Egrang, Permainan Tradisional yang Menyebar dan Bertahan di Nusantara

Sementara itu di Jawa Tengah dikenal sebagai jangkungan. Masyarakat Kalimantan Selatan menyebutnya batangkau, dan di Sulawesi Selatan, permainan ini bernama longga atau dongga.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 01 Mei 2025, 07:00 WIB
cara bermain egrang ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Liputan6.com, Yogyakarta - Egrang, permainan tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu, dikenal sebagai alat untuk melatih keseimbangan dan ketangkasan. Nama egrang berasal dari bahasa Lampung, yang berarti terompah pancung.

Meskipun asalnya dari Lampung, permainan ini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dengan nama dan variasi yang berbeda. Di Jawa Barat, egrang disebut jajangkungan.

Sementara itu di Jawa Tengah dikenal sebagai jangkungan. Masyarakat Kalimantan Selatan menyebutnya batangkau, dan di Sulawesi Selatan, permainan ini bernama longga atau dongga.

Mengutip dari berbagai sumber, setiap daerah memiliki ciri khas dalam pembuatan maupun cara memainkannya. Bahan utama egrang adalah bambu karena ringan dan kuat.

Bambu dipotong dengan panjang tertentu, lalu diberi pijakan kaki sekitar 30-50 cm dari dasar. Beberapa daerah menggunakan tempurung kelapa sebagai pengganti bambu, terutama di masyarakat Jawa.

Pemain mengikatkan tempurung kelapa ke kaki dengan tali, lalu berjalan dengan satu kaki diangkat lebih tinggi. Permainan ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Catatan tentang egrang juga ditemukan dalam buku Javanese Kinder Spellen sebagai salah satu permainan tradisional yang populer di kalangan anak-anak. Selain sebagai hiburan, egrang juga digunakan dalam berbagai festival dan atraksi budaya.

 

Pincang

Di Sumatera Barat, egrang dikenal dengan nama tengkak-tengkak. Nama tersebut berasal dari kata tengkak berarti pincang.

Sementara di Bengkulu, kata yang sama merujuk pada sepatu bambu. Perbedaan penamaan menunjukkan bagaimana egrang beradaptasi dengan budaya lokal.

Anak-anak yang bermain egrang melatih keseimbangan, fokus, dan keberanian. Di beberapa daerah, egrang dimainkan dalam lomba, baik untuk anak-anak maupun dewasa.

Meskipun teknologi modern telah menggeser banyak permainan tradisional, egrang masih bertahan di beberapa komunitas. Beberapa sanggar budaya dan sekolah memasukkan egrang sebagai bagian dari pelestarian warisan nusantara.

Di daerah pedesaan, egrang masih sering dimainkan saat perayaan festival rakyat. Permainan ini tidak hanya ditemukan di Indonesia.

Beberapa negara Asia seperti Vietnam dan Filipina juga memiliki versi egrang dengan nama berbeda. Akan tetapi, egrang Indonesia tetap memiliki keunikan dalam bentuk dan cara memainkannya.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya