Gunung Soputan Diperkirakan Meletus Lagi

Data seismograf di Posko Pemantauan Gunung Soputan, Minahasa, Sulut, menunjukkan kemungkinan akan terjadi letusan yang lebih besar lagi. Tiga kecamatan ditutupi debu setebal tiga sentimeter.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Juli 2003, 05:30 WIB
Liputan6.com, Minahasa: Aktivitas Gunung Soputan di Minahasa, Sulawesi Utara, belum mengarah ke tanda-tanda tenang hingga Sabtu (19/7) petang. Data seismograf di Posko Pemantauan Gunung Soputan justru menunjukkan kemungkinan akan terjadi letusan yang lebih besar lagi.

Memang, sejak mengeluarkan bunyi gemuruh diiringi ledakan dan hujan debu, Jumat pagi, aktivitas gunung dengan tinggi 1.783 meter di atas permukaan laut ini terus meningkat. Meski begitu, pemerintah daerah setempat belum mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar gunung berapi tersebut. Namun, pemda telah mengimbau warga untuk bersiaga menghadapi kemungkinan terjadinya letusan besar sewaktu-waktu [baca: Minahasa Siaga Tiga].

Sementara ini, kecamatan di Minahasa yang rusak diterjang letusan masing-masing Kecamatan Tareran, Kawangkoaan, dan Langowan. Selain diselimuti debu berketebalan tiga sentimeter, ribuan hektare lahan pertanian dipastikan rusak akibat tertutup debu panas dari Gunung Soputan.

Terakhir, gunung Soputan menyemburkan debu pada Mei 2000. Semburan abu panas Gunung Soputan terasa di beberapa tempat di Kabupaten Minahasa hingga ke Kota Manado. Tampaknya, gunung ini lumayan sering meletus. Di abad ke-20 saja, gunung ini meletus pertama kali pada 1901 dan terakhir pada 1993. Di abad ke-19, Soputan empat kali meletus, yaitu pada 1890, 1845, 1833, dan 1819. Jauh sebelumnya, pada 1785, gunung ini juga sempat meletus sekali.

Jika dihitung secara statistik, periode letusan Soputan dari 1785 hingga 2000, rata-rata mempunyai selang waktu letusan sekitar 8,5 tahun. Dari rentang itu, tercatat sekurang-kurangnya Soputan 25 meletus, baik bersifat eksplosif maupun efusif (gas keluar dari pori-pori gunung). Letusan itu mengakibatkan kerugian harta benda yang tak sedikit, meski tak tercatat adanya korban jiwa, kecuali terjadi pengungsian pada 1984.(TNA/Aldrin)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya