Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS): Terapi Inovatif yang Membantu Pemulihan Penderita Stroke

tDCS dapat membantu mengaktifkan kembali sel-sel otak yang terganggu dan menyeimbangkan aktivitas antara bagian otak yang terdampak dan yang masih sehat.

oleh Gloria Trivena May AryDiperbarui 22 April 2025, 10:21 WIB
Ilustrasi penyakit stroke. (c)skawee/Depositphotos.com

Liputan6.com, Jakarta Stroke merupakan suatu kondisi serius yang terjadi ketika suplai darah ke otak terputus, sehingga menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Akibatnya, banyak penderita stroke mengalami gangguan fungsi tubuh seperti kelemahan anggota gerak, kesulitan bicara, hingga kehilangan keseimbangan. Untuk mempercepat proses pemulihan, berbagai metode rehabilitasi telah dikembangkan, salah satunya adalah Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS).

Adapun terapi ini menggunakan arus listrik lemah yang dialirkan melalui elektroda di kulit kepala untuk merangsang area otak tertentu. Dengan cara ini, tDCS dapat membantu mengaktifkan kembali sel-sel otak yang terganggu dan menyeimbangkan aktivitas antara bagian otak yang terdampak dan yang masih sehat.

Yuk, simak lebih lengkap penjelasan tentang tDCS dari dr. Rineke Twistixa Arandita, Sp.N (dokter Spesialis Neurologi/Saraf) di RS EMC Pulomas.

Manfaat Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) untuk Penyembuhan Stroke

Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) adalah metode terapi non-invasif yang menggunakan arus listrik lemah untuk merangsang aktivitas otak. Teknik ini kini banyak digunakan dalam dunia medis untuk membantu proses rehabilitasi pasien stroke. tDCS bekerja dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan di kulit kepala.

Arus listrik ini tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi mampu mempengaruhi aktivitas neuron di area otak tertentu. Pada pasien stroke, tDCS digunakan untuk merangsang bagian otak yang terganggu akibat kerusakan saraf, serta menyeimbangkan aktivitas antara hemisfer otak yang terdampak dan yang sehat.

Manfaat tDCS dalam penyembuhan stroke sangat beragam. Salah satu manfaat utamanya adalah meningkatkan pemulihan fungsi motorik. Stroke sering menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis). Dengan merangsang korteks motorik, tDCS dapat mempercepat pemulihan gerakan tubuh, terutama jika dikombinasikan dengan terapi fisik.

Selain itu, tDCS juga membantu meningkatkan fungsi kognitif, seperti kemampuan memori, perhatian dan pemprosesan informasi, yang sering terganggu akibat stroke. Pemulihan kemampuan berbicara yang terganggu (afasia) juga dapat dioptimalkan dengan tDCS, dengan mengalirkan arus listrik ke area otak yang mengatur bahasa, yaitu area Broca atau area Wernicke, yang akan memberkan efek paling optimal dengan menggabungkannya dengan terapi wicara.

Selain fungsi-fungsi tersebut, tDCS juga bermanfaat untuk mengurangi nyeri kronis dan spastisitas otot yang sering dialami pasien stroke. Dengan memodulasi sinyal saraf di otak, tDCS dapat membantu mengurangi rasa sakit dan kekakuan otot, yang sering kali menjadi hambatan dalam proses rehabilitasi. Fungsi tungkai yang kekakuannya dapat dikurangi dengan tDCS, kemudian ditingkatkan kembali dengan kombinasi okupasi terapi, sehingga pasien dapat lebih cepat kembali menjalani pekerjaannya.

tDCS bekerja dengan dua jenis stimulasi utama, yaitu stimulasi anodal dan katodal. Stimulasi anodal meningkatkan aktivitas neuron di area otak yang kurang aktif, seperti hemisfer otak yang terdampak stroke. Sementara itu, stimulasi katodal menekan aktivitas berlebih di area otak yang terlalu aktif, biasanya hemisfer otak yang sehat, sehingga membantu menyeimbangkan aktivitas antara kedua sisi otak. Proses ini mendukung neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru setelah kerusakan akibat stroke.

Keunggulan utama tDCS adalah sifatnya yang non-invasif, aman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Arus listrik yang digunakan sangat lemah, sehingga pasien hanya merasakan sensasi kesemutan ringan. Selain itu, tDCS dapat dengan mudah dikombinasikan dengan berbagai metode terapi lain untuk meningkatkan hasil pemulihan. Dengan berbagai manfaatnya, tDCS menjadi salah satu metode terapi yang menjanjikan dalam membantu pasien stroke mendapatkan kembali fungsi tubuh dan kualitas hidup mereka.

2 Jenis Stimulasi Utama Pada tDCS

Prinsip kerja tDCS melibatkan dua jenis arus listrik, yaitu anodal yang bersifat merangsang, dan katodal yang bersifat menekan. Arus anodal diberikan pada bagian otak yang mengalami penurunan fungsi akibat stroke, sementara arus katodal diarahkan ke bagian otak yang justru terlalu aktif.

Kombinasi keduanya diyakini dapat membantu mengembalikan keseimbangan aktivitas di antara kedua hemisfer otak. Hasilnya, proses neuroplastisitas dapat terjadi lebih optimal, memungkinkan otak membentuk jalur-jalur baru untuk menggantikan fungsi yang rusak.

Di sisi lain, tDCS juga memiliki keunggulan utama dalam hal kenyamanan dan keamanan. Karena bersifat non-invasif dan menggunakan arus listrik yang sangat lemah, terapi ini tidak menimbulkan rasa sakit, hanya sensasi kesemutan ringan pada kulit kepala. Kemampuannya untuk dipadukan dengan terapi lainnya membuat tDCS semakin efektif dalam proses pemulihan stroke.

Dengan metode yang non-invasif dan terbukti efektif, tDCS tentunya bisa menjadi pilihan terapi yang menjanjikan untuk pemulihan pasien stroke. Terapi ini pun dapat membantu mengembalikan kualitas hidup dengan meningkatkan fungsi motorik dan kognitif.

Untuk informasi lebih lanjut atau jika ingin mencoba terapi ini, kamu bisa langsung membuat janji dengan dr. Rineke Twistixa Arandita, Sp.N (dokter Spesialis Neurologi/Saraf) di RS EMC Pulomas.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya