Liputan6.com, Manila: Untuk memburu tersangka teroris Faturrahman Al-Ghozi, pemerintah Filipina membentuk 63 tim pelacak khusus. Tim ini didukung lebih dari 5.000 tentara dan 300 ribu petugas keamanan dari 42 ribu desa di seluruh Filipina. Pernyataan tersebut dikemukakan Juru Bicara Kepala kepolisian Nasional Filipina Leopoldo Bataoil di Manila, baru-baru ini.
Kendati mengerahkan kekuatan yang besar, sejauh ini, polisi Filipina belum mendapatkan titik terang mengenai keberadaan pria berusia 32 tahun yang kabur dengan dua anggota Abu Sayyaf dari Penjara Camp Crime, Manila, 14 Juli silam itu. Bahkan perburuan juga disertai iming-iming hadiah yang sangat menggiurkan. Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menginstruksikan penambahan hadiah untuk meringkus Al-Ghozi dari sebelumnya lima juta peso menjadi 10 juta peso atau lebih dari Rp 1,5 miliar [baca: Harga buat Penangkap Al-Ghozi Ditambah].
Sedangkan iming-iming untuk buronan Abul Mukhim Edris dan Meram Abante alias Omar Opik Lasal tetap, masing-masing dipatok sebesar dua juta dan satu juta peso. Iming-iming hadiah tersebut tercantum dalam poster yang ditempel di seantero Filipina.
Kaburnya Al-Ghozi secara telak membuat malu Presiden Arroyo. Sebab, pada saat pria yang dihukum 15 tahun penjara karena sejumlah aksi pengeboman Negeri Tagalog itu kabur, pemerintah Filipina tengah menjamu Perdana Menteri Australia John Howard untuk membicarakan penanganan terorisme [baca: Al-Ghozi Kabur dari Bui Filipina].
Dari Jakarta, Kepala Bagian Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Polri Erwin Mappaseng mengatakan, hingga saat ini kepolisian belum mendapatkan laporan tanda-tanda keberadaan Al-Ghozi di Indonesia. Menurut Mappaseng, Mabes Polri telah menyebarkan surat Daftar Pencarian Orang dari kepolisian Filipina tentang kaburnya pria yang diduga kuat anggota Jamaah Islamiyah itu dari Penjara Camp Crime. "Kepolisian Filipina mengajukan permintaan resmi penangkapan Al-Ghozi kepada Kapolri," ujar Mappaseng.(COK/Indreswari)
Kendati mengerahkan kekuatan yang besar, sejauh ini, polisi Filipina belum mendapatkan titik terang mengenai keberadaan pria berusia 32 tahun yang kabur dengan dua anggota Abu Sayyaf dari Penjara Camp Crime, Manila, 14 Juli silam itu. Bahkan perburuan juga disertai iming-iming hadiah yang sangat menggiurkan. Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menginstruksikan penambahan hadiah untuk meringkus Al-Ghozi dari sebelumnya lima juta peso menjadi 10 juta peso atau lebih dari Rp 1,5 miliar [baca: Harga buat Penangkap Al-Ghozi Ditambah].
Sedangkan iming-iming untuk buronan Abul Mukhim Edris dan Meram Abante alias Omar Opik Lasal tetap, masing-masing dipatok sebesar dua juta dan satu juta peso. Iming-iming hadiah tersebut tercantum dalam poster yang ditempel di seantero Filipina.
Kaburnya Al-Ghozi secara telak membuat malu Presiden Arroyo. Sebab, pada saat pria yang dihukum 15 tahun penjara karena sejumlah aksi pengeboman Negeri Tagalog itu kabur, pemerintah Filipina tengah menjamu Perdana Menteri Australia John Howard untuk membicarakan penanganan terorisme [baca: Al-Ghozi Kabur dari Bui Filipina].
Dari Jakarta, Kepala Bagian Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Polri Erwin Mappaseng mengatakan, hingga saat ini kepolisian belum mendapatkan laporan tanda-tanda keberadaan Al-Ghozi di Indonesia. Menurut Mappaseng, Mabes Polri telah menyebarkan surat Daftar Pencarian Orang dari kepolisian Filipina tentang kaburnya pria yang diduga kuat anggota Jamaah Islamiyah itu dari Penjara Camp Crime. "Kepolisian Filipina mengajukan permintaan resmi penangkapan Al-Ghozi kepada Kapolri," ujar Mappaseng.(COK/Indreswari)