Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan Bahas Program Pencurian Kripto Korea Utara

Amerika Serikat (AS), Jepang dan Korea Selatan membahas upaya kolektif untuk menanggapi penggunaan mata uang kripto oleh Korea Utara.

oleh Gagas Yoga PratomoDiperbarui 21 Desember 2023, 08:28 WIB
Pejabat keamanan nasional dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang berkumpul untuk mengatasi pencurian mata uang kripto di Korea Utara serta program rudal nuklir dan balistiknya. (Foto: Unsplash/Traxer)

Liputan6.com, Jakarta - Pejabat keamanan nasional dari Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, dan Jepang berkumpul untuk mengatasi pencurian mata uang kripto di Korea Utara serta program rudal nuklir dan balistiknya.

Dilansir dari Coinmarketcap, Kamis (21/12/2023), pertemuan tersebut mencakup peninjauan kemajuan inisiatif trilateral, seperti komitmen untuk berkonsultasi mengenai krisis regional dan pembagian data pertahanan rudal balistik. 

Mereka juga membahas upaya kolektif untuk menanggapi penggunaan mata uang kripto oleh Korea Utara untuk mendanai program WMD ilegalnya.

Komunitas internasional telah memantau dengan cermat aktivitas terkait cryptocurrency di Korea Utara. Pemerintah AS sebelumnya menuduh Lazarus Group, entitas peretasan yang terkait dengan DPRK, mencuri lebih dari USD 600 juta dari Jembatan Ronin Axie Infinity pada 2022.

Kantor Pengendalian Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa pencampur kripto yang diduga digunakan oleh peretas Korea Utara untuk mencuci dana curian. 

Baru-baru ini, OFAC menambahkan dua alamat kripto yang terkait dengan pencampur Sinbad ke daftar sanksinya, dan lembaga penegak hukum dari berbagai negara menyita situs web Sinbad. 

Daftar sanksi OFAC juga mencakup alat privasi Tornado Cash, yang dituduh mencuci lebih dari USD 100 juta atau setara Rp 1,5 triliun (asumsi kurs Rp 15.675 per dolar AS) mata uang kripto curian.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Grup Peretas Korea Utara Bertanggung Jawab Atas 20% Kerugian Kripto

Ilustrasi crypto, kripto atau perdagangan kripto. Foto: Freepik

Sebelumnya diberitakan, menurut laporan baru oleh platform keamanan blockchain Immunefi, kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara, Lazarus, bertanggung jawab atas kerugian lebih dari USD 300 juta atau setara Rp 4,6 triliun (asumsi kurs Rp 15.528 per dolar AS) dalam insiden peretasan kripto pada 2023, mewakili 17,6% dari total kerugian tahun ini.

Dilansir dari Yahoo Finance, Selasa (19/12/2023), Grup Lazarus bertanggung jawab atas beberapa serangan siber terbesar selama dekade terakhir, terutama dalam industri kripto yang sedang berkembang. 

Pertama kali mendapatkan ketenaran setelah serangan siber terhadap Sony Pictures pada tahun 2014, Lazarus mulai menargetkan protokol kripto, mencuri miliaran dolar, termasuk USD 600 juta atau setara Rp 9,3 triliun dari peretasan Ronin Network pada bulan Maret 2022, sebuah jembatan yang digunakan oleh game Web3 populer Axie Infinity.

Meskipun komposisi pasti dari Grup Lazarus masih belum diketahui, dua pembelot Korea Utara mengatakan kepada Al Jazeera pada 2011 pendidikan dimulai di institusi baik di dalam maupun di luar Korea Utara, dengan beberapa peretas bekerja di luar negeri dari Tiongkok atau Rusia. 

Pada 2023, investigasi yang dilakukan oleh Wall Street Journal menemukan perampokan digital yang dilakukan oleh peretas Korea Utara telah menghasilkan lebih dari USD 3 miliar atau setara Rp 46,5 triliun, yang digunakan untuk mendanai sekitar 50% program rudal balistik negara tersebut.

Lazarus meluncurkan lima serangan yang berhasil pada 2023, termasuk pencurian senilai USD 70 juta atau setara Rp 1 triliun dari bursa kripto CoinEx yang berbasis di Hong Kong pada September. 

