Ranjang Pale, Peraduan Kayu Berukir Khas Sampang

Tempat tidur ini memiliki corak khusus yang bisa membedakan dengan ranjang ukir dari daerah lain. Ranjang yang semua bagiannya terbuat dari kayu ini sepintas lalu kelihatan artistik dan kuno.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Juni 2003, 06:53 WIB
Liputan6.com, Sampang: Kerajinan tempat tidur dari kayu ukir sebenarnya cukup banyak ditemukan di sejumlah kota di Tanah Air. Tapi hanya produksi beberapa daerah saja yang dikenal masyarakat saat ini. Ranjang ukir khas Jepara, Jawa Tengah, termasuk yang masih mendominasi pasaran tempat tidur kayu berukir. Selain Jepara, ada juga ranjang pale dari Sampang-Madura, Jawa Timur. Ranjang pale memiliki corak khusus yang bisa membedakan dengan ranjang ukir dari daerah lain.

Ranjang yang semua bagiannya terbuat dari bahan kayu tersebut, sepintas lalu kelihatan artistik dan kuno. Mungkin karena ranjang pale memang mirip dengan ranjang-ranjang kayu di masa kerajaan kuno masa lampau. Ciri khas ranjang ukir dari Sampang terletak pada bentuk tiangnya yang bulat terbuat dari batang kayu jati atau pun bengkirai. Lebih menariknya batang kayu itu diukir dengan corak bulat melingkar atau bulat memanjang. Tiang ranjang yang rata-rata setinggi dua meter semakin mengesankan kekokohan tempat peraduan ini. Pada bagian tengah terdapat ukiran berbentuk gambar aneka bunga melati maupun binatang, seperti kupu-kupu untuk memberi kesan lembut.

Menurut pengrajin ranjang khas Sampang, untuk menyelesaikan satu buah ranjang ukir dibutuhkan waktu sekitar lima hari dengan dua orang pekerja. Pembuatannya bisa menggunakan ukir dengan tangan atau memakai mesin. Tapi untuk ranjang pale yang asli, hanya bisa diukir dengan tangan. Sementara untuk ranjang pale yang dimodifikasi, pengrajin biasa menggunakan mesin bubut. Dibanding ranjang ukir lainnya, ranjang pale terbilang murah. Satu set ranjang dijual seharga Rp 1 juta hingga Rp 1.5 juta tergantung bahan yang digunakan. Sebuah ranjang khas Sampang akan lebih mahal apabila seluruh bahan baku yang digunakan dari kayu jati.

Walaupun pengrajin ranjang khas Sampang-Madura ini terpusat di Kota Sampang, namun mayoritas pemesan adalah warga Madura yang tinggal di pelosok. Biasanya ranjang pale yang dipesan dijadikan barang bawaan (oleh-oleh) dalam acara pernikahan. Asal tahu saja, bagi sebagian masyarakat desa di Madura, membawa oleh-oleh buat pihak mempelai wanita adalah tradisi.

Selain warga sekitar, tak sedikit juga peminat ranjang ukir pale berdatangan dari kota lain di Jatim, seperti Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Pembeli bisa mendapatkan berbagai ragam model sesuai pesanan. Ada pagaran (batas penghalang-Madura) motif gunung dan tumpang. Kesan antik semakin terlihat karena selain dipelitur juga beberapa bagian ranjang pale dicat dengan warna mencolok.(DEN/Mohamad Khodim dan Salli)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya