Strategisnya Penggunaan Bahasa Daerah dalam Film untuk Pelestarian Budaya

Bahasa daerah dipergunakan dalam film yang bisa melestarikan budaya.

oleh Aditia SaputraDiperbarui 19 Agustus 2023, 19:25 WIB
Media visit pemain film Yowis Ben (Adrian Putra/Fimela.com)

Liputan6.com, Jakarta Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kekayaan budaya daerah dan bahasa dapat tergerus. Bayu "Skak" Eko Moektito, seorang youtuber, komedian, sutradara, dan penulis skenario, mengungkapkan dalam sebuah webinar berjudul "Penggunaan Bahasa Daerah dalam Film Indonesia," yang diadakan oleh Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) pada 15 Agustus 2023, bahwa menjaga kearifan lokal dan bahasa daerah menjadi esensial.

Bayu mengakui pentingnya melestarikan bahasa daerah agar akar budaya tidak hilang dalam gempuran modernitas. Ia mengungkapkan, "Jika kedaerahan kita terkikis, kita akan menjadi manusia yang lupa pada akar budaya!"

Webinar ini menyoroti urgensi mempertahankan bahasa daerah dalam ranah perfilman. Narasumber lain, Susi Ivvaty, seorang mantan wartawan harian Kompas dan kini aktif dalam Tradisi Lisan dan Lesbumi—Lembaga Seni dan Budaya di bawah ormas Nahdatul Ulama (NU), turut berbicara.

Seri kedua FFWI ini dihadiri oleh 57 peserta aktif dan dipandu oleh Supriyanto, wartawan dari Tabloid Bintang Indonesia.com.

 


Keberagaman Adat

Bayu Skak.

Dalam diskusi ini, ditemukan bahwa keberagaman adat dan budaya menjadi sumber inspirasi untuk berbagai genre film, termasuk yang berbahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah dalam film tidak hanya untuk tujuan komersial, tetapi juga sebagai bentuk hiburan. Bahkan, istilah dan dialek daerah dapat mengundang tawa penonton.

Selanjutnya, bahasa daerah dalam film juga berperan dalam melestarikan kekayaan bahasa daerah, yang semakin terabaikan dalam interaksi sehari-hari, terutama oleh generasi Z.

 


Menolak Tenggelamkan Identitas Daerah

Setelah sukses melahirkan box office Yo Wis Ben, Bayu Skak kembali dengan Lara Ati yang mengusung tema besar angan dan harapan yang kerap tak sejalan. Masih tayang di jaringan bioskop, para pemerhati film menyebut Lara Ati memperlihatkan kemajuan Bayu Skak dari aspek storytelling maupun teknik penyutradaraan. Film ini sayang untuk dilewatkan. (Foto: Dok. BASE Entertainment)

Bayu Skak menceritakan bagaimana ia berjuang untuk mendorong produksi film berbahasa daerah Jawa. Meskipun menemui penolakan di berbagai production house, ia menemukan dukungan dari produser Starvision Chand Parwez Servia yang tertarik dengan konsepnya. Meski ragu dengan penggunaan Bahasa Jawa, Bayu tetap optimis.

"Kalau film berbahasa Jawa ini tidak bisa meraih penonton sampai 500 ribu, honor saya tidak usah dibayar!" ungkapnya dengan semangat.

Kenyataannya, film "Yo Wis Ben" yang digarapnya berhasil menarik sekitar 900 ribu penonton. Keberhasilan ini mendorong produser untuk membuat sekuel seperti "Yo Wis Ben 2," "Yo Wis Ben 3," dan "Yo Wis Ben Finale." Bayu, yang memulai kariernya sebagai Youtuber, bangga bisa berkontribusi dalam memproduksi film berbahasa daerah. Film ini bukan hanya menghibur, tetapi juga berperan dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah.

Lanjut Baca:

Bayu merasa bangga bisa berbicara dalam Bahasa Jawa halus. Sementara, generasi Z cenderung menggabungkan Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Bayu mendorong para sineas dan produser untuk lebih aktif dalam memproduksi film berbahasa daerah. Menegaskan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam perfilman, Bayu menjelaskan bahwa dalam kosa kata daerah, penonton dapat menemukan idiom dan dialek khas yang memperkaya pengalaman budaya. Dia berkomitmen untuk terus mengembangkan film berbahasa daerah dengan variasi dialek seperti Bahasa Jawa Ngapak, Bahasa Madura, dan lainnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya