Liputan6.com, Jakarta Tahun 2023 menjadi momen yang kurang mengenakkan bagi perusahaan di China. 100 merek ternama di Tiongkok mulai dari minuman keras hingga bank komersial harus mengalami penurunan nilai aset sebesar 4,5 persen pada tahun 2023.
Penurunan tersebut imbas perusahaan China terpukul melemahnya sentimen konsumen dan prospek ekonomi yang suram. Ini terkuak dari penelitian terbaru yang dilakukan Hurun, perusahaan Konsultan yang terkenal dengan China Rich List.
Advertisement
Melansir laman SCMP, Senin (24/12/2023), Hurun menemukan bahwa aset tak berwujud dari 100 merek lokal paling sukses di Tiongkok dengan sejarah setidaknya 60 tahun bernilai total 9,43 triliun yuan (USD 1,32 triliun) pada tahun 2023, dibandingkan dengan 9,87 triliun yuan pada tahun sebelumnya.
"Penurunan ini disebabkan oleh tekanan deflasi pada perekonomian Tiongkok karena lesunya permintaan domestik yang terus mengganggu pasar konsumen," kata Eric Han, Manajer Senior di Suolei, perusahaan penasihat di Shanghai.
Menurut sebuah studi bersama yang dirilis Konsultan global Bain & Company dan pasar firma riset Kantar Worldpanel melaporkan, total pengeluaran untuk barang-barang konsumen seperti barang-barang yang dapat dihabiskan seperti makanan dan minuman, atau pakaian di Tiongkok turun 0,9 persen YoY selama kuartal ketiga tahun 2023.
Konsumen, yang dihantui kekhawatiran mengenai prospek pekerjaan di tengah prospek ekonomi yang suram, terus secara aktif mencari harga murah ketika membeli barang konsumsi seperti produk perawatan pribadi.
“Merek-merek terkenal juga menjadi korban dari perlambatan ekonomi, namun sejarah besar mereka dapat membantu mereka melewati gejolak ekonomi,” kata Han.
Nilai merek diukur dengan menilai harga premium yang dihasilkannya jika dibandingkan dengan produk atau layanan serupa namun tidak bermerek.
Merek Apa Saja?
Merek teratas dalam daftar tersebut antara lain penyuling minuman keras Kweichow Moutai dan Wuliangye Yibin, produsen obat Tong Ren Tang, operator jaringan restoran bebek panggang China Quanjude, dan China Construction Bank.
“Mereka telah membawa banyak inspirasi bagi merek-merek baru,” kata Rupert Hoogewerf, Ketua dan Kepala Peneliti Hurun Report.
“Penting bagi merek untuk belajar bagaimana mempertahankan tradisi yang telah lama ada dan menghindari tersingkir oleh pasar.”
Daya tahan, nilai aset tak berwujud, dan warisan budaya merupakan elemen kunci kesuksesan merek tersebut, tambahnya.
Yiyuanqing, merek cuka yang berasal dari Taiyuan, ibu kota provinsi Shanxi di Tiongkok tengah, memiliki sejarah nama terpanjang dalam daftar tersebut, yaitu 646 tahun.
Beberapa merek, seperti bank-bank besar, telah membantu membentuk perekonomian nasional Tiongkok selama satu abad terakhir, menjadikannya negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia saat ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, guochao, atau “China chic” – sebuah istilah yang mengacu pada meningkatnya antusiasme terhadap fesyen dalam negeri – telah memberikan manfaat bagi ratusan perusahaan Tiongkok karena 400 juta konsumen berpendapatan menengah di Tiongkok menghabiskan banyak uang untuk minuman dan produk kosmetik di bawah naungan perusahaan pribumi.
Perang Dagang
Pada bulan Juni 2019, ketika perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat meningkat, teh susu yang dibuat merek manisan terkenal asal Shanghai, White Rabbit, dijual dengan harga premium hingga sekitar 2.000 persen, didorong oleh rasa kebanggaan nasional konsumen.
Beberapa konsumen bersedia membayar calo sebanyak 500 yuan untuk mencicipi teh susu, yang biasanya dijual seharga 19 hingga 23 yuan, karena mereka harus menghabiskan lebih dari dua jam mengantri untuk mendapatkan secangkir minuman terkenal tersebut.
Produk manisan rasa susu White Rabbit menjadi terkenal secara global pada tahun 1972, ketika Perdana Menteri Zhou Enlai mempersembahkannya kepada Presiden AS Richard Nixon.