Lapangan-lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Indonesia saat ini produksinya terus menurun. Sementara untuk mengeksploitasi lapangan tersebut dibutuhkan dana yang besar.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengibaratkan lapangan migas yang sudah tua dan dipacu terus berproduksi seperti nenek-nenek tua yang dipaksa untuk berlari kencang.
"Lapanga sudah tua, seperti nenek nenek, disuruh lari kencang sudah tidak bisa," kata Susilo, di dalam konvensi Nasional Penunjang Operasi Migas, di Trans Hotel, Bandung, Rabu (22/5/2013).
Susilo menambahkan, untuk mengelola lapangan Migas yang sudah tua pun, ongkosnya lebih mahal. Pasalnya, harus ada berbagai perawatan agar lapangan tersebut bisa berproduksi dengan optimal.
"Ongkosnya lebih mahal, kinerjanya nggak bisa bagus, lari sedikit perlu biaya beli balsem, lari lagi biaya urut," tuturnya sambil bergurau.
Untuk mengejar produksi yang telah dicanangkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Perubahan (APBN-P) sebanyak 840 ribu barel per hari (bph), Susilo meminta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) mampu merealisasikan target tersebut.
"Saya juga minta temen-temen SKK Migas menyelesaikan, jadi saya sangat antusias bisa sharing, peran saudara sangat besar, saat ini ada pembahasan APBNP di DPR target 840 ribu harus dicapai," ungkapnya.
Sebelumnya, sekitar lima proyek migas menjadi andalan Indonesia untuk meningkatkan produksi pada 2015. Kelima proyek tersebut bertujuan untuk menjaga penerimaan negara.
Kelima proyek tersebut yaitu proyek Indonesian Deepwater Drilling (IDD) yang dioperasikan PT Chevron Pacific Indonesia, proyek lapangan minyak Banyu Urip yang dioperasikan Exxon Mobil Cepu, dan proyek lapangan gas Masela yang dioperasikan perusahaan migas asal Jepang, INPEX.
Sisanya, proyek lapangan gas Muara Bakau Jangkrik yang dioperasikan ENI, serta lapangan gas Tangguh Train III yang dioperasikan BP Indonesia.
"SKK Migas juga melakukan renegosiasi ulang seperti pembangunan proyek IDD di Kalimantan Timur dan pengembangan proyek Tangguh Tarain III di Papua," ungkap Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini.(Pew/Shd/*)
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengibaratkan lapangan migas yang sudah tua dan dipacu terus berproduksi seperti nenek-nenek tua yang dipaksa untuk berlari kencang.
"Lapanga sudah tua, seperti nenek nenek, disuruh lari kencang sudah tidak bisa," kata Susilo, di dalam konvensi Nasional Penunjang Operasi Migas, di Trans Hotel, Bandung, Rabu (22/5/2013).
Susilo menambahkan, untuk mengelola lapangan Migas yang sudah tua pun, ongkosnya lebih mahal. Pasalnya, harus ada berbagai perawatan agar lapangan tersebut bisa berproduksi dengan optimal.
"Ongkosnya lebih mahal, kinerjanya nggak bisa bagus, lari sedikit perlu biaya beli balsem, lari lagi biaya urut," tuturnya sambil bergurau.
Untuk mengejar produksi yang telah dicanangkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Perubahan (APBN-P) sebanyak 840 ribu barel per hari (bph), Susilo meminta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) mampu merealisasikan target tersebut.
"Saya juga minta temen-temen SKK Migas menyelesaikan, jadi saya sangat antusias bisa sharing, peran saudara sangat besar, saat ini ada pembahasan APBNP di DPR target 840 ribu harus dicapai," ungkapnya.
Sebelumnya, sekitar lima proyek migas menjadi andalan Indonesia untuk meningkatkan produksi pada 2015. Kelima proyek tersebut bertujuan untuk menjaga penerimaan negara.
Kelima proyek tersebut yaitu proyek Indonesian Deepwater Drilling (IDD) yang dioperasikan PT Chevron Pacific Indonesia, proyek lapangan minyak Banyu Urip yang dioperasikan Exxon Mobil Cepu, dan proyek lapangan gas Masela yang dioperasikan perusahaan migas asal Jepang, INPEX.
Sisanya, proyek lapangan gas Muara Bakau Jangkrik yang dioperasikan ENI, serta lapangan gas Tangguh Train III yang dioperasikan BP Indonesia.
"SKK Migas juga melakukan renegosiasi ulang seperti pembangunan proyek IDD di Kalimantan Timur dan pengembangan proyek Tangguh Tarain III di Papua," ungkap Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini.(Pew/Shd/*)