Pada saat itu, perusahaan analisis blockchain Elliptic menemukan sebagian dana yang dicuri dari CoinEx dikirim ke alamat dompet kripto yang sebelumnya digunakan oleh Lazarus untuk mencuci dana.

 

Kepemilikan Kripto Grup Peretas Korea Utara, Lazarus Group Sentuh Rp 724,3 Miliar

Ilustrasi Kripto atau Penambangan kripto. Foto: Freepik

Sebelumnya diberitakan, data terbaru menunjukkan penurunan substansial dalam kepemilikan mata uang kripto Lazarus Group, sehingga menyoroti keterlibatan mereka dalam serangan siber. 

Secara kolektif grup peretasan Korea Utara yang terkenal, Lazarus Group, dilaporkan memiliki sekitar USD 47 juta atau setara Rp 724,3 miliar (asumsi kurs Rp 15.412 per dolar AS) dalam bentuk mata uang kripto, menurut data yang dikumpulkan oleh Dune Analytics, yang bersumber dari 21.co, perusahaan induk dari 21Shares.

Portofolio aset digital grup ini mencakup USD 42,5 juta atau setara Rp 654,9 miliar dalam Bitcoin, USD 1,9 juta atau setara Rp 29,2 miliar dalam Ether, USD 1,1 juta atau setara Rp 16,9 miliar dalam Binance Coin (BNB), dan tambahan USD 640.000 atau setara Rp 9,8 miliar dalam stablecoin, terutama BUSD.

Pengurangan signifikan dalam kepemilikan mereka menjadi jelas jika dibandingkan dengan USD 86 juta atau setara Rp 1,3 triliun yang dimiliki oleh kelompok tersebut hanya beberapa hari setelah dugaan keterlibatan mereka dalam peretasan Stake.com, yang terjadi pada tanggal 6 September.

Dune Analytics memberikan wawasan tentang 295 dompet yang terkait dengan Lazarus Group, sebagaimana diidentifikasi oleh Biro Investigasi Federal (FBI) AS dan Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC). 

Anehnya, data menunjukkan bahwa grup tersebut tidak memiliki koin privasi apa pun seperti Monero (XMR), Dash, atau Zcash (ZEC), yang terkenal dengan peningkatan anonimitas dan kesulitan untuk dilacak.

Meskipun kepemilikannya berkurang, dompet kripto Lazarus Group tetap sangat aktif, dengan transaksi terbaru tercatat pada 20 September.

“Kita harus mencatat bahwa ini adalah perkiraan batas bawah kepemilikan kripto Lazarus Group berdasarkan informasi yang tersedia untuk umum,” kata 21.c0 dalam laporannya, dikutip dari Coinmarketcap, Kamis (28/9/2023). 

Serangan Siber Lazarus Group

llustrasi Kripto atau Crypto. Foto: Freepik

Grup Lazarus telah mendapatkan ketenaran karena keterlibatannya dalam berbagai serangan siber, termasuk serangan baru-baru ini terhadap pertukaran kripto CoinEx, yang mengakibatkan kerugian setidaknya USD 55 juta atau setara Rp 847,6 miliar. 

Selain itu, FBI telah menghubungkan kelompok tersebut dengan peretasan Alphapo, CoinsPaid, dan Atomic Wallet, yang secara kolektif berjumlah lebih dari USD 200 juta atau setara Rp 3 triliun dana curian pada 2023.

Berbeda dengan serangan siber tingkat tinggi yang mereka lakukan, data terbaru dari Chainalysis mengungkapkan penurunan pencurian kripto yang signifikan sebesar 80 persen oleh peretas yang terkait dengan Korea Utara dibandingkan 2022. 

Pada pertengahan September, kelompok-kelompok ini telah mencuri total USD 340,4 juta atau setara RP 5,2 triliun dalam mata uang kripto, turun dari aset digital curian senilai USD 1,65 miliar atau setara Rp 25,4 triliun yang memecahkan rekor pada tahun sebelumnya.

Dalam perkembangan yang memprihatinkan, otoritas federal Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan tentang risiko signifikan dari potensi serangan terhadap entitas sektor kesehatan dan kesehatan masyarakat AS yang dilakukan oleh Lazarus Group. 

Hal ini menggarisbawahi ancaman berkelanjutan yang ditimbulkan oleh kolektif peretasan terhadap infrastruktur penting dan industri sensitif.

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya