Ragam Sampo Alami Nenek Moyang yang Kini Kembali Populer

Beberapa tahun terakhir, tren kembali ke bahan alami mulai muncul. Beberapa merek lokal bahkan menghadirkan sampo berbahan dasar alami.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 29 April 2025, 01:00 WIB
Pilih sampo yang sesuai dengan kondisi kulit kepala (copyright Freepik/Jcomp)

Liputan6.com, Yogyakarta - Sebelum sampo komersial dikenal masyarakat Indonesia, berbagai bahan alami menjadi pilihan untuk merawat kebersihan rambut. Merang padi, abu kayu, hingga rebusan daun-daunan telah digunakan turun-temurun sebagai alternatif pembersih rambut yang alami.

Mengutip dari berbagai sumber, salah satu bahan yang paling banyak digunakan adalah merang padi, yaitu batang padi kering yang dibakar hingga menjadi abu. Abu merang dicampur dengan air, lalu dioleskan ke rambut untuk membersihkan kotoran dan minyak berlebih.

Kandungan silika dalam abu merang dipercaya dapat mengangkat kotoran sekaligus memberikan efek mengilapkan rambut. Selain merang padi, jerami padi yang direndam dalam air dan dicampur dengan bubuk buah pinang juga menjadi alternatif.

Campuran ini tidak hanya membersihkan rambut, tetapi juga dipercaya membantu menguatkan akar rambut dan mencegah kerontokan. Daun sirih, kemuning, serta akar-akaran tertentu sering direbus dan digunakan sebagai pencuci rambut.

Daun sirih dikenal memiliki sifat antiseptik, sementara kemuning dipercaya dapat menghitamkan rambut secara alami. Beberapa masyarakat juga memanfaatkan abu dari kulit pohon aren atau pisang yang kaya akan mineral untuk mencuci rambut.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Kembali Populer

Di beberapa daerah, sabun batangan buatan tangan yang terbuat dari lemak hewani dan abu kayu juga digunakan. Sabun alkali tradisional ini mirip dengan yang digunakan oleh peradaban kuno seperti Mesir, di mana campuran lemak dan abu menjadi bahan dasar pembersih.

Penggunaan sampo berbahan kimia mulai populer di Indonesia pada tahun 1950-an. Pada dekade berikutnya, variasi sampo semakin beragam dengan kehadiran produk khusus untuk rambut kering, berminyak, atau berketombe.

Meski sampo modern telah mendominasi pasar, beberapa masyarakat di pedesaan seperti suku Badui masih mempertahankan penggunaan bahan alami. Ramuan tradisional tidak hanya dianggap lebih ramah lingkungan, tetapi juga diwariskan sebagai bagian dari kearifan lokal dalam merawat kebersihan dan kesehatan rambut.

Beberapa tahun terakhir, tren kembali ke bahan alami mulai muncul. Beberapa merek lokal bahkan menghadirkan sampo berbahan dasar abu merang, lidah buaya, atau ekstrak daun sirih sebagai alternatif modern dari ramuan tradisional.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya