Liputan6.com, Nganjuk: Sekitar seratus hektare sawah di Kecamatan Pace, Tanjung Anom, Wilangan, dan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kering. Air dari sistem irigasi yang ada tak kunjung mengalir ke areal persawahan. Para petani pun putus asa. Mereka akhirnya membakari tanaman padinya sebagai bentuk kekecewaan. Sudah begitu, tarif pompa air yang semula Rp 1.500-Rp 2.000 per setengah hari melonjak menjadi Rp 15 ribu per setengah hari.
Subur, seorang petani warga Desa Malangsari, Kecamatan Tanjung Anom, mengaku merugi pada musim tanam tahun ini. Dari satu hektare sawah yang dimiliki, dia mengaku mengeluarkan uang hingga Rp 6 juta untuk membeli bibit dan obat-obatan. Duit tersebut belum termasuk membayar buruh tani. Para petani yang sawahnya kering mendesak Pemkab Nganjuk segera turun tangan menangani masalah ini. Jika tidak, mereka mengancam menjebol dam-dam yang ada. Kepala Bagian Humas Pemkab Nganjuk Harmono mengatakan, kekeringan disebabkan petani salah membuat perhitungan. Semula, hujan memang diperkirakan masih turun pada Mei ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kendati demikian, Harmono mengaku, pihaknya berjanji segera menyediakan pompa air.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Subur, seorang petani warga Desa Malangsari, Kecamatan Tanjung Anom, mengaku merugi pada musim tanam tahun ini. Dari satu hektare sawah yang dimiliki, dia mengaku mengeluarkan uang hingga Rp 6 juta untuk membeli bibit dan obat-obatan. Duit tersebut belum termasuk membayar buruh tani. Para petani yang sawahnya kering mendesak Pemkab Nganjuk segera turun tangan menangani masalah ini. Jika tidak, mereka mengancam menjebol dam-dam yang ada. Kepala Bagian Humas Pemkab Nganjuk Harmono mengatakan, kekeringan disebabkan petani salah membuat perhitungan. Semula, hujan memang diperkirakan masih turun pada Mei ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kendati demikian, Harmono mengaku, pihaknya berjanji segera menyediakan pompa air.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)