Liputan6.com, Jakarta - Dampu merupakan salah satu permainan tradisional Betawi yang kerap dimainkan anak-anak zaman dahulu. Di beberapa daerah, dampu dikenal dengan nama engklek.
Dampu maupun engklek merupakan permainan tradisional yang dilakukan dengan cara yang sama. Anak-anak akan menggambar diagram pada tanah yang nantinya digunakan sebagai area bermain.
Advertisement
Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, dampu tak hanya menjadi permainan yang menghibur anak-anak. Bagi masyarakat Betawi, dampu kaya akan makna dan sejarah.
Terkait namanya, beberapa orang menganggap bahwa nama dampu berkaitan dengan istilah Melayu dan primbon Cina Peranakan. Dalam bahasa Melayu, dampu berarti panggilan kehormatan pada seseorang.
Konon, istilah ini dipopulerkan oleh primbon Cina Peranakan bernama Dampoo Awang yang berisikan tanya jawab masalah peruntungan. Versi lain mengatakan bahwa istilah dampu kemungkinan besar berasal dari diampu, diampu dampu ampu yang berarti angkat.
Dampu bisa dimainkan anak laki-laki maupun perempuan. Diagram dampu digambar di atas tanah dengan menggunakan torehan batu runcing atau kapur.
Diagram dampu terdiri dari lima blok. Masing-masing blok tersebut mengandung makna tertentu, yakni gunung, rumah, dan tangga.
Diagram dampu secara berurutan menempatkan gunung pada bagian paling tinggi. Ini merupakan simbol gunung sebagai preferensi pada sistem nilai Betawi. Dalam mitos Betawi, ada gunung yang dianggap memiliki nilai magis, seperti Gunung Puteri, Gunung Sindur, Gunung Kreneng, dan Gunung Sembung.
Selanjutnya, blok rumah berada di bawah blok gunung. Blok ini menyimbolkan kemapanan hidup duniawi.
Untuk mencapai blok gunung dan rumah, pemain harus melalui blok leher, sayap, dan tangga terlebih dahulu. Dampu dengan bentuk diagram ini disebut dengan dampu gunung.
Jenis lain permainan dampu yang juga kerap dimainkan adalah dampu kapal. Pada prinsipnya, dampu kapal sama dengan dampu gunung.
Hanya saja, dampu kapal memiliki blok yang lebih sederhana. Dampu kapal berisi blok gunung, sayap, dan tangga.
Dampu dimainkan secara bergantian antar pemain. Saat mendapat giliran untuk bermain, pemain akan mengangkat sebelah kakinya dan meloncat dari satu blok ke blok lainnya.
Mereka juga membawa batu kecil yang akan dilemparkan dari satu blok ke blok lainnya. Jika mereka berhasil melewati dampu hingga kembali ke garis start, maka mereka akan kembali melemparkan batu kecil ke blok selanjutnya.
Pemain yang lebih dulu menyelesaikan misi untuk membawa batu kecil mencapai puncak (blok gunung) akan menjadi pemenangnya. Pada level yang lebih rumit, pemain dampu juga berhak memiliki satu blok dampu untuk menghalangi pemain lain menyelesaikan misi.
Dampu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Betawi yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Sayangnya, saat ini tak banyak anak-anak yang memainkan permainan tradisional ini.
Penulis: Resla