Ribuan Warga Tibet Demo di Washington Saat Xi Jinping Bertemu Trump

Apa tuntutan yang disampaikan warga Tibet saat demo di Washington?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 24 September 2026, 10:32 WIB
Presiden Tiongkok, Xi Jinping (kanan) dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (tengah) mengunjungi Temple of Heaven, Beijing, Kamis 14 Mei 2026. (Brendan Smialowski/Pool Photo via AP)

Liputan6.com, Washington D.C - Lebih dari 3.000 warga Tibet menggelar demonstrasi di Washington, Amerika Serikat, pada Kamis, 24 September 2026. Aksi tersebut digelar bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih untuk bertemu Presiden AS Donald Trump.

Aksi yang disebut penyelenggara sebagai demonstrasi terbesar warga Tibet di Amerika Utara itu diorganisasi Tibetan Youth Congress (TYC) dan didukung sejumlah kelompok aktivis Tibet lainnya, dikutip dari laman The Diplomat.

Para demonstran mendesak Trump agar mengangkat persoalan hak asasi manusia (HAM) dalam pembicaraannya dengan Xi. Mereka juga menyerukan pembebasan tahanan politik dan tahanan agama di China serta meminta agar masyarakat Tibet diberikan ruang untuk mempertahankan bahasa dan budaya mereka.

Massa turut menuntut pencabutan Ethnic Unity and Progress Promotion Law, undang-undang baru China yang mulai berlaku pada Juli 2026. Pemerintah China menyatakan aturan tersebut bertujuan melindungi hak-hak kelompok minoritas sekaligus mendorong persatuan etnis.

Namun, aktivis Tibet menilai aturan tersebut justru memperkuat kebijakan yang menurut mereka mendorong asimilasi masyarakat Tibet ke dalam identitas China.

"Isu HAM seharusnya tidak ditinggalkan di luar pembicaraan mereka," kata Presiden International Campaign for Tibet Tencho Gyatso.

"Orang Tibet, Uyghur, Hong Kong, dan Taiwan, kami ingin memastikan suara kami juga didengar," lanjutnya.

Bawa Bendera Tibet hingga ke Capitol

Demonstrasi dimulai sekitar pukul 09.00 waktu setempat di depan Kedutaan Besar China di Washington. Setelah berkumpul, para demonstran kemudian berjalan menuju Capitol.

Polisi dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi. Sejumlah ruas jalan, termasuk Connecticut Avenue, ditutup untuk mengakomodasi arus massa.

Para demonstran membawa bendera Tibet dan berbagai poster. Di antaranya bertuliskan "Xi Jinping is guilty of genocide" serta "Tibet was never a part of China".

Sesampainya di Capitol, sejumlah tokoh politik AS turut berbicara di hadapan massa. Mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Jim McGovern, ikut hadir.

McGovern menyerukan agar isu HAM menjadi bagian dari pembicaraan Trump dengan Xi.

"No Xi in D.C. without human rights," kata McGovern kepada massa.

Pelosi juga menyampaikan dukungan kepada para demonstran dan menyoroti persoalan HAM di Tibet serta menyerukan pembebasan tahanan yang disebut sebagai tahanan hati nurani.

 

 

Aksi Meluas, Gabungkan Kelompok Uyghur hingga Taiwan

Presiden Tiongkok, Xi Jinping (kanan) dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump berjabat tangan di Temple of Heaven, Beijing, Kamis 14 Mei 2026. (Brendan Smialowski/Pool Photo via AP)

Demonstrasi kemudian berkembang menjadi aksi bersama yang melibatkan sejumlah kelompok diaspora dan aktivis dari komunitas Uyghur, Mongolia Selatan, China pro-demokrasi, Taiwan, Burma, Falun Gong, hingga kelompok Kristen China.

Presiden Uyghur American Association, Misran Dolan, menyebut kelompok-kelompok tersebut memiliki tuntutan yang berkaitan dengan kebebasan politik dan beragama.

"Free the Uyghurs. Free the Tibetans. Keep Taiwan free. Keep Hong Kong free. Keep China free," ujarnya.

Sekitar 200 anggota komunitas Uyghur disebut ikut dalam aksi tersebut.

Kelompok aktivis demokrasi China juga hadir. Zheng Zhou dari Democratic Party of China mengatakan sekitar 50 anggota kelompoknya datang dari Los Angeles untuk mengikuti demonstrasi.

"Kami ingin Xi Jinping berhenti menganiaya masyarakat. Kami ingin dia membebaskan Jimmy Lai dan Ding Jiaxi," kata Zhou.

Sementara itu, Daniel Zhou, seorang warga China beragama Kristen yang berafiliasi dengan gereja bawah tanah, menyampaikan persoalan yang menurutnya dihadapi komunitas Kristen di China.

"Para pemimpin gereja kami harus berada di penjara China, meninggalkan keluarga mereka yang berdoa dan menangis di rumah, hanya karena mereka ingin menjalankan agama mereka secara damai di China," ujarnya.

 

Terinspirasi Kematian Aktivis Tibet

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (kiri) berdiri bersama Presiden Tiongkok, Xi Jinping di Temple of Heaven, Beijing, Kamis 14 Mei 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Bagi sejumlah demonstran Tibet, aksi tersebut juga dipengaruhi kematian Lobga Rangzen, aktivis kemerdekaan Tibet yang meninggal setelah melakukan aksi bakar diri di depan markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 2 Juli 2026.

Rangzen, 52 tahun, sebelumnya menyerukan kemerdekaan dan persatuan Tibet dalam pesan terakhirnya.

Presiden Tibetan National Congress Jigme Ugen mengatakan besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa gerakan kemerdekaan Tibet masih berlangsung.

"Ini adalah perkumpulan terbesar, bukan hanya untuk memprotes Xi Jinping, tetapi juga untuk menunjukkan kepada dunia dan pemerintah AS bahwa gerakan Tibet dan seruan untuk kemerdekaan Tibet masih sangat hidup," kata Ugen.

Sementara itu, 17 warga Tibet sebelumnya melakukan perjalanan berjalan kaki dari markas PBB di New York pada 17 September. Mereka melewati Philadelphia sebelum tiba di Washington pada malam 23 September, sehari sebelum aksi utama digelar.

Salah satu peserta, Rangzen Dolkar, mengatakan perjalanan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kondisi Tibet dan kematian Lobga Rangzen.

 

Massa Mendekati Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (kiri) berdiri di samping Presiden Tiongkok, Xi Jinping di Temple of Heaven, Beijing, Kamis 14 Mei 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Setelah aksi di Capitol, para demonstran bergerak menuju Franklin Park, sekitar 800 meter dari Gedung Putih. Sejumlah pembicara dari komunitas Uyghur, Taiwan, Burma, dan Hong Kong menyampaikan pidato di lokasi tersebut.

Pada malam harinya, massa kembali bergerak menuju Gedung Putih.

Polisi memasang barikade di sekitar 14th Street dan Pennsylvania Avenue untuk memisahkan demonstran Tibet dari kelompok lain yang membawa bendera China dan menyatakan dukungan terhadap Xi.

Kedua kelompok saling meneriakkan slogan dari sisi berlawanan. Situasi sempat memanas, tetapi tidak terjadi bentrokan fisik.

Di dalam Gedung Putih, Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Trump.

Presiden Tibetan National Congress Jigme Ugen mengatakan aksi tersebut bertujuan memastikan persoalan Tibet tidak diabaikan dalam pembicaraan antara Washington dan Beijing.

"Dasar pembicaraannya bukan hanya Taiwan, AI, dan perdagangan," ujar Ugen.

"Kami memberi tahu dunia bahwa jika ada keadilan di dunia, keadilan itu harus datang melalui Tibet," sambungnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya