Liputan6.com, Bogor: Harga gabah kering di tingkat petani masih rendah, hanya berkisar Rp 1.100 per kilogram. Dan, itu masih jauh di bawah harga dasar gabah kering panen yang dipatok pemerintah sebesar Rp 1.230 per kilogram. Padahal, Badan Pembinaan Masyarakat Ketahanan Pangan mengaku sudah berupaya menaikkan harga gabah di tingkat petani. Caranya, membeli 1,5 juta ton gabah kering giling dari petani di 15 sentra produksi gabah di Pulau Jawa dan Sumatra. Menurut Kepala Bimas Ketahanan Pangan Achmad Suryana di Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini, upaya tersebut sudah menghabiskan sekitar 70 persen dana darurat sebesar Rp 162 miliar.
Suryana menambahkan, harga gabah kian tertekan karena musim panen raya tahun ini bersamaan dengan panen padi yang jatuh pada April hingga Mei ini. Produksi gabah kering tahun ini diperkirakan mencapai angka 52 juta ton. Kondisi ini masih diperparah oleh beras impor yang terus masuk ke Indonesia dan diperdagangkan dengan harga lebih murah.
Di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, dilaporkan beras impor asal Thailand dan Vietnam menekan harga beras lokal kualitas menengah hingga kisaran Rp 2.300 sampai Rp 2.700 per kg. Hal ini diakui para pedagang beras di Pasar Induk Cipinang. Menurut mereka, harga beras impor kualitas medium lebih murah yaitu Rp 2.200 hingga Rp 2.300 per kg. Untuk diketahui, total beras yang diperdagangkan di Pasar Induk Cipinang sebanyak 5.000-7.000 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 25-30 persen adalah beras impor.
Harga gabah nasional memang tak menentu menjelang panen raya. Di Karawang, Jabar, misalnya. harga gabah bisa merosot sampai kisaran Rp 1.000 per kg. Padahal, tahun kemarin, kontraktor pengadaan dalam negeri berani menghargai gabah kering giling petani sampai Rp 1.400 per kg [baca: Panen Tiba, Harga Gabah Rendah].
Kondisi yang merugikan petani itu rupanya disadari betul oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Untuk itu, Mardiyanto meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jateng menyelamatkan harga gabah para petani. Yaitu dengan menerapkan sistem penjualan tunda gabah petani. Artinya, panen padi petani dimasukkan ke dalam penggilingan dan disimpan. Gabah baru dijual saat harga di pasaran sudah membaik [baca: Gubernur Jateng: Harga Gabah Harus Diselamatkan].(ZAQ/Arfan Yap Bano dan Agung Nugroho)
Suryana menambahkan, harga gabah kian tertekan karena musim panen raya tahun ini bersamaan dengan panen padi yang jatuh pada April hingga Mei ini. Produksi gabah kering tahun ini diperkirakan mencapai angka 52 juta ton. Kondisi ini masih diperparah oleh beras impor yang terus masuk ke Indonesia dan diperdagangkan dengan harga lebih murah.
Di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, dilaporkan beras impor asal Thailand dan Vietnam menekan harga beras lokal kualitas menengah hingga kisaran Rp 2.300 sampai Rp 2.700 per kg. Hal ini diakui para pedagang beras di Pasar Induk Cipinang. Menurut mereka, harga beras impor kualitas medium lebih murah yaitu Rp 2.200 hingga Rp 2.300 per kg. Untuk diketahui, total beras yang diperdagangkan di Pasar Induk Cipinang sebanyak 5.000-7.000 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 25-30 persen adalah beras impor.
Harga gabah nasional memang tak menentu menjelang panen raya. Di Karawang, Jabar, misalnya. harga gabah bisa merosot sampai kisaran Rp 1.000 per kg. Padahal, tahun kemarin, kontraktor pengadaan dalam negeri berani menghargai gabah kering giling petani sampai Rp 1.400 per kg [baca: Panen Tiba, Harga Gabah Rendah].
Kondisi yang merugikan petani itu rupanya disadari betul oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Untuk itu, Mardiyanto meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jateng menyelamatkan harga gabah para petani. Yaitu dengan menerapkan sistem penjualan tunda gabah petani. Artinya, panen padi petani dimasukkan ke dalam penggilingan dan disimpan. Gabah baru dijual saat harga di pasaran sudah membaik [baca: Gubernur Jateng: Harga Gabah Harus Diselamatkan].(ZAQ/Arfan Yap Bano dan Agung Nugroho)