4 Mei 2019: Vajiralongkorn Sah Jadi Raja Thailand

Prosesi penobatan Raja Rama X penuh simbol dan tradisi kuno. Ritual pemurnian hingga penyerahan payung sembilan lapis menjadi penegas sahnya kekuasaan sang raja.

oleh Alya Felicia SyahputriDiterbitkan 04 Mei 2025, 06:00 WIB
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn menghadap hadirin sambil mengenakan mahkota emas sambil duduk di singgasana selama penobatannya di Istana Agung di Bangkok. (AFP/Arsip)

Liputan6.com, Bangkok - Sejarah mencatat Raja Thailand Vajiralongkorn, secara resmi dinobatkan pada Sabtu, 4 Mei 2019, dalam upacara kerajaan yang megah di Grand Palace, Bangkok.

Prosesi penobatan tersebut menjadi simbol kebangkitan kembali kekuasaan monarki setelah Raja Bhumibol Adulyadej wafat pada Oktober 2016 dalam usia 88 tahun. Upacara serupa terakhir kali digelar hampir tujuh dekade sebelumnya.

Penobatan ini merupakan pembaruan kekuasaan monarki setelah kematian ayahanda Vajiralongkorn yang dihormati, Raja Bhumibol Adulyadej, pada Oktober 2016 di usia 88 tahun. Penobatan ini juga terjadi di tengah pertikaian politik selama lebih dari satu dekade, termasuk kudeta militer tahun 2014 dan pemilihan umum yang penuh pertikaian kurang dari dua bulan lalu.

Setelah menyelesaikan upacara tersebut, Vajiralongkorn mengeluarkan perintah kerajaan pertamanya, yang seharusnya menjadi dasar pemerintahannya. Perintah tersebut sangat mirip dengan kata-kata perintah pertama ayahnya.

“Saya akan mengejar, menjaga, dan melanjutkan serta memerintah dengan kebenaran demi kepentingan dan kebahagiaan rakyat selamanya,” ujar sang raja dalam terjemahan tidak resmi dan dikutip dari dailysabah.com pada Minggu (4/5/2025).

Saat itu, Vajiralongkorn yang berusia 66 tahun telah menjabat sebagai raja selama lebih dari dua tahun sejak naik takhta pada 2016. Ia menerima mahkota dari Brahmana utama, seorang pendeta Hindu yang memimpin upacara yang memadukan unsur Buddha dan Hindu. Seluruh rangkaian prosesi disiarkan secara langsung di semua saluran televisi nasional.

Sebagai Raja Rama X atau raja ke-10 dari Dinasti Chakri, Vajiralongkorn mengenakan Great Crown of Victory (Mahkota Kemenangan Agung) setinggi 66 cm dan seberat 7,3 kilogram. Mahkota berusia lebih dari 200 tahun itu dihiasi permata dan emas berlapis enamel, serta menjadi salah satu regalia kerajaan yang diserahkan sebagai penghormatan atas kekuasaannya.

Upacara dimulai saat sang raja mengenakan jubah putih sederhana dan memasuki paviliun kecil untuk menjalani prosesi pemurnian. Air suci dari berbagai sungai dan sumber air keramat disiramkan ke tubuhnya. Air dari bejana kerajaan kuno juga digunakan dalam prosesi yang dikenal sebagai Upacara Pemurnian Kerajaan. Diiringi suara gendang, terompet kerang, dan alat musik tradisional lainnya, meriam ditembakkan dari luar istana sebagai bentuk penghormatan.

Ritual berikutnya, yaitu Upacara Pengurapan Kerajaan, menjadi momen sakral yang menegaskan legitimasi Vajiralongkorn sebagai raja berdaulat. Dalam balutan busana kerajaan berbordir emas, ia duduk di atas takhta segi delapan yang mewakili delapan arah mata angin dan seorang pejabat tinggi duduk di setiap titik. Setiap sisi menuangkan air suci ke tangan raja, bersama dengan sisi kesembilan yang mewakili surga.

Upacara diakhiri dengan penyerahan payung putih berlapis sembilan sebagai lambang pengesahan penuh sebagai raja.

 
 

Penobatan di Tengah Gejolak Politik dan Pengaruh Raja Baru

Sulak Sivaraksa. (inebnetwork.org)

Penobatan Raja Vajiralongkorn menjadi momen penting bagi Kerajaan Thailand, sekaligus menandai dimulainya masa pemerintahan resmi setelah dua tahun menjabat tanpa seremoni formal. Banyak warga menyambut momen ini sebagai bagian dari kelanjutan tradisi, meski tetap berlangsung di tengah situasi politik yang belum sepenuhnya stabil.

