Inul Makin &quotDigoyang&quot, Pendukung Datang Menghadang

Puluhan artis di Jakarta menggelar konferensi pers bersama untuk mendukung Inul Daratista. Dari Surabaya, sejumlah artis penyanyi dan pelawak menggalang dana untuk Rhoma supaya segera pensiun.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 April 2003, 20:24 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Fenomena goyang ngebor ala Inul Daratista berpolemik di negeri ini. Kecaman dan dukungan bergulir terus, kendati belakangan semakin tak imbang. Buktinya, puluhan artis di Ibu Kota Negara sengaja menggelar konferensi pers bersama di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (30/4), untuk mendukung penyanyi dangdut yang tengah diprotes keras Rhoma Irama, sang Raja Dangdut. Dalam pertemuan itu, para pekerja seni tadi menyatakan penilaian bahwa pencekalan terhadap Inul adalah bentuk pengekangan terhadap seni dan pelanggaran hak asasi manusia.

Suara mendukung pemilik predikat Ratu Ngebor itu hadir bukan dari sembarang nama. Sebut saja Ratna Sarumpaet, Jajang C. Noer, Butet Kertaradjasa, Jaduk Ferianto, dan Rieke Dyah Pitaloka. Bagi barisan penyokong kiprah Inul di Tanah Air itu, sikap yang ditunjukkan Rhoma adalah bentuk arogansi yang amat tak pantas.

Kendati menyatakan dukungan terhadap Inul, para artis ini tak berencana melakukan aksi lebih lanjut terhadap Rhoma, baik secara musyawarah atau secara hukum. Dalam acara tersebut, Rieke membacakan puisi yang ditulis sendiri oleh Inul. Puisi ini mengungkapkan kesedihan seorang perempuan asal Pasuruan, Jawa Timur, yang merasa dirinya terhalang untuk menggapai cita-cita.

Dukungan tak kalah gencar pun dilakukan sekelompok artis penyanyi dan pelawak Surabaya, Jatim. Puluhan penghibur itu menggelar aksi keprihatinan dan menggalang tanda tangan sebagai bentuk dukungan moral buat Inul Daratista, di trotoar jalan dekat perempatan Jalan Pemuda, Surabaya. Bagi mereka, aksi hiburan ala Inul yang dianggap segelintir golongan telah memicu tindak pemerkosaan dan merusak moral bangsa, sama sekali tak beralasan.

Sambil menggelar poster--yang satu di antaranya menyatakan: "Rhoma Irama Haram di Surabaya"--massa mengecam si Raja Dangdut yang telah memasung plus mematikan karier entertainer kelahiran 21 Januari 1979 itu. Kasus tersebut, dinilai secara tidak langsung telah melecehkan para artis asal Jatim. "Ini jelas ada kepentingan kelompok tertentu," ujar seorang lelaki yang sengaja tampil menandatangani selembar kain panjang sambil tak lupa bergoyang khas Inul.

Soal tudingan aksi Si Ratu Ngebor yang dinilai memancing tindak perkosaan dan sejenisnya, perwakilan pengunjuk rasa pun tak ketinggalan menyatakan pendapat. "Alaaah. Sebelum Inul muncul pun, perkosaan sudah banyak lagi. Di mana-mana juga ada-lah," kata seorang perempuan baya berkaca mata hitam, yang pasti hadir sebagai pendukung Inul.

Unjuk rasa damai itu juga bertujuan untuk mengajak masyarakat memboikot Rhoma Irama, jika berencana pentas di Jatim. Demonstrasi tersebut juga menyertakan aksi penggalangan dana, sebagai sindiran supaya Rhoma pensiun dari panggung dunia dangdut Tanah Air.

Barisan pendukung tak hanya berasal dari kalangan dunia hiburan, tempat Inul menjalankan profesinya. Sebab, suara senada pun pernah dilontarkan beberapa Wakil Rakyat [baca: Rhoma Menuding Inul, Anggota DPR Ramai-Ramai Membela]. Menurut mereka, goyangan Inul lebih bernuansa artistik. Bahkan, menurut bekas Presiden Abdurrahman Wahid, fatwa haram yang dilontarkan Rhoma Irama justru tak berdasar. "Saudara Haji Rhoma Irama telah mengambil peran berlebihan," kata Gus Dur [baca: Gus Dur: Rhoma Memasung Kemerdekaan Berekspresi].(BMI/Rieke Amru, Kawiyan, dan Taufik Maru)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya