Liputan6.com, Bogor: Sumur itu berada di sudut halaman rumah Amin. Sekilas, tak ada yang aneh di lubang besar yang sudah lama tak dimanfaatkan itu. Tapi, baru-baru ini, sumur itu menjadi perhatian dan penyebab kemarahan warga Kampung Kalong Tonggoh, RT 3/RW 4, Desa Kolong II, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Konon, di dalam sumur mati milik Amin, bersemayam makhluk halus berujud buto ijo. Akibatnya, rumah Amin porak-poranda diamuk puluhan warga.
Adalah Sawi yang melempar berita tersebut. Perempuan berkerudung itu mengatakan, makhluk yang ngendon di sumur Amin, sudah meminta tumbal 10 nyawa manusia sebagai pesugihan (syarat). Selanjutnya buto ijo masih akan meminta 41 nyawa lagi untuk mendukung kekayaan Amin. "Saya datang untuk memberantas kejahatan. Faktanya, makhluk itu sudah meminta 10 nyawa," kata wanita yang mengaku sebagai Dewi Roro Kidul.
Sejatinya, warga tak lantas mempercayai keterangan Sawi. Pasalnya, sudah satu bulan ini wanita paruh baya tersebut sering berbicara ngelantur, layaknya orang tak waras alias gila. Tapi sebagian warga justru meyakini celoteh Sawi. Bahkan, mereka percaya kalau Sawi adalah dukun handal yang mampu mengetahui segala kejadian di Kampung Kalong Tonggoh. "Amin teh gaduh buta hejo (itu mempunyai buto ijo)," seru Sawi. Kontan, puluhan warga menyerbu rumah Amin. Mereka mengobrak-abrik dan menghancurkan semua perabotan di rumah Amin, termasuk sumur yang dimaksud.
Amuk massa berlangsung cepat. Amin dan Estri, istrinya, hanya bisa pasrah. Keduanya juga tak mampu berbuat apa-apa ketika warga mulai merusak perabotan rumah tangga seperti televisi, video compact disk, magic jar, dispenser, speaker, dan jam dinding. Semua hancur. Untungnya, Amin dan keluarganya bisa diselamatkan. Mereka sempat disembunyikan di rumah kepala desa.
Selain merusak rumah Amin, warga yang kalap juga melempari dengan batu kediaman anak korban yang bernama Endy. Tapi kerusakan di rumah Endy tak parah-parah amat. Hanya genting dan kaca jendela yang pecah. Kendati begitu, kejadian tersebut membuat Endy takut. Karena itu, perempuan ini segera mengungsi dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya.
Kepolisian Resor Bogor baru datang setelah mendapat laporan dari warga lainnya. Selanjutnya, polisi menangkap satu per satu dari 24 pelaku yang terlibat dalam aksi perusakan tersebut, tentunya termasuk Sawi. Setelah diperiksa intensif, polisi menetapkan 10 tersangka dalam kasus ini. Mereka diancam pasal penyebaran fitnah dan pengrusakan.
Lain di Bogor, beda di Tegal, Jawa Tengah. Di kabupaten itu, puluhan warga Dukuh Bangsa, Kecamatan Jatinegara, menyiksa sampai mati Taryem, yang juga dikenal sebagai dukun. Nenek berusia 70 tahun itu dituding telah menyantet Waju, warga setempat.
Mulanya, Waju nyerocos di hadapan warga telah disantet Taryem. Dia mengaku jadi batuk-batuk dan muntah darah, setelah menghisap beberapa puntung rokok yang pernah disentuh Taryem. Warga terhasut. Sekitar pukul 19.00 WIB, ramai-ramai mereka mendatangi rumah Taryem. Kebetulan saat itu sang tuan rumah sedang duduk santai di teras. Dan tanpa ba-bi-bu lagi mereka langsung menelanjangi dan menyeret Taryem ke persawahan. Itu belum cukup, mereka kemudian memukul dan mengahantamkan batu berkali-kali ke tubuh korban. Taryem pun merenggang nyawa.
Beberapa jam kemudian, Tim Reserse dan Intelijen Kepolisian Resor Slawi yang dipimpin Kepala Satuan Intelijen Ajun Komisaris Polisi Sumbaryono tiba di tempat kejadian. Tanpa kesulitan, polisi membekuk seluruh penganiaya di rumah masing-masing. Para pelaku kini ditahan untuk diperiksa lebih lanjut.
Pembunuhan terhadap orang yang diduga dukun santet, kerap terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Pekan silam, Sariamun juga tewas dibunuh sepuluh warga Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur [baca: Diringkus, Sepuluh Pembunuh "Dukun Santet"]. Dari hasil pemeriksaan, polisi menduga pembantaian dilatarbelakangi masalah dendam, karena korban menyantet seorang warga.(ICH/Tim Buser SCTV)
Adalah Sawi yang melempar berita tersebut. Perempuan berkerudung itu mengatakan, makhluk yang ngendon di sumur Amin, sudah meminta tumbal 10 nyawa manusia sebagai pesugihan (syarat). Selanjutnya buto ijo masih akan meminta 41 nyawa lagi untuk mendukung kekayaan Amin. "Saya datang untuk memberantas kejahatan. Faktanya, makhluk itu sudah meminta 10 nyawa," kata wanita yang mengaku sebagai Dewi Roro Kidul.
Sejatinya, warga tak lantas mempercayai keterangan Sawi. Pasalnya, sudah satu bulan ini wanita paruh baya tersebut sering berbicara ngelantur, layaknya orang tak waras alias gila. Tapi sebagian warga justru meyakini celoteh Sawi. Bahkan, mereka percaya kalau Sawi adalah dukun handal yang mampu mengetahui segala kejadian di Kampung Kalong Tonggoh. "Amin teh gaduh buta hejo (itu mempunyai buto ijo)," seru Sawi. Kontan, puluhan warga menyerbu rumah Amin. Mereka mengobrak-abrik dan menghancurkan semua perabotan di rumah Amin, termasuk sumur yang dimaksud.
Amuk massa berlangsung cepat. Amin dan Estri, istrinya, hanya bisa pasrah. Keduanya juga tak mampu berbuat apa-apa ketika warga mulai merusak perabotan rumah tangga seperti televisi, video compact disk, magic jar, dispenser, speaker, dan jam dinding. Semua hancur. Untungnya, Amin dan keluarganya bisa diselamatkan. Mereka sempat disembunyikan di rumah kepala desa.
Selain merusak rumah Amin, warga yang kalap juga melempari dengan batu kediaman anak korban yang bernama Endy. Tapi kerusakan di rumah Endy tak parah-parah amat. Hanya genting dan kaca jendela yang pecah. Kendati begitu, kejadian tersebut membuat Endy takut. Karena itu, perempuan ini segera mengungsi dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya.
Kepolisian Resor Bogor baru datang setelah mendapat laporan dari warga lainnya. Selanjutnya, polisi menangkap satu per satu dari 24 pelaku yang terlibat dalam aksi perusakan tersebut, tentunya termasuk Sawi. Setelah diperiksa intensif, polisi menetapkan 10 tersangka dalam kasus ini. Mereka diancam pasal penyebaran fitnah dan pengrusakan.
Lain di Bogor, beda di Tegal, Jawa Tengah. Di kabupaten itu, puluhan warga Dukuh Bangsa, Kecamatan Jatinegara, menyiksa sampai mati Taryem, yang juga dikenal sebagai dukun. Nenek berusia 70 tahun itu dituding telah menyantet Waju, warga setempat.
Mulanya, Waju nyerocos di hadapan warga telah disantet Taryem. Dia mengaku jadi batuk-batuk dan muntah darah, setelah menghisap beberapa puntung rokok yang pernah disentuh Taryem. Warga terhasut. Sekitar pukul 19.00 WIB, ramai-ramai mereka mendatangi rumah Taryem. Kebetulan saat itu sang tuan rumah sedang duduk santai di teras. Dan tanpa ba-bi-bu lagi mereka langsung menelanjangi dan menyeret Taryem ke persawahan. Itu belum cukup, mereka kemudian memukul dan mengahantamkan batu berkali-kali ke tubuh korban. Taryem pun merenggang nyawa.
Beberapa jam kemudian, Tim Reserse dan Intelijen Kepolisian Resor Slawi yang dipimpin Kepala Satuan Intelijen Ajun Komisaris Polisi Sumbaryono tiba di tempat kejadian. Tanpa kesulitan, polisi membekuk seluruh penganiaya di rumah masing-masing. Para pelaku kini ditahan untuk diperiksa lebih lanjut.
Pembunuhan terhadap orang yang diduga dukun santet, kerap terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Pekan silam, Sariamun juga tewas dibunuh sepuluh warga Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur [baca: Diringkus, Sepuluh Pembunuh "Dukun Santet"]. Dari hasil pemeriksaan, polisi menduga pembantaian dilatarbelakangi masalah dendam, karena korban menyantet seorang warga.(ICH/Tim Buser SCTV)