Liputan6.com, Jakarta Pada awal perdagangan, Selasa (22/4/2025),kurs USD atau dalam rupiah terpantau melemah 38 poin atau 0,23 persen ke level 16.845 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 16.807.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 22 April 2025.
Advertisement
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa pelemahan ini disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap masa depan ekonomi global.
"Nilai tukar regional terlihat melemah terhadap dolar AS pagi ini. Konsolidasi kembali terjadi karena pasar masih cemas mengenai prospek ekonomi global, terutama akibat kebijakan tarif dari Presiden Donald Trump, meskipun sudah ada relaksasi dan pembukaan ruang negosiasi," kata Ariston dikutip dari ANTARA, Selasa (22/4/2025).
Kebijakan Tarif Trump Perburuk Sentimen Pasar
Pelemahan rupiah tidak lepas dari kebijakan proteksionis yang diterapkan Presiden AS, Donald Trump. Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan penerapan tarif impor universal sebesar 10 persen terhadap produk dari 185 negara, efektif mulai 5 April. Kemudian, tarif individu diberlakukan mulai 9 April.
Namun, pada 9 April, Trump menyatakan akan menangguhkan kenaikan tarif bagi 75 negara yang bersedia bernegosiasi dalam 90 hari. Meski demikian, negara-negara ini tetap dikenakan tarif 10 persen. Trump juga membuka kemungkinan memperpanjang masa negosiasi.
Langkah Trump ini menciptakan ketegangan baru dalam perdagangan global, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar mata uang, termasuk berdampak langsung terhadap pergerakan rupiah.
Prediksi Rupiah dan Prospek Ekonomi Global
Ariston menilai tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga ke level Rp16.850 per dolar AS, dengan level support berada di kisaran Rp16.750.
Sementara itu, laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) memperkirakan bahwa ketegangan perdagangan dan ketidakpastian global akan mendorong perlambatan ekonomi dunia.
Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan turun dari 2,8 persen pada 2024 menjadi hanya 2,3 persen pada 2025. Negara-negara berkembang disebut sebagai pihak paling rentan terhadap dampak ini.
Dengan situasi global yang penuh tekanan, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah dan aset keuangan lainnya.