Peringatan May Day 2025, Ini 4 Tokoh Perburuhan di Indonesia yang Menginspirasi

Peringatan May Day 2025, mari mengenang Marsinah, Muchtar Pakpahan, Wiji Thukul, dan Jacob Nuwa Wea; tokoh-tokoh inspiratif yang memperjuangkan hak buruh di Indonesia.

oleh Fitriyani Puspa SamodraDiterbitkan 01 Mei 2025, 13:00 WIB
Buruh dari berbagai aliansi melakukan aksi damai dalam rangka Hari Buruh Internasional di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (1/5/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Setiap tanggal 1 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal dengan May Day. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen penting untuk mengenang sejarah panjang perjuangan kelas pekerja dalam menuntut hak-haknya.

Akar peringatan ini dapat ditelusuri hingga peristiwa Haymarket Affair yang terjadi di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. Sebuah demonstrasi besar berujung  pada kekerasan terjadi dan menandai titik balik dalam perjuangan buruh untuk jam kerja yang manusiawi, yakni maksimal delapan jam per hari.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan tersebut, Konferensi Sosialis Internasional tahun 1889 kemudian menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak itu, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, ikut serta memperingatinya sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan serta seruan atas keadilan sosial bagi para pekerja.

Di Indonesia sendiri, Hari Buruh pertama kali dirayakan pada 1 Mei 1918 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee di Semarang. Meskipun gerakan buruh sempat mengalami pasang surut, api perjuangan kaum pekerja tetap menyala. Mereka berjuang tak hanya untuk peningkatan kesejahteraan, tetapi juga untuk pengakuan hak-hak dasar sebagai manusia dan warga negara. Berikut tokoh perburuhan Indonesia yang menginspirasi, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (1/5/2025)

1. Marsinah – Simbol Perjuangan dan Pengorbanan Kaum Buruh

Para buruh yang tergabung dalam berbagai serikat menggelar aksi memperingati 22 tahun tanpa keadilan "Malam Marah Marsinah" di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Jakarta, Jumat (8/5/2015). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Marsinah merupakan ikon perjuangan buruh Indonesia. Lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Marsinah dikenal vokal dalam menyuarakan hak-hak buruh, dan aktif dalam perundingan serta aksi menuntut keadilan bagi pekerja.

Namun, perjuangannya berakhir tragis. Setelah mengikuti aksi protes pada 1993, ia diculik, disiksa, dan akhirnya ditemukan tewas pada 9 Mei 1993. Kasusnya menjadi simbol pelanggaran HAM berat di Indonesia dan menarik perhatian dunia internasional, termasuk Organisasi Buruh Internasional (ILO). Hingga kini, nama Marsinah selalu disebut dalam setiap peringatan Hari Buruh sebagai wujud peringatan terhadap kezaliman dan keberanian seorang buruh perempuan dalam memperjuangkan keadilan.

2. Muchtar Pakpahan – Pendobrak Sistem Orde Baru

Muchtar Pakpahan adalah tokoh penting dalam sejarah gerakan buruh Indonesia modern. Ia mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) pada awal 1990-an, di tengah dominasi satu-satunya serikat buruh resmi saat itu, yaitu SPSI yang didukung Orde Baru. SBSI menjadi serikat independen pertama dan menjadi wadah perlawanan buruh terhadap kebijakan yang tidak adil.

Akibat aktivitasnya, Muchtar beberapa kali dipenjara pada era Orde Baru, namun ia tidak surut dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Ia juga mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat pada 2003. Walau akhirnya meninggalkan dunia politik, Muchtar tetap aktif sebagai pengacara dan pengajar hingga wafat karena kanker pada 21 Maret 2021. Keberaniannya melawan sistem yang represif menjadikannya pelopor reformasi gerakan buruh di Indonesia.

3. Wiji Thukul – Suara Rakyat dalam Puisi Perlawanan

Setelah lebih dari 17 tahun, Waji Thukul dan aktivis lainnya masih belum kembali.

Meskipun bukan buruh secara langsung, Wiji Thukul adalah sosok seniman yang menjadikan puisi sebagai alat perjuangan kelas pekerja. Lahir di Solo pada 26 Agustus 1963 dari keluarga tukang becak, Wiji memahami penderitaan rakyat kecil sejak kecil. Ia menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan aktif menyuarakan ketidakadilan lewat puisi dan orasi dalam berbagai aksi buruh dan rakyat miskin kota.

Setelah peristiwa Kudatuli (27 Juli 1996), Wiji menjadi buronan politik. Ia terakhir kali terlihat pada tahun 1998 dan hingga kini keberadaannya tidak diketahui. Ketiadaan jasadnya menjadikan Wiji Thukul sebagai simbol "yang hilang karena lantang". Puisinya seperti "Hanya Satu Kata: Lawan!" terus bergema sebagai suara perlawanan kaum buruh dan rakyat tertindas.

4. Jacob Nuwa Wea – Dari Buruh ke Kursi Menteri

Jacob Nuwa Wea adalah sosok buruh yang berhasil menembus lingkaran pemerintahan dan membawa aspirasi pekerja dari dalam sistem. Lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 14 April 1944, Jacob aktif dalam organisasi buruh sejak muda. Ia menjabat sebagai Ketua Konfederasi SPSI dan juga aktif dalam PDIP.

Pada tahun 2001, Jacob diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam Kabinet Gotong Royong oleh Presiden Megawati. Salah satu warisannya yang monumental adalah Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang hingga kini menjadi dasar hukum ketenagakerjaan di Indonesia. Jacob meninggal pada 9 April 2016, namun perannya dalam memperjuangkan hak-hak pekerja dari dalam sistem pemerintahan tetap dikenang sebagai salah satu langkah penting dalam sejarah buruh nasional.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya