Ernest Prakasa: Tersingkir dari SUCI 2011 adalah Fase Terendah dalam Hidupku

Hampir semua posisi di dunia hiburan, mulai dari aktor, sutradara, pelawak tunggal, penulis, produser hingga penyiar radio pernah dilakoninya.

oleh RinaldoDiperbarui 27 Desember 2024, 15:05 WIB
Aktor, sutradara, penulis dan produser dari Imajinari, Ernest Prakasa. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Sulit untuk mendefinisikan apa sebenarnya profesi dari seorang Ernest Prakasa. Sebab, hampir semua posisi di dunia hiburan, khususnya perfilman sudah dia lakoni. Mulai dari seorang aktor, sutradara, pelawak tunggal, penulis, produser hingga penyiar radio layak disematkan kepada dirinya.

Lahir di Jakarta pada 29 Januari 1982, Ernest Prakasa adalah anak dari pasangan Wahyudi Hidayat dan Jenny Lim. Darah Tionghoa didapatkannya dari garis keturunan sang ibu. Setelah menamatkan Pendidikan dasar dan menengah, dia melanjutkan studi ke Universitas Katolik Parahyangan di Bandung. Namun Ernest mengundurkan diri untuk dan menamatkan S-1 Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran.

Saat menuntut ilmu di Kota Bandung inilah Ernest mengawali kariernya dengan menjadi pengarah musik di stasiun radio Paramuda Bandung (Januari 2001). Pada Agustus 2001, Ernest memulai pekerjaan baru di Universal Music dan sebagai asisten manajer Sony BMG Indonesia. Pada Mei 2008, Ernest menjabat sebagai manajer pemasaran di perusahaan rekaman Dr. M.

Ernest memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, Agustus 2011, karena mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim pertama. Meski hanya meraih peringkat ketiga dalam ajang ini, Langkah Ernest ternyata sangat tepat.

Bersama Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Isman H. Suryaman dan Ryan Adriandhy, Ernest mendirikan Stand Up Indo, yang merupakan sebuah komunitas pelawak tunggal pertama di Indonesia. Ernest pun diangkat sebagai ketua pertama dari komunitas tersebut hingga periode Juni 2013.

Ernest merupakan pelawak tunggal pertama yang melakukan tur komedi tunggal pada 2012. Tur tersebut dinamai Merem Melek, dengan menjelajahi 11 kota di Indonesia dan diakhiri di Gedung Kesenian Jakarta pada 10 Juli 2012. Pada November 2013, Ernest melakukan tur keduanya yang diberi judul Illucinati, dengan menyambangi 17 kota dan kembali ditutup di Gedung Kesenian Jakarta pada 25 Januari 2014.

Dua tur berikutnya yang ia jalankan adalah Happinest pada 2015 dan Setengah Jalan pada 2017, dilakukan masing-masing di belasan kota di Sumatera hingga Sulawesi.

Lanjut Baca:

Dalam kehidupan pribadinya, pada 2007, Ernest menikah dengan Meira Anastasia. Saat itu Ernest memutuskan untuk menikah muda pada usia 25 tahun dan sang istri berusia 24 tahun saat itu. Mereka dikaruniai dua orang anak bernama Sky Tierra Solana dan Snow Auror Arashi. Tak cukup menjadi pelawak tunggal, Ernest kemudian merambah ke industri perfilman sebagai aktor, di mana dia antara lain bermain di Make Money, Comic 8, Kukejar Cinta ke Negeri Cina, CJR The Movie, dan Rudy Habibie. Pada 2013, Ernest Prakasa mulai menunjukkan bakat barunya dalam penulisan dengan membuat buku berjudul Ngenest-Ngetawain Hidup Ala Ernest. Buku ini lantas diadaptasi ke dalam film berjudul sama di bawah naungan rumah produksi StarVision Plus. Di sini, ia juga berperan menjadi salah satu karakter sekaligus sutradara. Desember 2016, Ernest merilis film keduanya sebagai penulis-sutradara, yakni Cek Toko Sebelah. Film ini meraih lebih dari 2,6 juta penonton, serta menyabet Film Terbaik di Indonesia Box Office Movie Awards, Festival Film Bandung, dan Indonesia Movie Actors Awards; serta kategori Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia, Piala Maya, Festival Film Bandung, dan Indonesia Box Office Movie Awards. Desember 2017, Ernest merilis film ketiganya sebagai penulis-sutradara, yakni Susah Sinyal, yang kali ini ditulis berdua dengan sang istri, Meira Anastasia. Film ini meraih lebih dari 2,1 juta penonton, dan menyabet tiga piala Indonesia Box Office Movie Awards termasuk untuk Skenario Terbaik. Dengan perolehan ini, Ernest berhasil mencatat rekor sapu bersih kategori Skenario Terbaik di Indonesia Box Office Movie Awards selama tiga tahun berturut-turut. Hingga kini ia telah membintangi sekitar 30 judul film Indonesia. Dari jumlah ini, ia juga berperan sebagai produser dan sutradara di 8 film dan penulis di 12 judul filmnya. Setelah bekerja sama dengan rumah produksi Starvision Plus sejak 2015 sampai 2022, Ernest memutuskan untuk mendirikan rumah produksi sendiri dengan nama Imajinari bersama Dipa Andika. Melalui Imajinari Pictures yang ia dirikan, dua dari film-film yang ia produseri, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film dan Agak Laen, mendapat banyak pujian: Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memenangkan 7 Piala Citra di Festival Film Indonesia 2024, sementara Agak Laen menjadi film komedi Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 9,1 juta penonton. Lantas, apa lagi gebrakan Ernest bersama Imajinari di tahun 2025? Berikut petikan wawancara Ernest Prakasa dengan Wayan Diananto dalam program Bincang Liputan6.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya