Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) baru saja merayakan ulangtahun yang ke delapan. Di ultahnya ini, PaSKI berharap para anggotanya semakin cerdas dalam mengocok perut masyarakat.
Hal itu dilontarkan langsung oleh Ketua Umum PaSKI, Derry 4 Sekawan. Menurut Derry, pelawak atau komedian sudah tidak zaman lagi mengandalkan candaan yang bersifat kasar, namun candaan yang cerdas dan tetap menghibur.
"Sesuai dengan tujuan PaSKI, mengangkat harkat dan martabat komedian Indonesia. Tentu harus menjadi komedian yang cerdas, memiliki wawasan komedi yang baik. Kalau pintar, di segala zaman akan tetap terpakai. Tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga wawasan," ujar Derry, saat dihubungi di Gatot Soebroto, Minggu (28/4/2013) malam.
Menurut Derry, untuk menambah wawasan para komedian, PaSKI mengadakan latihan setiap Kamis malam. Di situ, para komedian tida saja diberikan pengetahuan bagaimana menjadi pelawak yang lebih cerdas dan santun.
"Setiap Kamis, ada forum Kamisan. Belajar tentang manajemen, pelawak juga harus mengerti manajemen. Kemudian, bagaimana mempublikasikan diri, itu juga ada programnya. Workshop hukum, kami ada konsultan hukum juga. Supaya nggak asal tanda tangan saja, tapi juga tahu. Ada juga misalnya pelawak baru, tampil, nanti kami nonton lalu dikasih masukan. Ya semacam les, mengembangkan bagaimana pelawak itu," lanjut Derry.
Menurut Derry, saat ini para pelawak atau komedian dituntut untuk lebih pintar dan cerdas saat tampil di depan penonton. Pria berusia 44 tahun itu melanjutkan, gaya lawakan dengan candaan kasar saat ini sudah perlahan ditinggalkan.
"Pelawak yang sehat dan cerdas itu artinya tidak harus menyakiti orang, Misalnya, maaf, harus dijorogin sampai jatuh. Lewat verbal, yang cerdas dan sehat, artinya tidak sekedar melawak tapi juga memberikan tuntunan kepada masyarakat. Sebuah tontonan menjadi tuntunan sehingga memberikan tatanan yang baik bagi masyarakat. Yang sehat seperti itu," tutur pemilik nama lengkap Derry Sudarisman itu.
"Dalam melawak, kita tidak menyalahkan orang lain, tapi menertawakan diri sendiri. Mengkritik boleh, tapi ada solusi. Mengkritik tanpa solusi itu namanya memaki. Kami ajarkan bagaimana melawak dengan aturan, ada etika. Humor itu harus punya sisi humanis dan moralis. Nggak bisa ngatain orang sembarangan," jelasnya. (Fei)