Ilmuwan Temukan Awan Molekuler Raksasa di Dekat Bima Sakti

Eos justru teridentifikasi melalui pancaran cahaya ultraviolet jauh (far-ultraviolet/FUV) dari hidrogen molekuler. Penemuan ini dimungkinkan berkat instrumen FIMS-SPEAR, sebuah spektrograf ultraviolet jauh yang dipasang pada satelit Korea Selatan STSAT-1.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 01 Mei 2025, 03:00 WIB
Ilustrasi malam hari, Milky Way, Galaksi Bima Sakti. (Photo by Johannes Plenio from Pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan mengungkap keberadaan sebuah awan molekuler raksasa yang sebelumnya tidak terdeteksi, meskipun letaknya relatif dekat dengan tata surya. Awan ini dinamai Eos, merujuk pada dewi fajar dalam mitologi Yunani, karena ia membawa "cahaya baru" dalam pemahaman manusia tentang lingkungan antar bintang.

Dikutip dari laman Phys pada Rabu (30/04/2025), penemuan Eos dilaporkan oleh tim ilmuwan melalui jurnal ilmiah. Awan ini terletak sekitar 300 tahun cahaya dari bumi, menjadikannya bagian dari lingkungan galaksi yang dekat secara kosmis.

Namun, Eos selama ini lolos dari deteksi karena sifatnya yang unik. Awan ini hampir seluruhnya terdiri dari gas hidrogen molekuler (H₂) tanpa jejak karbon monoksida (CO) yang biasa digunakan sebagai indikator dalam observasi awan molekuler.

Sebagian besar awan molekuler biasanya dideteksi melalui gelombang radio atau inframerah karena kandungan CO yang memancarkan sinyal khas. Namun, Eos adalah awan “CO-dark”, artinya tidak menunjukkan emisi CO sehingga tidak tertangkap oleh metode deteksi konvensional.

Eos justru teridentifikasi melalui pancaran cahaya ultraviolet jauh (far-ultraviolet/FUV) dari hidrogen molekuler. Penemuan ini dimungkinkan berkat instrumen FIMS-SPEAR, sebuah spektrograf ultraviolet jauh yang dipasang pada satelit Korea Selatan STSAT-1.

Meskipun data pengamatan dikumpulkan sejak lama, barulah pada 2023 ilmuwan bernama Burkhart dan timnya menyadari pola emisi aneh yang mengindikasikan keberadaan awan molekuler raksasa yang tidak biasa.Eos memiliki massa sekitar 3.400 kali massa matahari, dan membentang di langit dengan ukuran sekitar 40 kali diameter bulan purnama.

Hal ini menjadikannya salah satu struktur paling masif dan luas yang pernah diamati di langit malam. Meski ukurannya kolosal, ketiadaan emisi CO menyebabkan Eos tersembunyi dari pandangan para astronom selama beberapa dekade.

 

6 Juta Tahun

Para peneliti memperkirakan bahwa awan ini akan menguap atau terdispersi dalam waktu sekitar 6 juta tahun, sebuah rentang waktu yang singkat dalam skala kosmik. Selama masa hidupnya, Eos berpotensi menjadi tempat lahirnya bintang-bintang baru, sebagaimana lazimnya fungsi awan molekuler dalam evolusi galaksi.

Awan molekuler seperti Eos adalah bahan mentah utama bagi pembentukan bintang dan planet. Di dalam medium antar bintang, gas dan debu saling berinteraksi, bergabung membentuk struktur yang kelak bisa runtuh oleh gravitasinya sendiri dan memicu proses pembentukan bintang.

Keberadaan Eos memperluas cakrawala ilmuwan terhadap populasi awan molekuler "gelap" yang mungkin selama ini terabaikan karena tidak memancarkan sinyal konvensional. Lebih jauh lagi, penemuan Eos menyoroti pentingnya hidrogen molekuler sebagai warisan langsung dari Big Bang.

Hidrogen adalah elemen pertama dan paling melimpah di alam semesta. Hidrogen dalam Eos dapat ditelusuri asal-usulnya hingga 13,6 miliar tahun lalu, menunjukkan bagaimana atom-atom purba bermigrasi, berkumpul, dan membentuk struktur baru di galaksi kita.

(Tifani)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya