Liputan6.com, Yogyakarta - Di usianya ke-31 tahun, ikon fashion lokal Daerah Istimewa Yogyakarta, Dagadu kembali mengajak group music Shaggydog berkolaborasi dalam kreasi desain budaya lokal dan isu sosial. Membidik segmen pasar generasi Z dan Alfa, Dagadu memperluas posisi di berbagai provinsi.
Dalam peluncuran seri desain terbaru bertajuk ‘Crafted with Stories, Merangkai Jejak Menjahit Makna’, Jumat (25/4/2025) malam di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Dagadu menghadirkan koleksi yang memadukan identitas budaya dengan tren fesyen modern.
Advertisement
CEO Dagadu, Mia Argianti, kerjasama dengan Shaggydog menjadi kolaborasi dua ikon yang selalu menjadi bagian dari denyut budaya dan kehidupan Yogyakarta. Keduanya sepakat mengangkat identitas itu ke level yang lebih inklusif dan lebih dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
“Dagadu telah menjadi simbol kreativitas dan kebanggaan lokal, demikian juga Shaggydog. Kedua ikon ini menjadi bukti bagaimana sebuah brand dengan akar budaya kuat tetap relevan di tengah arus tren global,” katanya dilansir Sabtu (26/4/2025)
Mia percaya, nilai lokal tidak harus ketinggalan zaman. Justru, ketika dibalut dengan pendekatan desain yang lebih modern dan kontekstual, budaya bisa tampil lebih berani dan menyentuh audiens yang lebih luas.
Karenanya, transformasi Dagadu sekarang tidak hanya pada meluaskan jaringan toko, namun juga menghadirkan desain-desain usil dan satir berbungkus kebudayaan lokal.
“Kami berencana membuka toko di Makassar, kota penghubung dengan wilayah timur Indonesia. Desain di sana bisa mengangkat budaya Maluku dan Papua sebagai pembungkus keunikan yang menjadi pembeda Dagadu dari produk lainnya,” lanjut Mia.
Demikian juga dengan keberadaan Dagadu di Medan, Sumatera Utara. Dagadu akan melahirkan berbagai desain-desain unik berlatar belajar kebudayaan Sumatera.
Evolusi yang dilakukan Dagadu dengan desain yang lebih fleksibel, menurut Mia adalah keinginan untuk memperluas jangkauan pasar dan menghadirkan koleksi yang dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, dari kasual hingga semi-formal, tanpa kehilangan esensi budayanya.
Semangat musik Shaggydog dengan sentuhan kreatif Dagadu dalam menciptakan produk yang merepresentasikan energi, kebersamaan, dan budaya urban khas Yogyakarta.
Vokalis Shaggydog, Heru Wahyono menyatakan kolaborasi kedua ini berjudul ‘Manunggaling Dagadu lan Shaggydog’ dan berhasil melahirkan sebelas desain eksklusif.
Dimana semua desain memadukan semangat musik Shaggydog dengan sentuhan kreatif Dagadu dalam menciptakan produk yang merepresentasikan energi, kebersamaan, dan budaya urban khas Yogyakarta.
“Dagadu dan Shaggydog sama-sama tumbuh di Yogyakarta dan memiliki akar budaya yang kuat. Dengan berkolaborasi, kami ingin menunjukkan bahwa musik dan fashion bisa menjadi media ekspresi yang terus berkembang, tetap relevan, dan dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Seri desain terbaru yang diluncurkan Dagadu mengusung narasi Special Collection yang fokus pada konsep Berkembang, KPR, Serakah Punah, Plastic Toxic. Kemudian Hamemayu dan Jogja Series dengan desain yang menampilkan lokalitas Yogyakarta yang diwakilkan Kasongan, Nasi Tery, Ramah Marah.
Lalu ada Teen Series dengan mengusung desain Home dan Tamagotchi.
Desain dengan narasi KPR, kapan punya rumah, menceritakan beli rumah makin kesini makin jadi mimpi indah yang berat buat diwujudkan. Di sisi lain, desain tentang keberlanjutan lingkungan untuk mengingatkan ancaman nyata dari keberadaan hutan yang ditebang habis-habisan demi lahan.
Dagadu lewat desain tersebut memberi penegasan ketika alam rusak, satwa kehilangan habitatnya. Manusia susah punya rumah, mereka kehilangan rumah. Inilah narasi dan cerita yang disampaikan Dagadu.