Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau disebut PGE (PGEO) mengumumkan laporan keuangan kuartal I 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Maret 2025, PGE membukukan pendapatan sebesar USD 101,51 juta sepanjang kuartal I 2025. Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 31,37 juta. Demikian dikutip dalam laporan keuangan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 28 April 2025.
Advertisement
Berdasarkan keterangan resmi Perseroan, di tengah dinamika industri energi dan kontraksi ekonomi secara global, PGE menegaskan komitmennya untuk mendorong hadirnya ekosistem energi berkelanjutan dengan memastikan berjalannya percepatan transisi energi serta tercapai kedaulatan energi nasional melalui pemanfaatan energi panas bumi.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik global memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, menciptakan ketidakpastian dalam investasi dan pengembangan energi bersih.
Fluktuasi ekonomi dan volatilitas nilai tukar juga turut berdampak pada investasi, pendanaan, dan percepatan proyek energi terbarukan, termasuk panas bumi.
"Kendati demikian, fundamental keuangan PGE tetap kokoh untuk menopang rencana pertumbuhan jangka panjang," demikian seperti dikutip.
Mengacu pada laporan keuangan interim per 31 Maret 2025, PGE membukukan:
● Total Aset: USD 3,03 miliar, naik 0,93% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
● Ekuitas: USD 2,04 miliar, meningkat 1,56%.
● Kas dan Setara Kas: USD 703,86 juta, tumbuh 7,43%.
● Kas Bersih dari Aktivitas Operasi: USD 77,47 juta, naik 12,04% secara YoY.
Penguatan fundamental di tengah tantangan
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Yurizki Rio mengatakan, kinerja kas operasional yang kuat membuktikan efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan manajemen.
Ia menilai, hasil yang diraih sejauh ini juga menunjukkan kinerja perusahaan masih tetap berada di jalur bisnis yang kuat dalam mendukung terwujudnya transisi energi nasional, sekaligus juga upaya mengejar target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) yang dikelola secara mandiri dalam 2-3 tahun mendatang.
“Kami berkomitmen mempercepat pengembangan panas bumi dengan mengoptimalkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, kami menerapkan strategi belanja yang diarahkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang,” ujar Yurizki Rio, seperti dikutip dari keterangan resmi Perseroan, Senin (28/4/2025).