“Upacara ini sangat penting bagi Thailand karena monarki merupakan institusi yang amat berpengaruh dan menjadi jiwa bangsa kami,” ujar Naowarat Buakluan, seorang pegawai negeri. 

“Jika Anda bertanya mengapa baru digelar sekarang padahal beliau telah naik takhta, jawabannya adalah karena sebelumnya rakyat Thailand masih berkabung atas wafatnya raja yang kami cintai,” lanjut Naowarat Buakluan

Sejak naik takhta, Vajiralongkorn memperkuat kontrol atas institusi kerajaan dan memperbesar pengaruhnya dalam pemerintahan. Kekuasaan yang ia miliki memberikan wewenang eksplisit untuk campur tangan dalam urusan negara, terutama saat terjadi krisis politik.

Thailand kala itu tengah menghadapi ketidakstabilan politik. Militer masih memegang kekuasaan sejak kudeta pada 2014. Pemilu pada Maret 2019 dinilai penuh rekayasa melalui sistem hukum yang kompleks, demi menguntungkan militer dan kandidat pilihannya, Prayuth Chan-ocha, yang sebelumnya memimpin kudeta dan masih menjabat sebagai kepala pemerintahan.

Menurut tokoh intelektual dan kritikus sosial Sulak Sivaraksa, Vajiralongkorn secara pribadi tidak terlalu menyukai seremoni, “tapi kalau dilakukan, beliau ingin semuanya dilakukan dengan benar.” Saat pemakaman ayahandanya pada 2017, Vajiralongkorn juga bersikeras agar semua dilaksanakan sesuai ketentuan.

“Demikian juga dengan penobatan, harus dilakukan dengan benar dan beliau tidak mempermasalahkan biaya selama prosesi berjalan sebagaimana mestinya,” kata Sulak.

 

Ratu Suthida dan Simbol Kekuasaan Baru dalam Dinasti Chakri

Ratu Suthida resmi menjadi ratu Thailand dalam penobatan pada Sabtu, 4 Mei 2019 (AP Photo)

Salah satu tindakan pertama Raja Vajiralongkorn setelah dinobatkan adalah menganugerahkan regalia kerajaan kepada istrinya, Suthida Vajiralongkorn Na Ayudhya. Istana mengumumkan pernikahan mereka pada Rabu, 1 Mei 2019. Seperti ayahandanya, Raja Bhumibol, yang menikahi Ratu Sirikit seminggu sebelum penobatannya, Vajiralongkorn pun menetapkan istrinya sebagai Ratu Thailand. Kini, Ratu Sirikit yang berusia 86 tahun masih hidup, meski dalam kondisi sakit.

Penobatan Ratu Suthida menjadi momen penting dalam mengukuhkan perannya secara resmi di mata publik Thailand. Ia sebelumnya dikenal sebagai mantan pramugari dan perwira tinggi di unit pengawal raja. Penunjukannya sebagai ratu menandai langkah penting dalam memperkuat citra keluarga kerajaan yang selama ini dijaga ketat dari sorotan publik.

Setelah prosesi berdurasi dua setengah jam berakhir, Vajiralongkorn turun dari tahta, berjalan melewati anggota keluarga kerajaan, dan menaburkan bunga kecil berwarna perak dan emas sebagai simbol anugerah dari langit.

Meski tidak dapat melihat langsung, warga yang mengenakan pakaian kuning warna kerajaan berkumpul di luar Grand Palace untuk memberikan penghormatan.

“Saya sudah bersiap datang sejak mendengar kabar penobatan dan penunjukan ratu,” kata seorang pedagang, Praiwan Thasai.

Pada malam hari, raja menerima anggota keluarga kerajaan, Dewan Penasihat, kabinet, dan para pejabat tinggi lainnya yang datang memberikan penghormatan. Ia kemudian mengunjungi Kuil Buddha Zamrud untuk menyatakan dirinya sebagai pelindung agama Buddha. Hari itu diakhiri dengan upacara simbolik “Penghunian Istana Kerajaan”.

Pada Minggu, 5 Mei 2019, digelar prosesi kerajaan sejauh 7 kilometer melintasi kawasan tua Bangkok. Sebanyak 343 orang mengiringi tandu berhias megah yang membawa sang raja, memberi kesempatan kepada rakyat untuk memberikan penghormatan secara langsung.

Senin, 6 Mei 2019, raja dijadwalkan menyapa publik dari balkon Grand Palace pada sore hari dan kemudian menggelar resepsi untuk korps diplomatik.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya