS.
Sultan Palembang ini menyesalkan janji Willie Salim hingga sekarang belum terealisasi, sedangkan dampak buruk dari konten kreator terhadap citra Palembang masih belum mereda.
Pemilihan kata-kata yang menarik perhatian penonton, memang menjadi hal yang lumrah. Namun berbeda dengan konten yang dibuat Willie Salim, yang menyudutkan warga Palembang. Walaupun disengaja atau tidak disengaja, tetapi menimbulkan ujaran kebencian bagi Kota Palembang dan masyarakatnya di mata publik.
“Memang konten memilih kata-kata bombastis, tapi menunjuk ke wilayah kota, jadinya tersinggung. Mau sengaja atau tidak sengaja, tapi itu sudah terjadi,” ujarnya.
Dia mewakili seluruh masyarakat Sumsel meminta Willie Salim untuk datang langsung ke Palembang, untuk meminta maaf. Salah satunya dengan melakukan tepung tawar, tradisi masyarakat Melayu untuk menunjukkan niat tulus meminta maaf setelah melakukan perbuatan salah.
Lalu ada tradisi makan nasi kuning bersama-sama, yang juga menjadi tradisi bersedekah yang dilakukan untuk mempererat hubungan antar-manusia.
“Tepung tawar itu hanya istilah, namun maknanya adalah berkumpul bersama-sama dan menyampaikan permintaan maaf ke masyarakat Palembang,” katanya.
Tradisi tepung tawar ternyata tak hanya jadi sarana permohonan maaf saja, tapi juga bisa dilakukan untuk menolak balak, menggelar pernikahan atau syukuran atas kelahiran anak.
Khusus untuk tradisi tepung tawar permintaan maaf, ada berbagai macam yang sudah jadi tradisi sejak turun temurun, mulai dari Tepung Tawar Cempalo Mulut, Mato dan Tangan.
Cempalo Mulut
“Itu maknanya, orang yang ada kesalahan harus meminta maaf dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Dan keluarga atau orang-orang yang dirugikan, akan menerimanya. Memang namanya ditepung, tapi tradisi untuk makan-makan dan bersedekah,” katanya.
Yang dilakukan Willie Salim tersebut, termasuk dalam kategori Cempalo Mulut. Karena ucapannya, warga Palembang dicap buruk sebagai orang yang tidak mau nurut, sulit diatur, bertindak seenaknya dan lainnya.
Bahkan, aksi masak rendang Willie Salim tersebut, sangat jauh dari perbuatan sedekah. Karena ucapannya yang menyebut rendangnya hilang, seolah-olah tidak benar-benar berniat untuk bersedekah ke warga Palembang.
“Bagikan sedekah tapi sebutannya hilang, seolah mempermainkan saja itu. Apalagi di Sumsel, tradisi membagikan daging sapi itu sudah hal lumrah, bahkan jumlahnya banyak. Seperti tradisi kondangan atau saat kurban, jadi bukan hal yang langka,” ucapnya.
Kendati digelar tradisi tepung tawar, proses hukum yang ditujukan ke Willie Salim tetap harus berjalan, agar tetap bisa menunjukkan marwah Kota Palembang yang tak bisa diremehkan begitu saja.