Liputan6.com, Jakarta: Kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka disinyalir memiliki banyak jalur untuk memasok senjata. Di antaranya lewat jalur Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Jalur laut sering digunakan GAM dalam menyelundupkan senjata dari beberapa negara, termasuk melalui perairan Indonesia. Demikian dikatakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, seusai mengikuti acara Serah Terima Jabatan Wakil KSAD dari Letnan Jenderal TNI Soemarsono kepada Letjen TNI Darsono di Markas Besar TNI AD di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (23/4).
Menurut KSAD, senjata GAM itu datangnya dari arah utara, seperti Kamboja dan Thailand melewati Laut Selatan, lantas melintas ke Batam atau melingkar ke Pulau Jawa. "Sekarang gini, mau percaya TNI atau GAM? TNI itu adalah alat negara sedang GAM itu musuh kita semua. GAM sudah membeli senjata banyak, rute-rutenya sudah dimuat di majalah," jelas menantu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno ini.
Menyoal rencana operasi militer di Aceh, Ryamizard mengatakan, TNI masih menunggu hasil sidang Joint Council atau Dewan Bersama di Jenewa, Swiss. Sidang JC yang akan digelar Kamis pekan ini adalah untuk mencoba menyelesaikan konflik Aceh dengan solusi damai. Ryamizard menegaskan, TNI akan tetap menghormati kebijakan yang ditempuh pemerintah [baca: Kasum: TNI Siap Melaksanakan Hasil JC Tokyo]. Saat ini, kata KSAD, TNI terus melakukan latihan agar masyarakat sipil tidak menjadi sasaran apabila operasi militer benar digelar. Satu yang pasti, TNI di Aceh tidak akan melakukan kekerasan, menembak atau perang jika GAM tak memulai.
Penegasan KSAD itu untuk menyikapi pernyataan Senior GAM di Komite Keamanan Bersama Sofyan Ibrahim Tiba. Berdasarkan informasi yang dirangkum Liputan6.com, Ibrahim Tiba menyebutkan bahwa sebagian senjata milik GAM diorder dari Jakarta. Namun dia menolak menyebut sumber senjata GAM tersebut. Tentu karena itu adalah rahasia GAM. Satu yang pasti, kata Ibrahim Tiba, banyak sumber di Jakarta yang bersedia memasok senjata buat GAM.
Di tempat yang sama, Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Pangdam Jaya) Mayor Jenderal TNI Djoko Santoso mengaku belum mengetahui tentang pengakuan GAM yang mendapat pasokan senjata dari Ibu Kota Negara. Djoko berjanji akan menyelidiki, termasuk akan dilakukan ke gudang-gudang persenjataan dan tempat-tempat "berbau" militer. Namun sejauh ini, Djoko mengatakan belum melihat indikasi ke arah sana.
Di tempat terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara A.M. Hendropriyono membenarkan ada pihak di Jakarta yang memasok senjata untuk GAM. Kebanyakan senjata-senjata tersebut didatangkan dari luar negeri melalui transaksi pasar gelap. Berdasarkan data BIN, selain dari Jakarta senjata gelap GAM dipasok berasal dari Thailand dan Filipina.
"Senjata gelap [milik GAM] itu saya kira bukan cuma dari Jakarta. Itu bisa didapat dari mana-mana pada jaman seperti sekarang ini. Apalagi pascaPerang Teluk I 1991 banyak sekali di luaran senjata-senjata ilegal," kata Hendro.
Upaya penyelundupan senjata yang diduga dilakukan kelompok GAM sempat digagalkan Satuan Tugas Marinir Rencong Sakti XVIII di perairan utara Jambo Aye, Aceh Utara, dua pekan silam. Seorang awak perahu tewas setelah terjadi kontak senjata di tengah laut. Sedangkan dua lainnya menceburkan diri ke laut [baca: Pasokan Senjata untuk GAM Dihadang Satgas Marinir]. Dalam penggeledahan di atas perahu ditemukan 12 pucuk senjata terdiri dari tiga pucuk AK popor lipat, lima AK47 popor kayu, empat pucuk pistol FN, dan sekitar 190 butir amunisi. Senjata-senjata jenis itu banyak digunakan anggota GAM.
Kesulitan mencegah atau mengantisipasi penyelundupan senjata ke Aceh sempat dilontarkan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Indroko Sastrowardoyo. Dia mengaku kesulitan karena sarana yang dimiliki TNI AL sangat terbatas [baca: Penyelundupan Senjata ke Aceh Sulit Diantisipasi]. Jumlah kapal patroli TNI AL yang sedikit diakui tidak mungkin bisa memantau perairan Indonesia. Namun itu tak berarti TNI AL putus asa. Untuk menanggulangi penyelundupan, TNI AL berencana membeli kapal produksi dalam negeri yang relatif murah tapi cukup berkualitas.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut KSAD, senjata GAM itu datangnya dari arah utara, seperti Kamboja dan Thailand melewati Laut Selatan, lantas melintas ke Batam atau melingkar ke Pulau Jawa. "Sekarang gini, mau percaya TNI atau GAM? TNI itu adalah alat negara sedang GAM itu musuh kita semua. GAM sudah membeli senjata banyak, rute-rutenya sudah dimuat di majalah," jelas menantu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno ini.
Menyoal rencana operasi militer di Aceh, Ryamizard mengatakan, TNI masih menunggu hasil sidang Joint Council atau Dewan Bersama di Jenewa, Swiss. Sidang JC yang akan digelar Kamis pekan ini adalah untuk mencoba menyelesaikan konflik Aceh dengan solusi damai. Ryamizard menegaskan, TNI akan tetap menghormati kebijakan yang ditempuh pemerintah [baca: Kasum: TNI Siap Melaksanakan Hasil JC Tokyo]. Saat ini, kata KSAD, TNI terus melakukan latihan agar masyarakat sipil tidak menjadi sasaran apabila operasi militer benar digelar. Satu yang pasti, TNI di Aceh tidak akan melakukan kekerasan, menembak atau perang jika GAM tak memulai.
Penegasan KSAD itu untuk menyikapi pernyataan Senior GAM di Komite Keamanan Bersama Sofyan Ibrahim Tiba. Berdasarkan informasi yang dirangkum Liputan6.com, Ibrahim Tiba menyebutkan bahwa sebagian senjata milik GAM diorder dari Jakarta. Namun dia menolak menyebut sumber senjata GAM tersebut. Tentu karena itu adalah rahasia GAM. Satu yang pasti, kata Ibrahim Tiba, banyak sumber di Jakarta yang bersedia memasok senjata buat GAM.
Di tempat yang sama, Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Pangdam Jaya) Mayor Jenderal TNI Djoko Santoso mengaku belum mengetahui tentang pengakuan GAM yang mendapat pasokan senjata dari Ibu Kota Negara. Djoko berjanji akan menyelidiki, termasuk akan dilakukan ke gudang-gudang persenjataan dan tempat-tempat "berbau" militer. Namun sejauh ini, Djoko mengatakan belum melihat indikasi ke arah sana.
Di tempat terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara A.M. Hendropriyono membenarkan ada pihak di Jakarta yang memasok senjata untuk GAM. Kebanyakan senjata-senjata tersebut didatangkan dari luar negeri melalui transaksi pasar gelap. Berdasarkan data BIN, selain dari Jakarta senjata gelap GAM dipasok berasal dari Thailand dan Filipina.
"Senjata gelap [milik GAM] itu saya kira bukan cuma dari Jakarta. Itu bisa didapat dari mana-mana pada jaman seperti sekarang ini. Apalagi pascaPerang Teluk I 1991 banyak sekali di luaran senjata-senjata ilegal," kata Hendro.
Upaya penyelundupan senjata yang diduga dilakukan kelompok GAM sempat digagalkan Satuan Tugas Marinir Rencong Sakti XVIII di perairan utara Jambo Aye, Aceh Utara, dua pekan silam. Seorang awak perahu tewas setelah terjadi kontak senjata di tengah laut. Sedangkan dua lainnya menceburkan diri ke laut [baca: Pasokan Senjata untuk GAM Dihadang Satgas Marinir]. Dalam penggeledahan di atas perahu ditemukan 12 pucuk senjata terdiri dari tiga pucuk AK popor lipat, lima AK47 popor kayu, empat pucuk pistol FN, dan sekitar 190 butir amunisi. Senjata-senjata jenis itu banyak digunakan anggota GAM.
Kesulitan mencegah atau mengantisipasi penyelundupan senjata ke Aceh sempat dilontarkan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Indroko Sastrowardoyo. Dia mengaku kesulitan karena sarana yang dimiliki TNI AL sangat terbatas [baca: Penyelundupan Senjata ke Aceh Sulit Diantisipasi]. Jumlah kapal patroli TNI AL yang sedikit diakui tidak mungkin bisa memantau perairan Indonesia. Namun itu tak berarti TNI AL putus asa. Untuk menanggulangi penyelundupan, TNI AL berencana membeli kapal produksi dalam negeri yang relatif murah tapi cukup berkualitas.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)