6 Bulan Jalani Pengobatan di RSUD Bayu Asih, Dua Pasien TB-RO Sembuh Total

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih, Kabupaten Purwakarta, saat ini tengah menangani 20 pasien Tuberkulosis yang mengalami kebal obat (TB-RO). Dari 20 pasien tersebut, 2 orang di antara sudah dinyatakan sembuh.

oleh Tim RegionalDiperbarui 25 April 2025, 16:03 WIB
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih, Kabupaten Purwakarta, saat ini tengah menangani 20 pasien Tuberkulosis yang mengalami kebal obat (TB-RO). Dari 20 pasien tersebut, 2 orang di antara sudah dinyatakan sembuh. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Liputan6.com, Purwakarta - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih, Kabupaten Purwakarta, saat ini tengah menangani 20 pasien Tuberkulosis yang mengalami kebal obat (TB-RO). Dari 20 pasien tersebut, 2 orang di antara sudah dinyatakan sembuh.

Direktur RSUD Bayu Asih dr Tri Muhammad Hani, menjelaskan, sejak 2024 kemarin pihaknya telah membuka layanan untuk pasien Tuberculosis Resisten Obat (TB-RO). Sejak layanan tersebut dibuka, ada sebanyak 20 pasien yang ditangani.

"Untuk pasien yang ditangani itu, 2 pasien di antara sudah sembuh. Sisanya masih menjalani perawatan," ujar pria yang karib disapa dr Hani itu di kantornya, Jumat (25/4/2025).

Hani menuturkan, jumlah pasien TB-RO yang ditangani RSUD Bayu Asih awalnya ada sebanyak 27 warga yang teridentifikasi mengidap penyakit TB-RO. Dari 27 pasien tersebut, 3 orang menolak untuk diobati, 3 orang meninggal, dan 1 orang pindah ke luar daerah.

"Jadi yang kami tangani saat ini ada 20 orang. Dua pasien sudah dinyatakan sembuh, sisanya masih menjalani perawatan," jelas dia.

Hani pun sedikit menyampaikan informasi bahwa berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI, RSUD Bayu Asih Purwakarta menjadi salah satu pengampu pelayanan TBC. Atas dasar itu pula pihaknya membuka layanan TB-RO sebagai bukti komitmen atas amanah dan tanggungjawab tersebut.

Meski begitu, pihaknya tak menampik masih ada kekurangan dalam pelayanan tersebut. Yakni, belum adanya gedung khusus untuk penanganan TB-RO. Mengingat, kasus TB-RO ini harus mendapat penanganan khusus yang terpisah dari TBC biasa.

"Terkait hal itu, kami sudah mengajukan proposal usulan Bantuan Keuangan (BANKEU) dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat (APBD Propinsi) melalui Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun anggaran 2024," kata dia.

Diharapkan jika bantuan tersebut dapat dipenuhi, maka RSUD Bayu Asih akan memiliki gedung khusus 3 lantai untuk pelayanan pasien TBC yang mampu melayani pasien TB-RO maupun yang pasien TB biasa.

Bangunan tersebut direncanakan menjadi pusat layanan terpadu TBC yang bersifat one stop services karena didalamnya terdapat layanan Rawat Jalan TBC, Rawat Inap TBC, Laboratorium dan Apotek khusus yang melayani pasien TBC.

Dengan begitu, pihaknya mengaku sangat berharap terlaksananya rencana tersebut karena sebagai rumah sakit umum milik pemerintah di Kabupaten Purwakarta akan menjadi layanan unggulan dan satu-satunya rumah sakit yang memiliki layanan TBC secara terpadu dan paripurna.

Hal ini semata-mata dalam rangka mendukung program pemerintah dalam pencapaian target eliminasi TBC pada tahun 2030 dengan slogan aksi TOSS TBC (Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh).

 

 

Bakteri Mycibacterium Tuberculosis

Di tempat sama, Ketua Tim Penanggulangan TBC RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta, dr Evan Rivana, Sp.P menambahkan, pelayanan TB-RO yang diberikan oleh RSUD Bayu Asih adalah layanan rawat inap dan rawat jalan pada ruangan khusus. Karena memang kasus TB-RO ini harus mendapat penanganan khusus yang terpisah dari TBC biasa.

Untuk diketahui, kata dia, Tuberculosis Resisten Obat (TB-RO) merupakan infeksi Tuberkulosis yang menyerang tubuh disebabkan bakteri Mycibacterium Tuberculosis yang telah mengalami kebal obat akibat dari pengobatan yang tidak benar.

"Penyebab TB-RO adalah tidak teraturnya pasien dalam menjalani pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosa (OAT) sesuai panduan," ujarnya.

Penyebab lainnya adalah pasien berhenti secara sepihak dari pengobatan sebelum waktunya, tidak memenuhi anjuran dokter atau petugas kesehatan, gangguan penyerapan obat bahkan bisa disebabkan karena tertular dari pasien TB-RO lainnya.

"Yang paling kita antisipasi itu penularan ke orang lain. Penularannya sangat cepat, bahkan untuk mereka yang sama sekali tidak pernah mengidap TB," jelas dia.

Atas dasar itu, sudah menjadi tugas jajarannya untuk terus memantau perkembangan para pasien TB-RO yang sedang mendapat perawatan sampai mereka sembuh total.

"Metode pengobatan TB-RO di kita, itu dilakukan selama 6 bulan. Pasien dipantau terus sampai sembuh. Seperti yang diraskan dua pasien ini," tambah dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya