Berkunjung ke Tanah Leluhur Batak Sialagan

Tanah leluhur suku Batak marga Sialagan itu terletak di Pulau Samosir, Sumatra Utara. Di sana terdapat perkampungan tradisional suku Batak yang masih terjaga kelestariannya.

oleh Liputan6Diterbitkan 21 Juni 2003, 08:41 WIB
Liputan6.com, Samosir: Berwisata ke Sumatra Utara tak lengkap jika tak berkunjung ke Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba. Selain toko-toko cenderamata, di pulau seluas 627 kilometer persegi itu juga terdapat perkampungan tradisional suku Batak marga Sialagan yang masih terjaga keasliannya.

Perkampungan tersebut terletak sekitar 20 kilometer dari Tomok--pintu masuk ke Pulau Samosir, tepatnya di Desa Barita. Di kampung yang berusia sekitar 400 tahun ini terdapat sejumlah rumah tradisional Batak yang hingga kini masih ditempati. Di antaranya adalah rumah raja yang sudah direnovasi, kecuali pot bunga dan tangga yang terbuat dari batu.

Di perkampungan kuno itu juga terdapat bangunan makam raja yang lebih mirip sebuah gereja. Sebab, tepat di atas bangunan terdapat salib. Menurut warga setempat, awalnya raja pertama Sialagan dikuburkan di dalam sebuah patung batu yang kini terletak di depan bangunan makam. Setelah turunan raja memeluk Kristen, tulang sang leluhur dipindahkan ke bagian paling atas bangunan makam, tepat di bawah salib.

Masih di kompleks perkampungan, berdiri batu persidangan. Seperti namanya, tempat yang terdiri atas batu-batu berbentuk kursi dengan posisi melingkar ini memang untuk menyidangkan para pelanggar hukum adat. Pada masa raja-raja Siagalan juga sudah dikenal hukuman mati bagi para pembangkang. Sebelum dieksekusi, kedua kaki pelanggar hukum adat dipasung dengan kayu. Setelah vonis dijatuhkan melalui persidangan, terdakwa baru dihukum mati dengan cara dipenggal.

Marga Siagalan di kampung itu juga masih menyimpan Buku Batak. Buku yang terbuat dari kulit kayu itu menyimpan resep obat-obatan dan tata cara mengusir roh jahat. Para wisatawan juga bisa menikmati tarian asli suku Batak seperti Sigale-gale atau tortor di Simanindo, tak jauh dari Barita. Di sana para pelancong juga bisa ikut menari dengan warga setempat.(ZAQ/Dian Wignyo dan Binsar Rahardian)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya