Pasola, Ritual Perang Kayu di Tanah Sumba

Konon, pasola pertama kali digelar sebagai cara melupakan duka setelah seorang janda cantik dibawa kabur oleh pemuda dari kampung lain

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 03 Mei 2025, 01:00 WIB
Sejumlah perempuan dan anak-anak membawa sesaji pinang saat prosesi di Desa Ratenggaro sebelum Festival Pasola tahunan, sebuah ritual pertempuran menunggang kuda di Pulau Sumba. (AFP Photo/Romeo Gacad)

Liputan6.com, Sumba - Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah tradisi bernama pasola. Ritual ini melibatkan dua kelompok pemuda berkuda yang saling melempar lembing kayu.

Mengutip dari berbagai sumber, pasola berakar dari kepercayaan Marapu, agama asli masyarakat Sumba. Tradisi ini dikaitkan dengan legenda tentang perselisihan dua kampung akibat kisah cinta terlarang.

Konon, pasola pertama kali digelar sebagai cara melupakan duka setelah seorang janda cantik dibawa kabur oleh pemuda dari kampung lain. Ritual ini kemudian berkembang menjadi simbol perdamaian sekaligus uji keberanian.

Masyarakat Sumba percaya bahwa darah yang tumpah selama pasola membawa berkah. Menurut kepercayaan setempat, semakin banyak darah yang mengalir, tanah akan semakin subur dan panen melimpah.

Jika ada korban jiwa, hal itu dianggap sebagai hukuman dewa atas pelanggaran adat yang dilakukan warga sebelumnya. Pasola tidak bisa dilaksanakan sembarangan.

Ritual ini diawali dengan upacara Nyale, yaitu pencarian cacing laut di pantai saat bulan purnama. Para rato (pemuka adat) memeriksa kondisi cacing tersebut.

Jika cacing gemuk dan berwarna cerah, pertanda tahun itu akan membawa keberuntungan. Sebaliknya, cacing yang kurus dianggap pertanda malapetaka.

 

Cedera Serius

Pasola digelar di padang luas dengan ratusan peserta dari dua kelompok berbeda. Mereka menggunakan lembing kayu beringin yang ujungnya diruncingkan namun tetap tumpul untuk mengurangi risiko fatal.

Meski begitu, cedera serius kerap terjadi. Para peserta menunggang kuda dengan lincah sambil melempar lembing ke arah lawan.

Keahlian menghindar dan ketangkasan berkuda menjadi kunci utama. Suara derap kuda, teriakan penunggang, dan sorak penonton memenuhi udara saat pasola berlangsung.

Para perempuan bersorak memberi semangat, sementara penonton lokal maupun wisatawan menyaksikan. Darah yang menetes dianggap sebagai bagian dari ritual, bukan sekadar luka biasa.

Pasola digelar setahun sekali antara Februari hingga Maret, bergilir di beberapa kecamatan di Sumba Barat. Tradisi ini menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung kekayaan budaya Sumba.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya