Dorong Hilirisasi, Wapres Gibran Dorong Komoditas Unggulan Kelautan dan Perikanan

Demi merealisasikan hilirisasi, Gibran menyoroti sejumlah tantangan seperti kebutuhan kawasan industri yang lengkap dengan cold storage, akses permodalan bagi nelayan dan UMKM, penggunaan teknologi efisien dan ramah lingkungan, serta pemberantasan illegal fishing.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 02 Mei 2025, 09:23 WIB
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan, Indonesia berada dalam momen yang sangat menentukan karena berada di tengah beragamnya tantangan global. (Youtube Sekretariat Wapres).

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong percepatan hilirisasi sektor kelautan dan perikanan nasional. Dia menyebut, ada sejumlah komoditas unggulan yang dimiliki Indonesia yakni rumput laut, ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rajungan, tilapia, dan garam.

“Indonesia adalah produsen tuna, cakalang, dan tongkol terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 1,5 juta ton per tahun. Ini potensi besar yang harus kita olah,” kata Gibran melalui channel youtube pribadinya, seperti dikutip Jumat (2/5/2025).

Demi merealisasikan hilirisasi, Gibran menyoroti sejumlah tantangan seperti kebutuhan kawasan industri yang lengkap dengan cold storage, akses permodalan bagi nelayan dan UMKM, penggunaan teknologi efisien dan ramah lingkungan, serta pemberantasan illegal fishing.

Menurut dia, kekayaan laut Indonesia sangat melimpah namun belum dimaksimalkan karena sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah. Salah satunya rumput laut yang memiliki potensi produksi mencapai 9,7 juta ton.

“Bayangkan jika ribuan ton rumput laut yang selama ini kita jual mentah ke luar negeri bisa diolah dulu menjadi kosmetik. Nilai tambahnya bisa 15 sampai 30 kali lipat,” ujar putra sulung Joko Widodo ini.

Gibran menambahkan, potensi pengolahan rumput laut juga bisa menjadi berbagai produk turunan seperti bioplastik, bioavtur, pupuk, hingga bahan farmasi. 

Selain rumput laut, lanjut Gibran, terdapat 7,4 juta ton hasil perikanan tangkap dan 5,6 juta ton ikan budidaya per tahunnya yang belum sepenuhnya memberikan dampak kesejahteraan karena pengolahan di dalam negeri masih minim.

Gibran optimis, jika potensi tersebut dimaksimalkan maka hilirisasi membuka lapangan kerja di berbagai bidang seperti industri, kimia, desain kemasan, pemasaran, hingga jasa logistik dan perdagangan. 

Dia pun mengajak kepada mereka yang masih menempuh pendidikan di bidang teknologi, industri, perikanan, atau farmasi untuk ikut berpartisipasi berinovasi dan penelitian terkait bidang potensial yang dimiliki Indonesia.

"Ini adalah kerja bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, yuk bisa yuk," Gibran memungkasi.

Gibran: Hilirisasi Bukan Cuma Membangun Pabrik dan Milik Pengusaha Elit

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan, hilirisasi bukan cuma soal membangun pabrik dan bukan cuma milik pengusaha elit. Menurut dia, hilirisasi adalah soal keadilan dan masa depan. 

"Karena hilirisasi yang ingin kita lakukan adalah hilirisasi yang berkeadilan, yang melibatkan petani, peternak, nelayan, UMKM, masyarakat, dan tentunya anak muda," kata Gibran seperti dikutip dari channel youtube pribadinya, gibrantv seperti dikurip Sabtu (26/4/2025).

Gibran percaya, jika hilirisasi berhasil, petani akan mendapatkan harga yang lebih baik, tidak takut harga anjlok saat panen karena industri pengolahan siap menampung. Selain itu, geliat UMKM bisa lebih maju karena dikerjasamakan dengan industri pengolahan yang lebih besar. 

"Ekonomi sekitar jadi lebih menggeliat karena lapangan kerja terbuka, tenaga kerja terserap, sehingga daya beli meningkat," yakin putra sulung Joko Widodo ini.

Gibran pun optimis, dengan hilirisasi nantinya daerah juga memiliki sumber pendapatan baru yang bisa digunakan untuk membangun jalan, memperbaiki fasilitas kesehatan, dan lain-lain. 

Dengan segudang hal baik, Gibran mengamini banyak tantangan yang harus dihadapi. Sebab sebuah perubahan pasti membutuhkan kalibrasi.

"Dengan optimisme, kerja keras, lompatan kecil dari masing-masing kita, suatu saat akan menjadi langkah besar bersama yang membawa kemajuan bagi bangsa," Gibran menandasi.

Sekedar Kaya Saja Tidak Cukup

Gibran menegaskan, Indonesia adalah negara yang kaya namun sebatas kaya saja nyatanya tidaklah cukup.

"Kita tentu sangat bersyukur Indonesia dianugrahi sumber daya alam yang luar biasa. Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Cadangan timah kita terbesar kedua di dunia. Kita juga penghasil rumput laut terbesar kedua dunia, serta masih banyak lagi. Tapi nyatanya sekedar kaya saja ternyata tidak cukup," kata Gibran.

Gibran menyatakan, hal tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam mengolah kekayaan alam. Tujuannya, agar punya nilai tambah maksimal bagi masyarakat. 

"Coba bayangkan Indonesia sempat menjadi eksportir biji bauksit terbesar ketiga dunia. Sayangnya Indonesia hanya menempati urutan ke 31 sebagai pengekspor panel surya. Padahal ketika bauksit diolah menjadi panel surya nilainya bertambah 194 kali lipat. Besar sekali," ungkap Gibran.

Namun Gibran mencatat, hilirisasi tidak melulu hanya soal batubara atau minerba. Hilirisasi bisa dilakukan di sektor lain. Pertanian, kelautan, perkebunan, bahkan digital. 

"Jadi inti dari hilirisasi adalah pengolahan yang menghasilkan nilai tambah. Sehingga selain mendapatkan keuntungan dari harga jual, dengan melakukan pengolahan kita juga bisa membuka lapangan kerja, memberdayakan UMKM, mengeliatkan ekonomi, dan mendapatkan pemasukan negara dari pacak, royalti, PNPB, dividen, maupun bea ekspor," dorong Gibran.

Gibran ingin hal yang dilakukan negara-negara lain, bahkan oleh negara yang tidak memiliki sumber daya alam sekali pun bisa dilakukan oleh Indonesia.

"Mereka mengimpor bahan mentah, diolah, kemudian diekspor lagi, termasuk ke negara asal sumber daya alam itu sendiri. Lalu nilai tambahnya kemana? Uangnya yang dapat siapa? Lapangan kerjanya siapa yang menikmati? Ya negara yang mengolah itu," Gibran menandasi.

Infografis Skincare Lokal. (Liputan6.com/Triyasni)  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya