Menyusul ketatnya regulasi Eropa dan kekayaan dunia yang beralih ke Asia, Singapura diproyeksikan bakal menggeser Swiss sebagai pusat tujuan investasi (tax heaven) terbesar dunia dari sisi aset pada 2020 mendatang.
Proyeksi tersebut disampaikan perusahaan riset kekayaan WealthInsight, London dalam laporannya seperti dikutip laman CNN, Selasa (14/5/2013).
Meski Swiss masih bisa mempertahankan mahkotanya sebagai tujuan investasi dunia dengan pengelolaan aset hingga US$ 2,8 triliun atau 34% dari industri pengelola keuangan dunia, Singapura kini justru menjelma menjadi negara dengan pertumbuhan pasar tercepat dengan aset senilai US$ 550 miliar pada 2011 atau naik dari hanya US$ 50 miliar tahun 2000 lalu.
Dengan aset US$ 450 miliar milik klien bisnisnya di luar negeri, Singapura tumbuh menjadi pusat investasi asing terbesar keempat dunia.
Inggris dan Channel Islands bertengger di posisi kedua dengan nilai aset mencapai US$ 1,8 triliun pada akhir 2011. Disusul Karibia dan Panama dengan nilai aset US$ 800 juta.
Dana kelolaan aset di Singapura diperkirakan bisa meningkat empat kali lipat pada 2016 mendatang. Sementara aset investasi di rekening bank Swiss diprediksi turun ke bawah US$ 2 triliun dalam tiga tahun terakhir.
Analis mengatakan, hilangnya kepercayaan kalangan orang kaya Amerika dan Eropa di tengah krisis kerahasiaan bank, dan independensi bank tradisional, dikombinasikan dengan makin ketatnya aturan perbankan, membuat Singapura menjadi pilihan menarik para investor.
"Pemerintah Singapura yang stabil, transparansi hukum dan sejarah manajemen investasi serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari membuat Singapura menjadi incaran para investor," kata Analis Medioabanca, lembaga investasi Italia, Chris Wheeler.
Sebaliknya, Swiss tidak menyediakan pasar yang nyaman bagi para investor dengan kerahasiaan banknya.
Wealthinsight juga menilai, meningkatnya jumlah kekayaan China, India dan Indonesia juga menyulut rendahnya pajak Asia.
"Krisis Eropa juga berdampak besar pada Swiss karena semua bangsa Eropa berupaya memperoleh pajak sebanyak yang mereka bisa dari manapun" kata Wheeler.
Sejumlah investor di pasar Asia diketahui lebih memilih investasi bisnis diluar negeri dengan tujuan mendiversifikasi risiko. Pilihan ini juga dilakukan karena minimnya pengalaman dan reputasi dari perusahaan manajer investasi di kawasan Asia. (Shd)
Proyeksi tersebut disampaikan perusahaan riset kekayaan WealthInsight, London dalam laporannya seperti dikutip laman CNN, Selasa (14/5/2013).
Meski Swiss masih bisa mempertahankan mahkotanya sebagai tujuan investasi dunia dengan pengelolaan aset hingga US$ 2,8 triliun atau 34% dari industri pengelola keuangan dunia, Singapura kini justru menjelma menjadi negara dengan pertumbuhan pasar tercepat dengan aset senilai US$ 550 miliar pada 2011 atau naik dari hanya US$ 50 miliar tahun 2000 lalu.
Dengan aset US$ 450 miliar milik klien bisnisnya di luar negeri, Singapura tumbuh menjadi pusat investasi asing terbesar keempat dunia.
Inggris dan Channel Islands bertengger di posisi kedua dengan nilai aset mencapai US$ 1,8 triliun pada akhir 2011. Disusul Karibia dan Panama dengan nilai aset US$ 800 juta.
Dana kelolaan aset di Singapura diperkirakan bisa meningkat empat kali lipat pada 2016 mendatang. Sementara aset investasi di rekening bank Swiss diprediksi turun ke bawah US$ 2 triliun dalam tiga tahun terakhir.
Analis mengatakan, hilangnya kepercayaan kalangan orang kaya Amerika dan Eropa di tengah krisis kerahasiaan bank, dan independensi bank tradisional, dikombinasikan dengan makin ketatnya aturan perbankan, membuat Singapura menjadi pilihan menarik para investor.
"Pemerintah Singapura yang stabil, transparansi hukum dan sejarah manajemen investasi serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari membuat Singapura menjadi incaran para investor," kata Analis Medioabanca, lembaga investasi Italia, Chris Wheeler.
Sebaliknya, Swiss tidak menyediakan pasar yang nyaman bagi para investor dengan kerahasiaan banknya.
Wealthinsight juga menilai, meningkatnya jumlah kekayaan China, India dan Indonesia juga menyulut rendahnya pajak Asia.
"Krisis Eropa juga berdampak besar pada Swiss karena semua bangsa Eropa berupaya memperoleh pajak sebanyak yang mereka bisa dari manapun" kata Wheeler.
Sejumlah investor di pasar Asia diketahui lebih memilih investasi bisnis diluar negeri dengan tujuan mendiversifikasi risiko. Pilihan ini juga dilakukan karena minimnya pengalaman dan reputasi dari perusahaan manajer investasi di kawasan Asia. (Shd)