Liputan6.com, Semarang: Bila musim panen padi datang, tak serta merta berarti kebahagiaan bakal total dinikmati para petani. Maklum saja. Harga gabah acap naik turun tanpa kepastian yang jelas. Kondisi itu disimak betul oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Buktinya, baru-baru ini di Semarang, dia meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jateng untuk menyelamatkan harga gabah para petani, khususnya menjelang musim panen padi, awal Juni mendatang.
Menurut Mardiyanto, langkah tadi ditempuh dengan tujuan menstabilkan harga gabah di tingkat petani. Targetnya adalah untuk melindungi para petani di Jateng supaya tak merugi. Memang, sejumlah kabupaten di wilayah tersebut telah menerapkan sistem penjualan tunda gabah petani. Artinya, Mardiyanto menambahkan, panen padi petani dimasukkan ke dalam penggilingan dan disimpan. Gabah tadi baru akan dijual di saat harga di pasaran sudah membaik.
Sejauh ini, Mardiyanto mengaku Pemerintah Provinsi Jateng sudah menyiapkan dana sebesar Rp 2,5 miliar untuk menyelamatkan harga gabah. Satu di antaranya adalah dengan menyediakan fasilitas mesin giling, agar petani tak selalu bergantung pada terik matahari.
Dari sektor tata niaga beras, Mardiyanto berharap jajaran Depot Logistik setempat mau pro aktif dan bekerja jujur, sehingga lembaga itu benar-benar berpihak kepada petani. Satu langkah yang bisa ditempuh, Dolog diminta menggunakan beras lokal untuk menyalurkan beras untuk masyarakat miskin, dan tak lagi menggunakan beras impor. Artinya, distribusi beras impor mesti dibatasi.
Kekhawatiran Mardiyanto memang beralasan. Berdasarkan pemantauan SCTV, petani padi di beberapa pusat penghasil padi di Jateng diperkirakan tak akan menuai rupiah meski panen tiba [baca: Panen Tiba, Harga Gabah Rendah]. Kawasan itu meliputi Kabupaten Pati, Kudus, Grobogan, dan Kabupaten Klaten. Buntutnya, para pedagang besar-lah yang bakal meraup keuntungan.
Selain itu, bila panen raya datang, pasokan yang berlimpah pun bisa membuat harga beras di pasaran merosot tajam. Tak heran bila para pembeli banyak yang mendatangi langsung para petani, ketimbang berbelanja ke pasar beras [baca: Memasuki Panen, Pasar Beras di Daerah Sepi].(BMI/Solikun)
Menurut Mardiyanto, langkah tadi ditempuh dengan tujuan menstabilkan harga gabah di tingkat petani. Targetnya adalah untuk melindungi para petani di Jateng supaya tak merugi. Memang, sejumlah kabupaten di wilayah tersebut telah menerapkan sistem penjualan tunda gabah petani. Artinya, Mardiyanto menambahkan, panen padi petani dimasukkan ke dalam penggilingan dan disimpan. Gabah tadi baru akan dijual di saat harga di pasaran sudah membaik.
Sejauh ini, Mardiyanto mengaku Pemerintah Provinsi Jateng sudah menyiapkan dana sebesar Rp 2,5 miliar untuk menyelamatkan harga gabah. Satu di antaranya adalah dengan menyediakan fasilitas mesin giling, agar petani tak selalu bergantung pada terik matahari.
Dari sektor tata niaga beras, Mardiyanto berharap jajaran Depot Logistik setempat mau pro aktif dan bekerja jujur, sehingga lembaga itu benar-benar berpihak kepada petani. Satu langkah yang bisa ditempuh, Dolog diminta menggunakan beras lokal untuk menyalurkan beras untuk masyarakat miskin, dan tak lagi menggunakan beras impor. Artinya, distribusi beras impor mesti dibatasi.
Kekhawatiran Mardiyanto memang beralasan. Berdasarkan pemantauan SCTV, petani padi di beberapa pusat penghasil padi di Jateng diperkirakan tak akan menuai rupiah meski panen tiba [baca: Panen Tiba, Harga Gabah Rendah]. Kawasan itu meliputi Kabupaten Pati, Kudus, Grobogan, dan Kabupaten Klaten. Buntutnya, para pedagang besar-lah yang bakal meraup keuntungan.
Selain itu, bila panen raya datang, pasokan yang berlimpah pun bisa membuat harga beras di pasaran merosot tajam. Tak heran bila para pembeli banyak yang mendatangi langsung para petani, ketimbang berbelanja ke pasar beras [baca: Memasuki Panen, Pasar Beras di Daerah Sepi].(BMI/Solikun)