Makan Siang Gratis Rp10 Ribu Bisakah Penuhi Kebutuhan Gizi Anak? Begini Tanggapan Ahli Gizi

Dengan anggaran makan bergizi gratis yang disediakan pemerintah, menurut ahli gizi UGM setiap daerah dapat menerapkan menu-menu yang berbeda sesuai dengan ketersediaan potensi dan kekayaan hasil alam yang ada di setiap daerah.

oleh Tim HealthDiperbarui 08 Desember 2024, 09:42 WIB
Terlihat siswa Sekolah Dasar (SD) Angkasa 5 Halim Perdanakusuma antusias menyantap makanan yang tersaji di dalam kotak. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Anggaran makan bergizi gratis Rp10.000 yang dianggarkan pemerintah dinilai masih memungkinkan untuk memenuhi gizi anak sekolah. Hal ini disampaikan ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Dilihat dari perencanaannya, Rp10.000 untuk setiap anak masih mungkin dilaksanakan," ungkap Toto Sudargo, Sabtu, dilansir ANTARA.

Meski demikian, menurut Toto pelaksanaan makan bergizi gratis harus terus dipantau.

"Tentunya, pelaksanaannya harus terus dipantau, dievaluasi, dan ditingkatkan," lanjutnya.

Dia menuturkan, program makan bergizi gratis tersebut sangat mulia karena tidak semua negara sanggup dan dapat melakukan program besar seperti itu.

Dengan anggaran yang disediakan pemerintah, menurut Toto setiap daerah dapat menerapkan menu-menu makan bergizi yang berbeda sesuai dengan ketersediaan potensi dan kekayaan hasil alam yang ada di setiap daerah.

"Beberapa daerah memang masih mengandalkan nasi. Di beberapa daerah seperti Papua dapat diganti dengan sagu, papeda, jagung. Kemudian, untuk karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dapat diganti dengan ikan, telur, dan daging atau sumber nabati lainnya, sesuai wilayahnya masing-masing," ujar dia.

Mengenai anggaran program makan bergizi gratis sebesar Rp10.000 per porsi, Toto menilai jumlah tersebut dapat ditekan dengan pelaksanaan subsidi silang dan pengurangan biaya lain seperti biaya transportasi ke sekolah dengan memanfaatkan pembuatan makanan di wilayah yang dekat dengan wilayah sekolah.

Selain aspek gizi dan biaya, Toto menyebut Badan Pengawas Badan Pengawas Gizi Nasional akan turut membantu memantau pelaksanaan program tersebut.

 

 

Makan Bergizi Gratis Diharapkan Sesuai Kebutuhan Gizi

Toto berharap program makan bergizi gratis dapat sesuai kebutuhan gizi dan keamanan bahan pangan bisa terjaga sampai dikonsumsi nantinya.

Selain itu, Toto melihat bahwa makan bergizi gratis pun dapat dimaksimalkan dari aspek penyajian. Menurutnya, makanan harus disesuaikan dengan kesukaan anak-anak sehingga dapat meminimalkan bahkan meniadakan makanan yang terbuang.

"Makanannya tidak apa-apa dengan porsi yang kecil, tetapi bisa dibuat menarik sehingga anak-anak suka dan mereka mau untuk makan,” kata dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM ini.

 

Tidak Boleh Dilaksanakan Sembarangan

Lebih lanjut Toto mengatakan, pelaksanaan program makan bergizi gratis tidak boleh sembarangan sebab berdampak secara langsung kepada anak-anak yang merupakan generasi emas penerus bangsa.

Toto berpesan pada pemerintah agar lebih dulu memperhatikan aspek kualitas makanan ketimbang jumlah yang disediakan.

"Saat kita memberikan makanan kepada anak-anak, jangan sampai yang dipikirkan pemerintah adalah masalah keuntungan atau profit," ucapnya.

 

Berharap Semua Pihak Bekerja Sama

Toto berharap program ini dapat berjalan dengan baik disertai dukungan dan peran berbagai pihak seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media, dan masyarakat.

"Ini adalah program gizi yang diberikan kepada generasi penerus bangsa sehingga mari semua pihak bekerja sama untuk saling memperbaiki satu sama lain sehingga kebutuhan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya