Liputan6.com, Jakarta: Tim Pusat Laboratorium dan Forensik Polri serta polisi yang bertugas mencari korban ledakan masih menyisir lokasi pengeboman di depan Hotel JW Marriott, kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (5/8) petang. Mereka terus mencari benda-benda yang diduga berkaitan dengan ledakan. Ada juga body bag yang disediakan untuk menaruh potongan tubuh korban yang ditemukan [baca: Ledakan Bom Hebat Mengguncang Plaza Mutiara].
Bom meledak di depan Hotel JW Marriott bertepatan jam makan siang, sekitar pukul 12.30 WIB. Bom berkekuatan high explosive ini diduga diletakkan di dalam sebuah mobil Toyota Kijang lantaran polisi menemukan potongan mobil jenis tersebut berikut nomor sasisnya. Ledakan juga menimbulkan efek dahsyat, berupa lubang berdiameter dua meter dan menembus basement hotel. Di sekitarnya, polisi menemukan potongan tubuh yang belum bisa dipastikan berasal dari pelaku atau korban. Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar menuduh perbuatan ini dilakukan teroris [baca: Korban Tewas Bom Hotel Marriott 10 Orang].
Ledakan juga menghancurkan 22 unit mobil serta merusak tempat pemberhentian taksi Silver Bird dan Gedung Menara Rajawali yang berada di sebelah hotel. Kebanyakan korban tewas--sedikitnya tujuh orang--dan luka-luka yang mencapai 70 orang berasal dari pengunjung hotel dan Restoran Sailendra. Restoran yang berada di bagian depan hotel ini memang kerap dikunjungi warga negara asing dan pelaku bisnis di Jakarta. Ada delapan unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan dinas pemadam kebakaran setempat untuk memadamkan api yang timbul akibat ledakan.
Dari pemantauan SCTV, Tim Penyelidik Kasus Bom Bali sudah berdatangan ke lokasi. Ada juga sejumlah tim penyelidik asing, seperti dari Australia yang turut membantu menyisir lokasi. Polisi nampaknya menyamakan peristiwa tersebut dengan ledakan di Kuta, Bali, 12 Oktober 2002. Sementara untuk mempermudah penyidikan, polisi meminta massa yang berada di sekitar lokasi mundur ke belakang hingga sejauh 200 meter.
Indra, seorang pekerja konstruksi yang turut membangun Hotel JW Marriott mengaku terkejut menyaksikan lantai yang menuju lobi hancur. Menurut dia, lantai hotel itu dirancang dengan ketebalan sedemikian rupa sehingga tak mudah hancur. Bayangkan, Indra menambahkan, untuk lantai basement saja tebalnya 32 cm, sementara ketebalan kaca mencapai 12 dan 18 milimeter. "Ini tidak akan mungkin terjadi kalau kapasitas bom tak sedahsyat ini," kata Indra. Terlebih lagi, pengaruh ledakan juga sampai ke lantai paling atas. "Dahsyat sekali ledakan itu. Kaca di atas sampai pecah," Indra menambahkan.
Kawasan Mega Kuningan memang dikenal sebagai satu di antara sejumlah kawasan di Ibu Kota yang banyak digunakan warga asing di Indonesia. Apalagi, sejumlah kedutaan besar negara sahabat juga berada di wilayah ini. Paling tidak, ada empat Kedubes asing di gedung Menara Rajawali.
Sementara itu, ledakan di depan Hotel JW Marriott membuat polisi meningkatkan pengamanan di kawasan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Mereka memeriksa dengan ketat setiap kendaraan yang masuk ke halaman Gedung Wakil Rakyat. Tak cuma kendaraan milik warga sipil, kendaraan militer juga diperiksa. Di dalam gedung, sejumlah anggota MPR dan wartawan yang meliput Sidang Tahunan berdesakan menonton televisi yang menyiarkan insiden tersebut secara langsung.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Bom meledak di depan Hotel JW Marriott bertepatan jam makan siang, sekitar pukul 12.30 WIB. Bom berkekuatan high explosive ini diduga diletakkan di dalam sebuah mobil Toyota Kijang lantaran polisi menemukan potongan mobil jenis tersebut berikut nomor sasisnya. Ledakan juga menimbulkan efek dahsyat, berupa lubang berdiameter dua meter dan menembus basement hotel. Di sekitarnya, polisi menemukan potongan tubuh yang belum bisa dipastikan berasal dari pelaku atau korban. Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar menuduh perbuatan ini dilakukan teroris [baca: Korban Tewas Bom Hotel Marriott 10 Orang].
Ledakan juga menghancurkan 22 unit mobil serta merusak tempat pemberhentian taksi Silver Bird dan Gedung Menara Rajawali yang berada di sebelah hotel. Kebanyakan korban tewas--sedikitnya tujuh orang--dan luka-luka yang mencapai 70 orang berasal dari pengunjung hotel dan Restoran Sailendra. Restoran yang berada di bagian depan hotel ini memang kerap dikunjungi warga negara asing dan pelaku bisnis di Jakarta. Ada delapan unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan dinas pemadam kebakaran setempat untuk memadamkan api yang timbul akibat ledakan.
Dari pemantauan SCTV, Tim Penyelidik Kasus Bom Bali sudah berdatangan ke lokasi. Ada juga sejumlah tim penyelidik asing, seperti dari Australia yang turut membantu menyisir lokasi. Polisi nampaknya menyamakan peristiwa tersebut dengan ledakan di Kuta, Bali, 12 Oktober 2002. Sementara untuk mempermudah penyidikan, polisi meminta massa yang berada di sekitar lokasi mundur ke belakang hingga sejauh 200 meter.
Indra, seorang pekerja konstruksi yang turut membangun Hotel JW Marriott mengaku terkejut menyaksikan lantai yang menuju lobi hancur. Menurut dia, lantai hotel itu dirancang dengan ketebalan sedemikian rupa sehingga tak mudah hancur. Bayangkan, Indra menambahkan, untuk lantai basement saja tebalnya 32 cm, sementara ketebalan kaca mencapai 12 dan 18 milimeter. "Ini tidak akan mungkin terjadi kalau kapasitas bom tak sedahsyat ini," kata Indra. Terlebih lagi, pengaruh ledakan juga sampai ke lantai paling atas. "Dahsyat sekali ledakan itu. Kaca di atas sampai pecah," Indra menambahkan.
Kawasan Mega Kuningan memang dikenal sebagai satu di antara sejumlah kawasan di Ibu Kota yang banyak digunakan warga asing di Indonesia. Apalagi, sejumlah kedutaan besar negara sahabat juga berada di wilayah ini. Paling tidak, ada empat Kedubes asing di gedung Menara Rajawali.
Sementara itu, ledakan di depan Hotel JW Marriott membuat polisi meningkatkan pengamanan di kawasan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Mereka memeriksa dengan ketat setiap kendaraan yang masuk ke halaman Gedung Wakil Rakyat. Tak cuma kendaraan milik warga sipil, kendaraan militer juga diperiksa. Di dalam gedung, sejumlah anggota MPR dan wartawan yang meliput Sidang Tahunan berdesakan menonton televisi yang menyiarkan insiden tersebut secara langsung.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)