Harga Minyak Dunia Susut, Kekhawatiran Inflasi Jadi Biang Keladi

Harga minyak dunia kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan Januari turun USD 2,71, atau 3,80%

oleh Arief Rahman HDiperbarui 13 Desember 2023, 07:22 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun hampir 4% karena data inflasi memicu kecemasan di kalangan pedagang. Kecemasan jika Federal Reserve mungkin tidak siap untuk menurunkan suku bunga.

Harga minyak dunia kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan Januari turun USD 2,71, atau 3,80%, menjadi USD 68,61 per barel. Harga minyak Brent kontrak Februari turun USD 2,79, atau 3,67%, menjadi USD 73,24 per barel.

Saat pasar saham AS mengabaikan data inflasi terbaru, pasar minyak justru melihat adanya kekhawatiran. Indeks harga konsumen naik tipis 0,1% pada bulan November setelah tidak berubah pada Oktober. Sementara harga meningkat 3,1% dari tahun lalu, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.

"Para pedagang khawatir bahwa The Fed tidak dapat mengendalikan inflasi dan harus terus meningkatkan laju suku bunganya," kata Phil Flynn, Analis di Price Futures Group.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan awal bulan ini jika “terlalu dini” untuk membahas penurunan suku bunga. Dia bahkan mengindikasikan bahwa bank sentral siap menaikkan suku bunga jika diperlukan.

Flynn mengatakan kepercayaan pasar minyak telah hancur setelah tujuh minggu berturut-turut mengalami kerugian.

Harga minyak turun karena rekor produksi di AS, Kanada, dan Brasil bertabrakan dengan melemahnya perekonomian di Tiongkok, sehingga meningkatkan kekhawatiran di kalangan pedagang bahwa pasar mengalami kelebihan pasokan.

Permintaan Tahun Depan

Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Permintaan minyak tahun depan diperkirakan sekitar satu juta barel per hari lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pasokan. Ini diungkapkan Wakil Ketua S&P Global, Daniel Yergin.

“Selama penawaran dan permintaan mendominasi, Anda akan mendapat tekanan penurunan harga,” kata Yergin.

Beberapa anggota OPEC dan sekutunya seperti Rusia telah berjanji untuk mengurangi pasokan sebesar 2,2 juta barel per hari pada kuartal pertama tahun 2024. Namun, para pedagang ragu bahwa kelompok tersebut akan memenuhi pemotongan tersebut.

Yergin mengatakan OPEC+ menghadapi pilihan apakah mereka terus mengurangi pasokan atau melepaskan minyak ke pasar untuk membiarkan harga turun dan melemahkan produksi di negara-negara di luar kelompok tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya