Peringati Hari Warisan Dunia, Indonesia Tegaskan Komitmen Jaga Warisan Budaya

Hari Warisan Dunia, yang diperingati setiap tanggal 18 April, merupakan momen penting untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya melindungi warisan budaya dan alam.

oleh Tim NewsDiterbitkan 29 April 2025, 10:03 WIB
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menyelenggarakan seminar bertajuk Gedung Merdeka dan Nilai Warisan Dunia di Gedung Merdeka, Bandung. (Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Dalam memperingati Hari Warisan Dunia yang bertepatan dengan peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan seminar bertajuk Gedung Merdeka dan Nilai Warisan Dunia di Gedung Merdeka, Bandung.

Acara ini menjadi wadah untuk mendalami makna pelestarian warisan budaya dunia, memperkaya pemahaman, dan menggali inspirasi untuk masa depan.

BACA JUGA: Situs Warisan Dunia di Iran Rusak Akibat Serangan Israel, UNESCO Angkat Suara

Hari Warisan Dunia, yang diperingati setiap tanggal 18 April, merupakan momen penting untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya melindungi warisan budaya dan alam.

Tahun ini, tema global yang diangkat adalah Disaster and Conflict Resilient Heritage. Tema ini mengingatkan kita pada ancaman nyata yang dihadapi warisan budaya dan alam akibat bencana alam dan konflik antarnegara.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya, menekankan bahwa warisan budaya, baik dalam bentuk situs, memori kolektif, maupun nilai-nilai luhur, merupakan jembatan penghubung antar generasi dan perekat hubungan antar bangsa.

"Kondisi geopolitik global yang kian tidak menentu, ketegangan antar bangsa, dan konflik bersenjata membawa dampak langsung terhadap pelestarian warisan dunia," ungkap Menteri Fadli.

Ia mencontohkan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, di mana data UNESCO mencatat ratusan situs warisan budaya di Gaza hancur akibat agresi militer Israel.

"Ini merupakan bentuk cultural genocide yang menghantam akar peradaban dan memutus transmisi nilai-nilai identitas kolektif bangsa Palestina," tegasnya.

Seminar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai bidang, seperti Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, Direktur Preservasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Agus Santoso, Perwakilan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Daud Aris Tanudirjo, Perwakilan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Indonesia, Yunus Arbi dan banyak lagi.

Menteri Kebudayaan mengingatkan bahwa amanat konstitusi dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. "Ini adalah perintah konstitusi yang imperatif," tegasnya.

Komitmen Indonesia untuk melestarikan warisan budaya diperkuat melalui sejumlah regulasi nasional, seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta ratifikasi Konvensi UNESCO 1972. Berkat komitmen ini, Indonesia telah melestarikan sepuluh warisan dunia dan mengajukan delapan belas situs dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO.

Meskipun demikian, Fadli mengingatkan bahwa warisan dunia di Indonesia juga menghadapi ancaman nyata. Risiko kebakaran, gempa bumi, erupsi gunung berapi, serta tekanan akibat pariwisata massal dan pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan yang harus diatasi.

Cermin Peradaban

"Warisan dunia adalah cermin peradaban kita. Menjaganya berarti menjaga identitas, martabat, dan masa depan bangsa," tegasnya.

Dalam kesempatan memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika, Fadli menekankan pentingnya menjaga Bandung Spirit atau Dasasila Bandung. Nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian yang diwariskan dari Konferensi Asia Afrika menjadi semakin relevan dalam situasi geopolitik dunia yang kian tidak menentu.

"Indonesia harus menjadi bangsa yang terhormat, bangsa pemimpin, bukan sekadar pengikut. Semangat ini juga yang ingin dikedepankan dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto," tambahnya.

Seminar Gedung Merdeka dan Nilai Warisan Dunia terbagi dalam beberapa sesi yang membahas berbagai aspek pelestarian warisan budaya.

Sesi pertama membahas Arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok sebagai Memory of the World UNESCO dengan menghadirkan Agus Santoso, Direktur Preservasi ANRI.

Sesi kedua bertema World Heritage dan Warisan KAA, dibawakan oleh Daud Aris Tanudirdjo dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), yang menyoroti keterkaitan nilai sejarah KAA dalam kerangka Warisan Dunia.

Sesi terakhir, sebagai catatan penutup, menghadirkan Prakarsa Kota Bandung Mengajukan Cagar Budaya Nasional Gedung Merdeka Sebagai Tapak Warisan Dunia oleh Yunus Arbi dari International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Indonesia. Pemaparan ini mempertegas upaya Kota Bandung untuk memperjuangkan Gedung Merdeka sebagai bagian dari daftar Warisan Dunia UNESCO.

Seminar ini diharapkan tidak hanya menghasilkan data dan sejarah, tetapi juga mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Konferensi Asia Afrika untuk memperkaya kehidupan berbangsa dan bernegara di masa kini.

Iendra Sofyan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, berharap momentum ini dapat memperkuat semangat pelestarian warisan budaya dan nilai-nilai Konferensi Asia Afrika bagi generasi masa depan.

"Mari bersama-sama menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali semangat Bandung untuk dunia yang lebih damai dan berkeadilan," tukasnya.

 

Infografis Tahap Pengajuan Kebaya Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya