Biar Warnanya Lebih Seksi, Puting Payudara Gadis Kini Ditato

Wanita zaman kini bak mendewakan kecantikan. Demi badan yang indah, wanita bisa menghabiskan uangnya untuk operasi plastik. Salah satu yang sedang digandrungi di Inggris adalah tato puting (tittooing).

oleh Liputan6Diterbitkan 18 April 2013, 11:38 WIB
Wanita zaman kini bak mendewakan kecantikan. Demi badan yang indah, wanita bisa menghabiskan uangnya untuk operasi plastik. Salah satu yang sedang digandrungi di Inggris adalah tato puting (tittooing).

Tren ini merupakan tato puting semipermanen yang melanda Liverpool dan sudah mencapai Essex.

Proses tato puting berasal dari prosedur medis untuk rekonstruksi payudara. Namun, kini  beralih fungsi menjadi prosedur kosmetik. Biasanya, wanita yang melakukannya karena ingin menggelapkan puting, memperbesar, dan menentukan puting serta areola di sekitarnya.

Gail Proudman, dokter di Merseyside, telah mentato lebih dari tiga wanita dalam seminggu dan ia melihat ada peningkatan yang cukup signifikan jumlah pasien wanita muda demi tren kosmetik terbaru itu.

"Banyak orang yang ingin putingnya dibuat lebih gelap. Ini fashion," kata Gail Proudman, seorang dokter yang melakukan prosedur kosmetik itu seperti dikutip Huffington Post, Kamis (18/4/2013),

"Beberapa orang berpikir mereka (puting) terlalu merah muda atau pacarnya menginginkannya. Saya pikir terkadang mereka melakukannya karena mereka sadar kalau itu pucat dan mereka pikir kalau putingnya gelap lebih modis," tambahnya.

Untuk melakukannya, perempuan di Inggris harus membayar 1.200 Poundsterling (sekitar Rp 17 juta) untuk kedua puting payudaranya.

Proses tittooing itu biasanya memakan waktu 2 jam dan perlu di touch-up setiap 12-18 bulan untuk mengindari memudar.

Warna puting dibuat sealami mungkin dengan mencocokkan warna tinta untuk warna kulit, kemudian mentato di puting. Beberapa minggu setelah prosedur, prosesnya harus diulang untuk menambah sentuhan akhir.

Dengan cara seperti itu, tentunya prosedur kecantikan ini terdengar membutuhkan waktu dan energi. Namun, tak seperti itu karena tergantung sudut pandang masing-masing orang.

Danielle Price, teknisi tittoo di Inggris menganggap tren ini terlihat menyedihkan. Kebanyakan kliennya berusia 18-25 tahun.

"Beberapa gadis datang ke saya dan mengatakan pacarnya menyukainya. Ini sedikit mengkhawatirkan dengan pikiran seperti itu dan dilakukan hanya karena itu, dan saya tak akan melakukannya sampai mereka yakin benar-benar ingin melakukanya".

"Generasi muda menjadi terpaku pada segala sesuatu hanya untuk itu".(Mel)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya