Korea Selatan Sebut Mampu Memberi Respons Luar Biasa Jika Diprovokasi Korea Utara

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengkritik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang mendefinisikan hubungan antar-Korea sebagai dua negara yang bermusuhan.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 17 Januari 2024, 11:01 WIB
Presiden Yoon Suk Yeol di acara Parade militer perdana di Korea Selatan sejak 2013. (AP/Ahn Young-Joon)

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, pada Selasa (16/1/2024), berjanji akan membalas "berkali-kali lebih kuat" jika Korea Utara terus memprovokasi Korea Selatan.

Dalam rapat kabinet hari Selasa, Yoon Suk Yeol mengutuk tembakan artileri Korea Utara di dekat perbatasan maritim dan memperingatkan bahwa uji coba dan tindakan lebih lanjut dari Korea Utara akan ditanggapi dengan "respons yang luar biasa".

Yoon Suk Yeol juga mengkritik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang mendefinisikan hubungan antar-Korea sebagai dua negara yang bermusuhan. Demikian seperti dilansir VOA Indonesia, Rabu (17/1)

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), media pemerintah Korea Utara, melaporkan pada hari Senin (15/1) bahwa negara itu telah membubarkan lembaga-lembaga penting pemerintahan yang mengelola hubungan dengan Korea Selatan.

Eskalasi di Semenanjung Korea Mengkhawatirkan

Layar TV menampilkan gambar peluncuran rudal Korea Utara saat program berita di Stasiun Kereta Seoul, Seoul, Korea Selatan, Selasa (19/12/2023). Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengancam akan melakukan "tindakan yang lebih ofensif" untuk mengusir apa yang disebutnya meningkatnya ancaman militer pimpinan AS setelah ia mengawasi uji coba ketiga rudal tercanggih negaranya yang dirancang untuk menyerang daratan AS, media pemerintah melaporkan pada Selasa. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Memburuknya hubungan lintas batas baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat Korea.

Dalam laporan yang diterbitkan pekan lalu oleh proyek 38 North yang berbasis di AS, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS Robert Carlin dan ilmuwan nuklir Siegfried Hecker mengatakan situasi di Semenanjung Korea lebih berbahaya daripada yang pernah terjadi sejak awal Juni 1950, sesaat sebelum dimulainya Perang Korea.

"Itu mungkin terdengar terlalu dramatis, tapi kami yakin, seperti kakeknya (Kim Il Sung) pada tahun 1950, Kim Jong Un telah membuat keputusan strategis untuk berperang," ungkap keduanya, seperti dilansir The Guardian.

"Kami tidak tahu kapan atau bagaimana Kim Jong Un berencana melakukan aksinya, namun bahayanya sudah jauh melampaui peringatan rutin di Washington, Seoul, dan Tokyo mengenai 'provokasi' Pyongyang."

Dalam pertemuan Partai Buruh Korea akhir tahun lalu, kantor berita Yonhap melaporkan, Kim Jong Un telah menggambarkan Korea Utara dan Korea Selatan sebagai dua negara yang saling bermusuhan.

Infografis Pesona K-Pop Mendamaikan Korea

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya